Memaknai Kembali Serat Centhini


Dulu sekali, lupa kapan tepatnya, ketika pertama kali mendengar buku ini aku beranggapan sebagaimana sebagian besar orang. Bahwa Serat Centhini adalah kitab cabulnya Jawa kuno. Katanya, yang cabul-cabul harus dijauhi karena berbahaya bagi kesehatan otak dan merontokkan iman di dada.Saat cara pandangku masih hitam-putih, aku menjauhkan diri dari buku ini karena kuanggap berbahaya dan akan menggoyahkan imanku.Yah, sekaligus aku nggak peduli soal warisan literasi dan kultural Jawa meskipun aku punya darah Jawa. Lau, aku menyesal. 

Bulan Desember silam, aku tertarik memiliki dan membaca buku yang sudah digubah dan disederhanakan oleh Elizabeth D. Inandiak setelah melihat akun Instagram milik Dian Sastrowardoyo dimana aktris cantik itu tengah memamerkan buku ini sebagai salah satu bacaannya. Akhirnya aku memutuskan untuk membacanya terlepas dari apa isinya. Benarkah kecabulan yang parah dan membabi buta sebagaimana film porno yang disensor pemerintah atau bagaimana? sebab katanya buku istimewa dan kontroversial ini berisi riwayat soal penyebaran Islam di tanah Jawa yang melibatkan Wali Songo serta keturunan dan murid-muridnya. Juga hal-hal berkaitan dengan kehidupan masyarakat Jawa pada masa tak terbayangkan dizaman sekarang. 

Pertama-tama aku harus berterima kasih atas dedikasi perempuan Perancis Elizabeth D. Inandiak yang telah menerjemahkan 12 jilid Suluk Tambangraras yang berbahasa Jawa ke bahasa Perancis, kemudian kedalam bahasa Indonesia. Tahun 2008 Serat Centhini diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan menyapa kita semua. Pengetahuannya tentang bahasa Jawa mungkin jauh melebihi pengetahuan banyak dari kita, karena ia selama belasan tahun bahkan tinggal di Yogyakarta demi Serat Centhini yang menurutnya menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Kesabaran dan kecintaanya telah berhasil menghidangkan musik dan nyanyian kedalam narasi setebal 380 halaman. Ia meringkasnya agar kita menikmatinya dengan santai. 

Menurutku, secara garis besar kisah Serat Centhini (yang digubah dari judul aslinya Suluk Tambangraras) merupakan kisah perjalanan hidup manusia yang digambarkan dalam sosok Jayengresmi atau Amongraga, sang Putra Mahkota kerajaan Giri dan Tambangraras seorang perempuan cantik, cerdas, terhormat dan pujaan para pria. Ketika keduanya menikah, Amongraga pertama-tama menjadi imam untuk mengajarkan Islam kepada Istrinya yang belajar dengan setia selama 40 malam. Bayangkan, 40 malam! malam ke 41 barulah mereka melakukan hubungan suami istri. Tak ada nafsu yang membabi buta selama 40 malam pertama kehidupan mereka sebagai pengantin muda. Mungkin itu semacam pemanasan dalam Kamasutra Jawa? entahlah. Dan Centhini sang pembantu Tambangraras dengan setia mendengarkan pembelajaran dari Tuan Mudanya itu hingga ia mengawal Tambangraras dalam pencarian Amongraga dalam pengembaraan mencari kedua adiknya. Yang mengherankan memang, dalam kisah ini Centhini tiba-tiba menghilang diambil Tuhan dalam sebuah kesempatan ketika Amograga dan Tambangraras kembali bersama dan berbahagia bersama kedua adik mereka yang telah tumbuh dewasa. Siapa Centhini sebenarnya jika karya ini ditafsikan lebih jauh? 

Pernikahan keduanya berlangsung dalam proses pengembaraan panjang Jayengresmi dalam mencari kedua adiknya dan menghindar dari mata-mata Sultan Agung yang hendak menangkap mereka bertiga pasca Giri dibumi hanguskan dalam sebuah perang yang mengerikan. Ia sebenarnya telah menyarankan Sunan Giri menerima tawaran kerjasama Sultan Agung, tapi sang ayah memilih menerima nasehat putra angkatnya untuk berperang. Ketika perang berkecamuk dengan hebatnya, Jayengresmi dianggap melarikan diri dan membuat Raja Giri kecewa (yang kemudian diceritakan meninggal sebagai tawanan Sultan Agung). Diceritakan bahwa Putra Mahkota kerajaan Giri ini anak yang saleh, rajin ibadah, baik budi, berbakti pada orangtua, sopan dan memiliki pengetahuan yang luas baik mengenai Islam maupun ilmu umum. Ia diincar olah Tambangraras yang menolak banyak pinangan hanya demi menikah dengan pemuda yang segala-galanya jauh lebih baik dari ayahnya. Pernikahan mereka sangat ditunggu semua orang. 

Kitab porno? betul sekali memang banyak dijumpai ke-porno-an dalam kisah ini. Tapi sebenarnya kisah-kisah itu hendak memberitahu kita mengenai sikap rakus manusia akan kesenangan duniawi yang sebenarnya mereka paham itu sebagai dosa, kekotoran dan penyimpangan. Misal tentang seorang Raja yang tertarik pada ketampanan Cebolang dan melakukan hubungan homoseksual melalui anus. Tapi kemudian ia bertobat melakukan hal itu ketika posisinya ditukar sebagai korban, ia kembali pada Ratu dan selir-selirnya. Juga ketika para lelaki dan perempuan di suatu desa tiba-tiba menikmati tubuh mereka sendiri alias masturbasi karena terpesona oleh pertunjukkan yang ditampilkan Cebolang dan kawan-kawannya. Dan si Cebolang yang kabur dari orangtuanya ini adalah termasuk tokoh paling liar dalam kecabulan disini, dimana ia menceburkan diri dalam seks bebas yang ia tahu hina untuk mencari jati dirinya. Ia meyakini bahwa dengan semakin menceburkan diri kedalam kehinaan maka ia akan menemukan jati dirinya. Ia bersetubuh dengan siapa saja, baik lelaki maupun perempuan, baik rupawan maupun bruk rupa, lalu ia shalat, mengembara dan mencari ilmu lagi. Dan Cebolang ini dikenal berilmu pengetahuan tinggi, sopan, hormat pada yang tua dan sangat baik pada teman-temannya. Ada satu kegilaan si Cebolang dan seorang temannya dimana mereka persetubuhan secara bergiliran pada dua orang perempuan di area pesantren! Sampai kemudian ia lelah dengan perbuatannya, pulang kampung dan tergila-gila dengan putri Giri alias adik bungsu Amongraga.

Kecabulan-kecabulan itu menurutku hendak menceritakan soal moral masyarakat kala itu, yang merupakan bagian dari kehidupan mereka. Kita tak bisa menyatakan itu sebagai dosa -misal dalam konsep Islam- sebab pada masa itu ceritanya sedang dalam masa transisi budaya masyarakat Jawa yang Hindu dan Budha menuju Islam, dan sebagian masih menganut animisme. Dan dalam kisah yang panjang dan perlu ditafsirkan kembali ini, kecabulan itu umpama noda hitam dalam kertas putih. Tinggal kita memilih untuk melihat yang hitam atau yang putih sebagai yang dominan mempengaruhi jiwa dan pikiran kita. Selain itu, jika kita jeli maka buku ini berkisah tentang dua kutub erotika dimana Cebolang dkk melakukan seks bebas sementara Tambangraras dan Amongraga melakukannya dalam kemanunggalan cinta kasih suami istri. Jadi, pembaca dihadapkan pada gambaran kebebasan dan manner dalam seks masyarakat Jawa dimasa lampau. Bukankah benturan-benturan yang demikian masih dialami manusia sampai sekarang?

Memang hal-hal cabul dalam kisah ini sungguh menganggu alur cerita utama yang penuh pelajaran, perjuangan dan pengembaraan yang berat. Tapi mungkin juga tidak bagia sebagian pembaca. Karena itu, marilah berfokus bukan pada yang cabul, tapi pada keindahan pencarian akan jati diri, ilmu, kerendah hatian, cinta kasih, pengabdian, kesopanan, keindahan alam dan sejarah Jawa. Dan dalam konteks penyebaran Islam di nusantara khususnya Jawa, kita sebagai Muslim kiranya perlu melihat buku ini sebagai salah satu khazanah bagaimana Islam dianut dalam masa transisi itu dan bagaimana Islam diajarkan untuk kemudian sampai pada kita si keturunan kesekian dan kesekian. Dan bagi yang non-Muslim buku ini bisa sebagai pelajaran sejarah juga mengenai bagaimana masyarakat Jawa pada masa itu berubah memeluk Islam ditengah kepungan bukti kebesaran kebudayaan Hindu dan Budha, bukan?

Islam, Jawa dan Mitos
Membaca 'Serat Centhini' juga membaca satu masa dalam sejarah di pulau Jawa dimana Islam kadang-kadang dipraktekkan dengan murni sebagaimana diajarkan Walisongo, atau bahkan dicampur aduk dengan mitos bahkan sebagai kekuasaan jika sudah masuk ke ranah kerajaan. Ada potongan-potongan ayat Al-Qur'an, Hadits Nabi hingga kebijaksanaan-kebijaksanaan para pemuka agama sepeninggal Majapahit yang menyingkir ke hutan-hutan yang penuh rahasia. Kadang-kadang kening dibuat berkerut karena pertentangan antara Islam dan mitos dalam budaya Jawa, seperti penampakan Siti Jenar dalam bentuk anjing buduk yang menyampaikan kebijaksanaan, perubahan Tambangraras dan Amongraga menjadi ulat, meleburnya raksasa Yudhistira dan banyak hal lain. Ilmuku belum sampai untuk memahami berbagai peristiwa dalam buku ini, sebab banyak peristiwa bukan sekadar peristiwa melainkan sebagai penggambaran akan sesuatu yang lebih dari itu, sebagai kebijaksanaan yang mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah menyerap saripati pengetahuan dalam hidup. Karenanyaa, aku akan kembali membaca buku ini, membaca lagi sampai aku mengerti maksud tersembunyi didalamnya. Termasuk tentang akhir kisah yang menceritakan anak keturunan Sultan Agung, Amangkurat I sebagai reinkarnasi Amongraga yang berdarah dingin karena membunuh 5000 ulama. Serat Centhini berakhir dengan pertanyaan besar.... 

Buku tentang Kuliner Jawa dalam Serat Centhini

Hal lain yang menarik dala kisah ini adalah kuliner Jawa yang digambarkan mewakili 33 lokasi dari Jawa Timur hingga Jawa Barat. Sebuah buku yang khusus membahas Kuliner Jawa dalam Serat Centhini menceritakan bahwa ada berbagai jenis kuliner Jawa yang digambarkan sesuai kegiatan dan lokasi cerita. Misal kuliner dalam kegiatan sarapan, makan siang dan makan malam; kuliner pesta pernikahan; peringatan maulid Nabi; menjamu tamu; selamatan atau ruwatan; persembahan dan sebagainya baik makanan olahan maupun buah-buahan dan sayuran mentah siap santap. Beberapa jenis makanan bahkan masih ada hingga sekarang dan sudah dikemas modern sehingga mampu bersaing di pasar. Buku ini mencatat sebanyak 117 peristiwa dimana berbagai jenis kuliner dihidangkan di 33 lokasi di seluruh Jawa. Pada masa kini kuliner tersebut bisa kita jumpai dan nikmati dalam bentuknya yang masih tradisional maupun modern, misalnya tumpeng, jajanan pasar, gudeg dan sebagainya. Ah, betapa kaya kuliner warisan sejarah....

Inti dari buku ini adalah kisah perjalanan pencarian jati diri dan spiritual yang berat, pencarian kedalam diri yang terkadang memabukkan dan menyihir. Banyak tantangan dan godaan dalam menemukan diri sendiri dan hakikat Tuhan dan ajarannya yang kita yakini. Jadi, kalau membaca Serat Centhini dalam peristiwa cabulnya saja maka kita membaca kisah ini dengan cara yang keliru, sebab kecabulan disini tak ubahnya senampan cobaan pencarian jati diri dalam perjalanan panjang manusia menuju Tuhan dan pencarian tentang jati dirinya. 

Depok, 12 Januari 2016
Bahan bacaan: 
http://historia.id/budaya/meleburkan-seks-dan-mistik 
http://www.thejakartapost.com/news/2009/07/24/elizabeth-d-inandiak-all-things-javanese.html 
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbyogyakarta/2015/01/15/kuliner-jawa-dalam-serat-centhini/ 
https://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Centhini 
http://www.reocities.com/rakyatjawa/centhini/elizabeth.htm
http://www.goodreads.com/book/show/3702516-centhini 
https://seratcenthini.wordpress.com/category/elizabeth-inandiak/page/2/
http://latitudes.nu/love-sex-and-harmony-bedtime-stories-from-the-heart-of-java/

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram