Boneka Anti Mainstream ala Ciprut Craft



Minggu pagi -dan sedikit gerimis- yang tenang mengawali kesibukan dan segudang rencana. Sebelum mandi dan melakoni banyak kesibukan, kali ini mau bahas soal craft yang lucu-lucu dan unik buatan anak Lampung. Jadi, pertengahan tahun lalu aku lihat di Facebook dan Instagram ada yang posting boneka-boneka lucu, yang unik, anti mainstream dan kupikir pembuatannya sangat rumit. Ternyata boneka buatan anak Lampung yang mulai menggeluti usaha membuat boneka, souvenir, bantal bahkan tas handmade alias buatan tangan. Desainnya lucu2 dan kabarnya setiap desain hanya dibuat satu buah dan the only one. Wow! Termasuk cukup berani juga berbisnis tanpa keinginan melipatgandakan produk demi keuntungan yang bisa membuat pemiliknya jalan-jalan ke Eropa.

"Awalnya itu hobi, bikin-bikin apa gitu disela-sela waktu senggang. Aku kan kerja juga. Jadi, resminya Maret 2012 ini Ciprut Craft berdiri. Alhamdulillah makin dikenal orang sekarang," ujar Siti Nur Aisyah, sang pemilik Ciprut Craft yang biasa disapa Ayis sewaktu kami ngobrol via Mesenger. Gadis imut kelahiran tahun 1988 ini ketika itu bekerja di salah perusahaan makanan dan merasa jenuh dengan rutinitas kantor. Karenanya daripada menjadi sinting, ia mencoba banting setir dan menjadikan usaha craft sebagai mata pencaharian utama. Apalagi, untuk kota Bandar Lampung usaha jenis ini termasuk baru dan sempat membuat Ayis deg-degan juga dalam memulai usahanya.



Yang paling menarik dari usaha ini adalah desain. Menurutku, perlu kreativitas dan imajinasi yang tinggi untuk menghasilkan boneka unik. Bayangkan saja, setiap bulannya Ayis biasa meluncurkan 8-12 karakter boneka dengan tema berbeda-beda. Misalnya tema huruf A-Z, maka boneka untuk bulan 'tertentu' dibuat dalam bentuk huruf-huruf dan dinamai berbeda. Setiap boneka nggak boleh ada yang kedua. Pokoknya hanya satu-satunya, sehingga menjadikan si 'pengadopsi' boneka nggak punya saingan. Apa nggak capek ya bikin desain mulu? "Inilah kelebihan Ciprut Craft. Setiap konsumen dan bonekanya memiliki hubungan istimewa. Setiap karakter dibuat hanya satu dan menjadi satu-satunya di dunia. Kami juga menerima pesanan karakter sesuai dengan keinginan konsumen," ujar Ayis dengan mantap. Nama "Ciprut" sendiri berasal dari nama panggilan Ayis sewaktu kuliah. Wah, ternyata nama panggilan berjodoh dengan rezeki. Aku turut senang mendengarnya.

Dalam upaya mengenalkan dan memasarkan produknya, Ayis tak lupa menggunakan sosial media seperti Facebook dan Instagram. Waktu pertama kali aku melihat postingan-postingan Ayis ini, aku merasa geli sendiri. Kok bisa ya ada yang kepikiran bikin boneka model begitu? Dan benar saja, dalam waktu tiga tahun Ayis dan boneka-bonekanya yang unik sudah dikenal banyak orang. Produknya bukan saja telah diadopsi ratusan orang di Lampung, tapi juga di pasar nasional. Ayis, juga menjalin kerjasama dengan toko "Icing Sugar" di Bandar Lampung dan "Ikwee Studio" di Yogyakarta untuk memasarkan produknya. Juga to toko online DecaDeco yang juga berlokasi di Yogyakarta. Harganya bermacam-macam sesuai dengan ukuran dan kerumitan pembuatan. Tapi, secara umum harganya dibawah Rp. 200.000 dan kupikir tidak mahal untuk para pecinta boneka dan barang-barang unik.

Oh ya, Ayis selain kreatif dan imajinatif, juga baik hati. Selain mendulang rupiah dengan menjual buah pikirnya itu tak lupa berbagi pada sesama. Akhir tahun lalu, ia mendonasikan tiga bonekanya untuk anak-anak peserta lomba baca puisi di Kota Bandung. Lomba itu sendiri diselenggarakan untuk meramaikan kampanye #wesavemoromoro yaitu proyect penggalangan dukungan publik untuk 400 anak di Moro-Moro, Mesuji, Lampung yang terancam putus sekolah. Selain itu, Ayis juga beberapa kali menjadi mentor dan fasilitator workshop pembuatan kerajinan tangan untuk untuk guru-guru PAUD di Bandar Lampung. Karena dedikasinya ini, beberapa media bahkan membuat liputan untuk Ciprut Craft (Temukan produk lainnya di: SINI)




Inspiring and brave! itu kata-kata yang tepat untuk Ayis. Ketika banyak sarjana begitu sibuk mengejar kesempatan menjadi pekerja atau pegawai pemerintah, Ayis justru sebaliknya, Ia berbalik 180 derajat dan memilih berjalan bersama hobi dan passionnya dengan kesadaran penuh. Ia melihat harapan untuk dirinya sendiri dalam membangun kerajaan bisnia, juga dalam meramaikan karya-karya usaha kecil menengah di Provinsi Lampung. Ia dengan berani berjalan menentang arus dan meyakinkan dunia bahwa kegigihan yang ia tanam akan berbuah manis dimasa mendatang.




Hm, kira-kira aku pesan produk apa ya ke Ciprut Craft? Rasanya pasti menyenangkan memiliki sebuah benda yang dibuat hanya untukku seorang dan hanya satu-satunya di dunia. 

Depok, 24 Januari 2016 
Bahan bacaan:
http://www.harianfajarsumatera.com/2016/01/umkm-ciprut-craft-produk-olahan-tangan.html
http://news.babe.co.id/4467221
http://forum.viva.co.id/indeks/threads/wanita-perintis-usaha-craft-pertama-di-lampung.1943004/

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Duh, ampe terharu baca tulisannya mbk Ika.. Nuhun ya mbk.. , Semoga makin banyak orang yg bisa menghargai barang handmade..😆😁

    ReplyDelete
  2. Ah, kamu bisa aja. Atau jangan2 nangis sampe mojok?

    Sukses selalu ya..

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram