Mencari Islam di Amerika

Setelah membaca novel "Bulan Terbalah di Langit Amerika" sebagai sekuel "99 Cahaya di Langit Eropa", aku kembali menikmati fiksi terbaru karya suami istri Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra berjudul "Faith and the City". Novel ini melanjutkan kisah Hanum dan Rangga selepas pertemuan Azima Husseindan Philipus Brown dalam acara "Hero of the Year" yang sangat mengharukan. Ceritanya, ketika hendak kembali ke Wina, Hanum didatangi seorang presenter kawakan pujaannya Andy Cooper untuk magang selama 3 minggu di kantor GNTV. Sebagai jurnalis junior yang sedang mengumpulkan pengalaman sebagai sebuah pembuktian, Hanum tak bisa menolak. Mengabaikan kepentingan Rangga dengan Disertasinya dan hallain di Wina, Hanum memilih tinggal di New York dan mencicipi manisnya tawaran magang sebagai jurnalis level internasional. Hanum sangat ingin kemampuannya diperhitungkan, bahkan oleh suaminya.

Meski Hanum tak tahu bahwa Cooper hanya memperalatnya untuk menaikkan rating GNTV, perempuan itu merasa bangga. Ia mencoba berdakwah sebagai jurnalis ditengah megapolitan New York city yang membuat banyak orang bermimpi meraih sukses di kota 24jam ini. Maka bersama Samuel, Hanum mulai melakukan pekerjaannya dengan melakukan wawancara pada keluarga-keluarga Muslim meski secara nurani apa yang ia lakukan sangat kontroversial dan menganggu. Ia yang membenci pencitraan dan setting dalam pembuatan sebuah acara, mencoba melakukan pembaharuan dengan menjadi produser acara Insights Muslim. Beberapa kali Hanum berhasil menampilkan kisah-kisah kebaikan Islam dan Muslim dari publik Amerika Ketika rating naik, Cooper senang, maka ribuan Dollar sebagai bonus mengalir ke rekeningnya. Hanum tenggelam dalam obsesinya dan upaya pembuktian dirinya. Semakin hari ia semakin pagi berangkat kerja dan semakin malam pulang.

Sementara Rangga yang sejak awal menolak mendukung Hanum berjuang sendiri untuk menyelamatkan Disertasinya, tanpa sepengetahuan Hanum. Ia juga kesepian dan kehilangan Hanum sebagai istri. Berbagai upaya dilakukannya agar Hanum kembali pada jalan lurus dan melupakan obsesinya tapi ia gagal. Rangga bahkan tak berhasil membujuk Hanum untuk kembalike Wina dan menulis tentang kisah yang diceritakan Azima yang kini bekerja paruh waktu di perpustakaan milik Brown. Rangga memutuskan untuk kembali ke Wina dengan atau tanpa Hanum. Ia berpikir mungkin saatnya cinta mereka diuji dengan perpisahan sementara. 

Ketika Rangga memutuskan untuk kembali ke Wina, justru Hanum sedang mendidih karena mendapatkan tantangan dari Cooper untuk mendatangkan Azima dan Brown dalam acara Insights Muslim karena ia yakin bahwa publik sangat ingin tahu bagaimana kelanjutan kisah mereka. Dalam kesulitan Hanum mendapatkan persetujuan Azima dan Brown, seorang remaja bernama Alex mengunggah video yang menyatakan bahwa acara Insights Muslim adalah sebuah pengelabuan terhadap publik Amerika dan dunia. Dengan penuh kebencian remaja itu menyatakan bahwa Hanum sengaja menampilkan kebaikan-kebaikan Muslim dan menutup-nutupi keburukan mereka.

Alex menjelaskan bahwa dalam waktu dekat ibunya akan menikah dengan seorang lelaki Arab yang maniak seks dan tukang kawin. Ia menolak pernikahan itu dan sangat menyesla ibunya pernah menampar dirinya di muka umum karena menjelak-jelekkan lelaki Arab yang akan dinikahi Ibunya. Sontak video itu menjadi pembicaraan dan Cooper meminta Hanum mendatangkan Alex ke studio untuk bersaksi, juga ibunya. Kampanye Hanum "My friend is a good Muslim" menjadi "My friend is a bad Muslim" dengan kehadiran video Alex. Jelas dunia menjadi jungkir balik.

Dalam sebuah kesempatan dimana GNTV berhasil mendatangkan Alex yang bersaksi bahwa Muslim itu buruk, Hanum kehabisan ide dan seakan-akan dunianya jungkir balik. Namun, keajaiban terjadi sebab saat itu lelaki yang disebut Alex sebagai maniak seks datang bersama ibunya dan seorang perempuan lain dalam ranjang. Faith namanya. Dalam acaranya ketahuanlah bahwa sebenarnya Alex adalah anak hasil perselingkuhan ibu Alex dan si lelaki Arab. Rencananya mereka akan menikah atas permintaan Faith yang sakit dan tidak bisa memiliki anak namun ingin harta suaminya diwariskan ke tangan anak kandungnya. Saat itu juga studio dan netizen gempar dan keterangan Alex terbukti keliru. Atas peristiwa ini Hanum diganjar kontrak seumur hidup dari GNTV. Tapi sayang, kegembiraan Hanum harus berbalas airmata sebab Rangga tengah meninggalkannya sendirian dan kembali ke Wina.

Hahum tahu ia berhasil dan ambisinya nyaris menuntuhkan cinta mereka. Karenanya kontrak seumur hidup dari GNTV itu telah cukup membuktikan kepada Rangga bahwa istrinya bukanlah jurnalis ecek-ecek, tapi telah mampu menaklukkan New York yang menjadi impian banyak orang. Maka ia mengejar Rangga ke bandara JFK. Dan bagi GNTV, pilihan Hanum untuk mengejar Rangga dna pulang bersamanya menjadi intisari dari acara Insights Muslim hari itu. Dan kini dunia menyaksikan bahwa kemegahan dan kegemerlapan New York yang telah membutakan Hanum tak berhasil memisahkan cinta mereka berdua. Well, happy ending...

Pesan penting novel ini adalah bahwa manusia seringkali terbuai dan tertipu oleh gemerlapnya dunia, dan lupa hakikatnya sebagai manusia. Karena itu manusia harus bekerja keras menantang dirinya sendiri agar tidak tenggelam dalam godaan itu, apalagi dengan mengorbankan manusia lain bahkan cinta. 

ISLAM DI AMERIKA 
Bagaimana sesungguhnya Amerika dan menolak menerima Islam, dan bagaimana perkembangan Islam pasca tragedi 9/11 yang mengguncang itu? Benarkan Amerika membenci dan menolak Islam? Publik Amerika sebagian menerima dan sebagiannya lagi menolak Islam. Dalam sebuah artikel di cbnews tahun 2010 ada lebih dari 20% responden yang menyatakan bahwa seorang Muslim tidak boleh terlibat dalam jabatan publik seperti Supreme Court. Sebagian dari mereka juga menolak dibangunnya Masjid sebagai representasi keberadaan dan penerimaan Muslim di wilayah Amerika. Pasca tragedi 9/11 Islam saja menjadi benturan antara dua kutub yang menerima dan menolak. Kita tentu sering mendengar dan membaca dari berbagai bahwa kebencian dan penerimaan publik Amerika teradap Islam semakin meningkat. Kebencian dan kekerasan menimpa Muslim Amerika, sekaligus mereka yang mulai belajar dan menerima. Bagiku ini sungguh peristiwa sejarah yang menarik dibalik kontroversi 9/11 yang belum terjawab sampai sekarang.

Yang menarik, pada Juli 2015 hasil sebuah riset merilis data mengenai angka kebencian publik Amerika terhadap Muslim dan Yahudi. Benarkah Muslim adalah korban terbesat kebencian dibandingkan Yahudi dan minoritas lain di Amerika? jangan-jangan data mengenai kebencian terhadap Muslim adalah hoak, dilebih-lebihkan atau malah dilakukan oleh kalangan Muslim sendiri. Riset dimulai dengan menampilkan data tahun 2010 dimana jumlah Muslim sebanyak 3 juta jiwa adalah setengah dari jumlah Yahudi yaitu 6 juta jiwa. Laporan 'hate crime' terhadap Muslim jumlahnya menurun dari 482 kasus pada 2001 menjadi 135 kasus pada 2013, sedangkan terhadap Yahudi ada 1.043 kasus pada 2001 dimana jumlahnya fluktuatif dan turun menjadi 625 kasus pada 2013. Jadi, berdasarkan jumlah kasusnya minoritas Yahudi menerima lebih banyak teror dan ancaman dibandingkan Muslim. Bahkan sebuah data menggambarkan bahwa pada 2013 terdapat 61% anti Yahudi, 13% anti Muslim dan 26% anti penganut agama lain di Amerika. Intinya, riset ini hendak membuktikan bahwa kebencian yang diterima Muslim Amerika cuma setengahnya dari kebencian serupa yang diterima Yahudi. Jadi, apakah Amerika membenci Islam?

Aku sebagai Muslim yang pernah belajar di Amerika. Saat photo bersama grupku di Fayetteville
Tahun 2015 publik dunia dikejutkan dengan pesan kebencian salah satu kandidat president Amerika yang dengan terang-terangan membenci Islam dna Muslim. Dalam sebuah artikel di CNN yang ditulis Holly Yan pada 6 Desember menyebutkan beberapa fakta tentang Muslim di Amerika yang seharusnya tidak menjadi kekhawatiran. Jumlah Muslim di Amerikanya kurang dari 1% penduduk dewasa Amerika dan pada 2050 diperkirakan jumlahnya hanya berkisar 2,2% saja; sebagian besar Muslim Amerika adalah kaum terpelajar dibanding kebanyakan penduduk Amerika, meski masih berada dibawah Yahudi; perempuan Muslim Amerika lebih terpelajar dan bekerja; sebagian besar Muslim Amerika lahir di Amerika; populasi Muslim tersebar di kota-kota besar dan kecil di seluruh Amerika dan masjid pertama yang dibangun di Amerika pada tahun 1929; Muslim Amerika sangat alim dan intelektual; sebagian besar Muslim menolak bahwa mereka mendukung tragedi 9/11 dan bahkan mereka sangat lantang menentang terorisme tersebut.

Hm, kadangkala sebuah narasi dan data tak cukup memuaskan dahaga kita. Mungkin jika ada kesempatan kita bisa berkunjung ke Amerika dan menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan Muslim disana. Dulu waktu sempat tinggal di Fayetteville, satu kota pelajar negara bagian Arkansas aku tidak mendapat tantangan apa-apa sebagai Muslim. Ada banyak pelajar Muslim disana, ada Islamic Center dan bahkan tempat penjualan daging halal. Bahkan di kampus University of Arkansas ada kajian khusus tentang Islam dan Timur Tengah yang didanai oleh kerajaan Saudi Arabia. Bahkan, orang-orang yang kutemui di jalan saat menunggu bus, berbelanja atau melakukan survey tidak ada yang menolakku. Kami mengobrol dengan santai tentang banyak hal. Mereka semua baik, alhamdulillah...

Depok, 12 Januari 2016
Bahan Bacaan:
http://www.cbsnews.com/news/does-america-hate-islam/ 
http://savethewest.com/hatecrimes/
http://edition.cnn.com/2015/12/08/us/muslims-in-america-shattering-misperception/ 
http://www.americanthinker.com/articles/2015/01/the_muslim_population_of_america_is_expanding_at_warp_speed.html

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram