Diary of #WeSaveMoroMoro (6)


Assalammu'alaikum, 

Membangkitkan Kembali Semangat Komunitas! 

Baiklah, tulisan kali ini melompat dari edisi (5) yang belum selesai. Sebuah lompatan mungkin memang harus dilakukan dalam berproses menyusun puzzle demi puzzle dalam gerakan ini. Aku meyakini satu garis lurus dimana sebuah proses akan sampai pada satu titik yang bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya, sebagaimana halnya perjalanan hidup. Ketika aku memulai membangun ide ini di kepala, berdiskusi dengan beberapa teman dan kemudian melakukan kampanye maka sampailah disini: Bandung. Siapa menyangka kampanye gerakan #wesavemoromoro akan sampai ke Bandung dengan cara yang bahkan tak pernah terbayangkan? Aku saja merasa sangat terperanjat karena campuran antara keterkejutan, kegembiraan, harapan dan satu rasa yang tak terkatakan.

September silam, seorang bernama Niki Suryaman menghubungiku karena tertarik dengan kampanye #wesavemoromoro yang ia peroleh dari temannya via twitter. Kami lantas mulai melakukan diskusi via Whatsup! Beliau ternyata merupakan pegiat komunitas Rumah Bintang Bandung yang memang bergerak untuk memberikan pendidikan diluar sekolah bagi anak-anak kurang mampu ditengah pemukiman padat kota Bandung. Komunitasnya telah berdiri selama 12 tahun dalam membantu anak-anak disekitarnya untuk belajar sambil bermain. Setelah mempelajari kampanye #wesavemoromoro di situs www.kitabisa.com ia dan teman-temannya di Bandung kemudian mulai melakukan gerakan membantu mengkampanyekan gerakan ini di komunitas-komunitas di Bandung. Well, hasilnya cukup menggembirakan. 

Mereka memulainya dengan melakukan nonton bersama film "Jangan Tutup Sekolah Kami" yang dibuat oleh videografer Rio Songgority yang bisa diakses di Youtube. Mereka juga melakukan gerakan solidaritas tradisional dengan menempatkan kencleng (kotak donasi) di beberapa distro maupun penggalangan dana dalam pentas-pentas seni. Gerakan ini tidak semata-mata mereka lakukan untuk menggalang dukungan untuk Moro-Moro, juga dijadikan sarana komunikasi antar komunitas untuk kembali menguatkan solidaritas antara mereka di kota Bandung. 

Ketika di Bandung, dalam acara puncak penggalangan dana #wesavemoromoro yang diselenggarakan oleh komunitas Rumah Bintang and Friends
Bagaimanapun, di Bandung maupun di kota-kota lain di Indonesia, gerakan komunitas pernah mencapai kegemilangan dalam melakukan perubahan sosial. Dimana antara satu komunitas dengan komunitas lainnya saling menguatkan gerakan masing-masing disamping saling 'mendiskusikan' berbagai permasalahan sosial yang tengah terjadi. Karenanya, proses transformasi sosial berjalan dinamis dan setiap masalah yang terjadi dalam masyarakat mendapatkan perhatian serius. Dan #wesavemoromoro telah tersebar luas melalui jaringan dari mulut ke mulut, diperbincangkan dari satu komunitas ke komunitas lain, dibagi informasinya dari ponsel satu ke ponsel lainnya, dan didukung dengan berbagai cara. Gerakan yang awalnya ingin membantu soal kedaruratan ini kini menjadi isu yang diperjuangkan berbagai komunitas. Dan mereka adalah kaum muda!

Kami menggunakan layanan facebook, instagram, what's up dan twitter dalam mengkampanyekan #wesavemoromoro dan setidaknya hingga akhir tahun 2015 telah muncul ide-ide baru demi memberikan kegembiraan pada anak Moro-Moro yang terancam putus sekolah itu. Sebagai salah satu inisiator aku turut berbahagia, meski mungkin kontribusiku tak terlalu besar. Tapi membukakan pintu bagi datangnya kebaikan-kebaikan kaum muda sungguh membahagiakanku. Gerakan ini telah sampai pada gerakan membangun Rumah Baca untuk Moro-Moro! berbagai komunitas urun rembug untuk mewujudkan proyek ini. Keren kan?


Dukungan berbagai pihak untuk Moro-Moro
Project Bersama Rumah Belajar Moro-Moro dan lomba baca Puisi untuk Moro-Moro yang dipimpin kawan-kawan komunitas di Bandung.
Tidak ada niat baik yang bisa dijalankan sendiri. Kebaikan harus dibangun bersama-sama sebab kebaikan memang harus mendapat tempat di hati dan menggembirakan hati sebanyak mungkin manusia. Kabar terakhir yang kuterima adalah pembahasan soal Moro-Moro ini sudah sampai ke Jawa Timur.

Depok, 12 Januari 2016

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram