Diary of #WeSaveMoroMoro (7)


Assalammu'alaikum, 

#WESAVEMOROMORO DI MEDIA

Media sangat penting perannya dalam kampanye #wesavemoromoro dan aku sadar bahwa memiliki kawan-kawan yang bekerja di sejumlah media memberiku kemudahan akses agar satu kegiatan bisa diberitakan dan diketahui publik. Pun dengan #wesavemoromoro meski karena satu dan lain hal beritanya tidak massive. Sejujurnya dalam rencana awal aku hendak membuat beberapa tulisan mengenai kondisi pendidikan di Moro-Moro dan mengirimkannya ke sejumlah mediam baik media mainstream maupun media jurnalisme warga semacama Mojok.co dan Kompasiana. Waktu aku yakin bahwa sharing informasi mengenai isu pendidikan yang tertindas ini akan ramai. Sayangnya, laptpku ngadat dan berkali-kali harus masuk ICU. Sungguh menyebalkan! tapi meski demikian beberapa kegiatan smepat direkam oleh sejumlah media. Setidaknya, program ini nggak tenggelam dilibas berbagai isu yang datang satu persatu umpama kue lapis.

Yang paling memungkinkan adalah menggunakan jaringan kawan-kawan kantor berita Antara sebab setiap artikel di media ini menjadi rujukan media lainnya. Karena itu aku menggunakan Antara sebagai basis penyebaran informasi dan syukur kalau media lain ikut memberitakan. Untuk kegiatan di Bandung Antara dan Jejamo.com memberitakan sesuai denngan rilis yang kukirim. Sementara beberapa media lain menjadikan aktivitas seni seorang pantomimer Wanggi Hoed sebagai ulasan dalam memberitakan #wesavemoromoro dan menurutku ini bagus. Meski ada rasa kecewa ketika jaringan AJI tidak memberitakan kegiatan ini, atau mungkin para jurnalis yang kukirimi email sedang tugas keluar kota, tak ada signal dan tak membuka email, aku tetap semangat. 



Tak lama kemudian, dua jurnalis dari Tempo dan Kompas menghubungiku setelah mendapatkan rekomendasi dari kawan Oki di Lampung. Bagi kami para relawan, ketika media besar seperti Tempo dan Kompas turun tangan maka isu yang kami usung dianggap penting dan masuk kedalam isu nasional. Dan benar saja, berita ini sempat membuat heboh pihak Pemkab Mesuji. Kehebohan itu kemudian berlanjut pada sebuah status di facebook seorang PNS Pemkab Mesuji yang mencoba melakukan pembuktian lapangan bahwa informasi yang tertera di media mengenai masalah pendidikan di Moro-Moro sebagaimana yang kami beritakan tidaklah benar. Kami, maksudku aku dan kawan-kawan membiarkan saja postingan itu berlalu tanpa menanggapinya sebagai cara meredam keributan tak berguna di media sosial. 



Gayung bersambut, kampanye masuk ke ranah yang lebih luas. Pihak Kompas TV kemudian mengundangku dan beberapa pihak terkait untuk membahas masalah ini dalam program Kompasiana TV. hanya dalam waktu sehari saja, pihak Kompas TV telah berhasil menghadirkan pihak dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Kak Seto Mulyadi selaku pemerhati anak; pak Tisnanta selaku pakar hukum dari Universitas Lampung; dan aku sendiri sebagai wakil tim #wesavemoromoro. Dan menurut pengakuan banyak pihak yang menonton acara ini mereka merasa sedih akan nasib anak Moro-Moro dan terketuk hatinya untuk membantu. Dan sebenarnya aku berharap ada undangan dari televisi lain agar masalah ini dianggap serius secara nasional, dan aku berniat mendatangkan siswa atau guru dari Moro-Moro dimana mereka mengalami langsung masalah yang sedang diperbincangkan publik ini.


Masalah ini sebenarnya telah juga sampai ke meja Pak Menteri Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan ibu Siti Nurbaya selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dimana keduanya berjanji akan menurunkan tim ke lapangan sebelum mengambil keputusan. Aku dan kawan-kawan memang pernah mendengar tim dari Kemdikbud turun ke lapangan, tapi bukan bicara dengan masyarakat Moro-Moro apalagi anak-anak yang terancam putus sekolah, melainkan dengan pihak Pemkab Mesuji dan kepala sekolah induk dua SD yang menjadi sekolah induk SD di Moro-Moro. Kabarnya kedua kepala sekolah itu bahkan datang ke Jakarta untuk membahas masalah MoU pendirian bangunan baru yang gunakanya -katanya- untuk menampung siswa dari dua SD di Moro-Moro yang dalam waktu dekat akan ditutup oleh Pemkab (dilarang berkegiatan Belajar mengajar di Moro-Moro sebagai bagian dari kawasan Register 45). 

Sampai tahun berganti, belum ada kabar berita lagi mengenai apa sih hasil pembicaraan kedua menteri, apa isi laporan kedua tim yang ditugaskan ke lapangan dan keputusan apa yang akan diberlakukan bagi anak-anak Moro-Moro yang terancam putus sekolah itu. Baiklah, mungkin beberapa tulisan yang 'menganggu' perlu dibuat dan disebarluaskan oleh media untuk kesekian kalinya. Begitu seterusnya sampai anak-anak Moro-Moro diperhatikan dan ditentukan nasibnya....

Depok, 13 Januari 2016

Bahan bacaan:
http://www.jejamo.com/beragam-komunitas-dukung-gerakan-wesavemoromoro.html
http://www.pojoksamber.com/komunitas-rumah-bintang-bandung-peduli-nasib-anak-moro-moro/
http://wanggihoediyatno.blogspot.co.id/2016/01/seniman-pantomim-turut-beraksi-galang.html
http://edukasi.kompas.com/read/2015/11/17/11261941/Bahas.Penutupan.Sekolah.Di.Mesuji.Kak.Seto.Temui.BSNP.pada.Hari.Ini
http://nasional.kompas.com/read/2015/11/29/07450031/Kasus.Penutupan.Sekolah.di.Mesuji.Menhut.Minta.Dirjen.Segera.Kirim.Tim
http://edukasi.kompas.com/read/2015/11/17/10213151/Soal.Nasib.Ratusan.Siswa.SD.di.Mesuji.Ini.Komentar.Mendikbud
http://nasional.kompas.com/read/2015/11/16/09241021/.Tolong.Pak.Presiden.Kami.Ingin.Tetap.Sekolah.?page=1

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram