PERLUKAN HIJAB FASHION TANAH AIR GO INTERNASIONAL?



Assalammu'alaikum,

Baru-baru ini ramai sekali di jagat maya yang memberitakan bahwa sebuah brand mewah dan kelas atas Dolce & Gabbana meluncurkan produk baru mereka yang menyasar perempuan Muslim, terutama perempuan Muslim Arab Saudi. Dalam artikel di situs CNN pada 8 Januari lalu, kontributor Allyssia Alleyne menyebutkan bahwa bahwa Dolce & Gabbana untuk pertama kalinya meluncurkan produk bergaya Muslimah itu untuk mempertegas keanggunan dan kecantikan para perempuan di Saudi Arabia. Koleksinya juga khas banget abaya dan hijab yang dipakai perempuan Arab, hitam dengan hiasan dan bordir yang mewah. Khas kalangan berkelas dan anggun. Koleksi ini katanya segera hadir di butik-butik mereka di Timur Tengah, Paris, Munich dan Milan. 

Keputusan mereka untuk menyasar komunitas Muslim bukan tanpa alasan. Katanya komunitas Muslim itu pada 2013 saja menghabiskan USDS266 triliun untuk berbelanja pakaian dan sepatu, dan diperkirakan akan meningkat menjadi USD$488 trilun pada 2019. Wah, belanja kokunitas Muslim besar juga ya. Dan ternyata mereka juga akan menyasar target di Russia, Jepang dan Cina. Jelas, perkembangan komunitas Muslim lumayan pesat di wilayah-wilayah itu. Pebisnis memang pandang mencium aroma uang ya. 

Bisa jadi berita ini menyenangkan banyak pihak, meski ada juga yang tidak menyambut semangat. Sebuah artikel yang ditulis Ruqayya Haris di theguardian.com misalnya menyebutkan bahwa cara D&G membuat produk baru di label mereka berbanding terbalik dengan anggapan sebagian besar masyarakat Barat akan abaya hitam perempuan Muslim yang selama ini identik dengan teorisme dan keterbelakangan, sebagaimana model pakaian ini dilarang di Perancis. Selain itu, perkembangan fashion Muslim sekarang menyesuaikan dengan budaya dimana komunitas Muslim berada sehingga tidak merujuk gaya perempuan saudi Arabia yang cenderung galmor dan khas kelas atas. Mereka juga tidak suka jika ide-ide perkembangan fashion Muslim dikendalikan Barat sebab selama ini komunitas Muslim telah berusaha meleburkan fashion Muslim dengan budaya setempat, dna mereka merasa diabaikan oleh label mewah itu. 


Dewasa ini busana Muslim memang diterima di banyak budaya dan menjadi salah satu 'the Rising Star' dalam perhelatan fashion kelas dunia. Meskipun fashion yang demikian bukan monopoli perempuan Muslim saja, tetapi juha Yahudi, Kristen dan agama-agama lain, tetapi selama ini memang sangat identik dengan dunia Muslim karena Islam mewajibkan penggunaan hijab. Perkembangan fashion di dunia Islam dipimpin oleh Turki, Indonesia, Uni Emirat Arab dan Iran. Meskipun saat ini industri ini masih skala kecil dan masih diproduksi secara terbatas di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Sehingga industri ini masih memerlukan dukungan pemerintah dan masyarakat internasional untuk terus berkembang dan menjadi kebanggaan internasonal dalam selera berpakaian yang anggun dan sopan. Indonesia sendiri sebagai negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia memang diakui sebagai salah satu yang mengalami perkembangan yang signifikan untuk industri ini. Ide-ide baru untuk memperkaya fashion Muslim yang bisa diterima secara internasional terus bermunculan dan banyak dipimpin kaum muda. Jelas, aku dan kita smeua patut berbangga.

Komunitas Muslim Indonesia yang pernah mengalami kesulitan dalam berhijab pada era Soeharto memang tengah mengalami kebangkitan dalam fashion hijab. Bahkan, sekelompk Muslimah yang bercita-cita membumikan hijab yang keren, simpel dan fashinable sangat rajin membuat photo dan video tutorial hijab yang mereka unggah ke media sosial sehingga menginspirasi banyak perempuan Muslim untuk berhijab. Selain itu, di Indonesia industri hijab tidak dimonopoli kalangan Muslim, tapi non-Muslim juga sebab pangsa pasarnya besar hingga ke Asia Tenggara dan Asia Timur. Dan memang hijab selayaknya bukan monopoli komunitas Muslim sebab pakaian sopan layak dikenakan oleh siapa saja. Pegiat industri ini sendiri bertekad akan berjaya di pasar internasional mulai tahun 2020.


Desainer Anniesa Hasibuan dan Dian Pelangi adalah dua contoh desainer hijab style asal Indonesia yang sudah go internasional. Dian bahkan diposisikan sebagai 1 dari 50 perancang muda yang paling berpenagruh di dunia versi BOF Magazine. Usianya baru 25 tahun dan rancangannya sudah diakui dunia internasional karena keren dan muda.
Hijab ala Indonesia misalnya yang tak melepaskan selera budaya lokal yang sangat kaya memang pantas masuk ke pentas internasional dan diganjar penghargaan, sebab memang kaya dan tidak monoton seperti gaya hijab pada masyarakat Timur Tengah. Hal ini tentu saja bisa menjelaskan kepada dunia bahwa fashion dalam dunia Islam bukan sesuatu yang kaku dan mengekang, tapi indah, anggun dan sopan dengan caranya sendiri. Dan memang Indonesia digadang-gadang sebagai pusat fashion Muslim dunia dimasa mendatang. 

Memang perlu ya industri hijab Go Internasional? perlu dong sebab dalam industri macam begini seorang desainer dan pebisnis bukan saja mengenalkan selera dan gaya mereka masing-masing dalam menciptakan keindahan, melainakn sebagai ajang promosi budaya. Bayangkan saja jika kelak corak budaya Indonesia akan mewarnai pasar fashion internasional, wah pasti bangga sekali dan sangat membantu pertumbuhan ekonomi rakyat. Kalau perlu, hijab tidak saja menjadi ikon fashion komunitas Muslim saja, juga jadi ikon keindahan, kesopanan dan keanggunan masyarakat modern. 

Depok, 17 Januari 2016

Bahan bacaan:
http://edition.cnn.com/2016/01/07/fashion/dolce-gabbana-muslim-hijab-abaya/
http://www.theguardian.com/commentisfree/2016/jan/11/dolce-gabbana-hijab-collection-muslim-women-western-fashion 
http://www.muslimeco.ru/eng/opubl/93/
http://jakartaglobe.beritasatu.com/archive/the-rise-of-the-muslim-fashion-industry-in-indonesia/ 
http://www.pri.org/stories/2015-10-07/hijab-fashion-so-popular-indonesia-non-muslim-designers-are-getting-it

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram