365 Hari Bersama Gobind Vashdev



Assalammu'alaikum, 

Membaca judul tulisan ini mungkin akan ada yang mengira bahwa aku gila dan mengigau. Ya, anggap saja demikian sebab memang jangankan selama 365 hari, satu detik pun aku belum pernah bertatap mula langsung dengan lelaki ceking yang katanya sangat membumi ini. Tapi hei, dunia kan bisa dilipat dengan internet. Lelaki ini punya blog, Facebook, Instagram dan Twitter. Dia yang menyatakan diri sebagai pekerja hati alias Heartworker ini bisa ditemui 24 jam oleh siapa pun di dunia ini asal ada internet. Jadi, tak perlu harus ke Ubud, Bali sana untuk bertemu dengannya kecuali memang niat banget kesana nyambi bersiwata hehehe...

Belum sebulan aku mengenal Gobind Vashdev dari postingan seorang kawan di Facebook. Sejak membaca kalimat pertama dalam tulisannya tentang 'kehilangan' aku tertarik untuk membaca lebih banyak dan mencari di akun media sosial mana saja aku bisa menyelami makna hidup darinya. Lalu aku memfollow akun Instagram dan Twitternya, mengikuti postingan terbarunya dan menyelami maknanya. Jangan sampai ada inspirasi yang terlewat dari lelaki sederhana ini dan keluarga kecilnya. Sebab, sebagai manusia biasa yang 99%nya adalah kekurangan dan kelemahan, aku butuh suntikan-suntikan positif agar aku tidak ikut gila dalam masyarakat yang cenderung gila ini. 

Pertemuanku dengan lelaki sederhana ini sepertinya memang kehendakNya. Bagaimana tidak, pertemuan ini terjadi ketika bangsa ini sedang dirundung krisis mulai dari tragedi di Papua, pembunuhan aktivis lingkungan di Lumajang, bencana kebakaran lahan dan hutan di Sumatera dan Kalimantan, dan sebagainya dan sebagainya yang menimbulkan gelombang sumpah serapah nasional. Juga bersamaan dengan pernikahan super mewah sepasang selebriti tanah air yang memamerkan kebesaran pernikahan ala putri dan pangeran di sebuah istana entah dimana. There is a huge gap. Ada jarak yang pedih dan sakit antar satu peristiwa dengan peristiwa yang lain di negeri ini. Bagiku, semua itu nampak aneh, ganjil, absurd dan membuat kepalaku sakit.

Kata-kata sederhana Gobind menampar langsung ke ulu hatiku. Semua ilusi, katanya. Aku jatuh hati pada ide dan pandangan hidup lelaki ini, pada kata-katanya yang mengajak manusia sepertiku untuk melihat hidup dari kacamata batin yang bersih. Masuk dan mencari kedalam diri, demikian jalan yang ia tawarkan. Sebab semua yang kita impikan baik ambisi bagi diri sendiri dan kehendak untuk hidup dalam masyarakat ideal yang nampak jauh panggang dari api, adalah ilusi. Membersihkan batin sendiri dan membuat cermin didalam jiwa yang sejernih air untuk bisa melihat dunia yang kacau balau ini sebagai satu lapangan bermain. 


Gobind memiliki Tika Damayanti sebagai sahabat sepanjang hayatnya untuk memberi inspirasi bagi dunia. Sebagai pekerja hati dan aktivis sosial, pasangan ini bahkan mendeklarasikan kepada dunia tentang pandangan hidup mereka yang membumi dan anti kekerasan pada pesta pernikahan mereka 2 Oktober 2011 silam. Keduanya yang menghayati dan mengagumi jalan hidup Mahatma Gandhi sebagai tokoh anti kekerasan internasional menjadikan hari kelahiran Gandhi dan Hari Anti Kekerasan Dunia sebagai hari pernikahan mereka. Uniknya, mereka melakukan resepsi sederhana di satu pantai di Bali dengan bibit pohon sebagai souvenir pernikahan, selain kalender abadi yang diberi nama "Awareness Insight". Mereka menikah saat matahari terbit dan membebaskan para tamu menggunakan pakaian apa saja. Mereka membuat segala sesuatu menjadi sangat sederhana dan membumi. Demi melepaskan diri dari kebiasaan mewah dan membebani dalam tradisi pernikahan di tanah air. Satu kata, salut. 

Dalam proses membaca pandangan hidup Gobind dan Tika, misal ketika mereka memutuskan untuk menikah, aku menemukan satu pandangan yang unik dan berbeda. Sebelum menikah, keduanya mencari-cari makna mengapa mereka harus menikah. Mereka bertanya pada banyak orang mengapa harus ada pernikahan? apa tujuan menikah? dan setelah menelaah banyak pandangan yang umumnya sama tentang pernikahan dan membuat keduanya tidka puas. Pernikahan pada umumnya mengikat yang terpisah dan menyempitkan dua manusia yang sebelumnya bebas. Pernikahan pada sebagian besar orang sangat teknis menyoal tugas suami dan istri, dimana sebagian besarnya memenjara perempuan dalam rumah sebagai pekerja domestik sampai maut menjemput mereka. Pernikahan membunuh ide, hobi, perbedaan, keinginan dan banyak hal. Pernikahan layaknya kuburan yang menutup semua hal-hal indah dan mengurung sepasang manusia dalam jerat tugas tugas tugas dan tugas.

Dalam proses perenungan itu, Tika kemudian menemukan satu makna berbeda yang membuat mereka pun memutuskan untuk menikah. "The Purpose of our relationship is to lift our lives to the highest potential and at the same time, nurturing the spiritual growth of another," dan mereka mantap melanjutkan kisah cinta mereka ke jenjang pernikahan.


Tanpa kutahu, ternyata Gobind merupakan seorang pembicara dan aktivis terkenal (kemana aja lah aku selama ini????). Ia telah menginspirasi banyak orang karena gaya hidupnya yang sederhana dan membumi yang kemudian ditulis dalam sebuah artikel koran sebagai "Merajakan alam". Selain membuat kalender kehidupan yang penuh kata-kata bijak, ia juga telah menerbitkan sebuah buku berjudul "Happiness Inside". Aku belum membaca buku ini dan menebak bahwa buku ini berisi pengalaman-pengalaman atau pun anjuran bijak untuk memenukan jalan kedalam diri agar kebahagiaan kita tak bergantung pada materi dan dunia diluar diri kita. Bahwa manusia seyogyanya menjadikan hatinya sebagai sumber kebahagiaan dan melihat hal-hal diluar itu sebagai layaknya taman hiburan, bonus dari Tuhan yang sewaktu-waktu akan memanggil kita pulang. Uniknya lagi, Ia akan menanam satu pohon untuk setiap satu buku "Happiness Inside" yang terjual sebagai tanda terima kasih kepada alam. Ya, sebab kertas-kertas putih pembuat buku itu sendiri berasal dari pohon yang usianya minimal 5 tahun. 

Ah, tak perlu risau jika aku belum berkesempatan bertemu lelaki ini dan keluarga kecilnya untuk belajar tentang makna hidup. Setiap hari, selama 365 hari aku bisa membaca tulisan-tulisan bijaknya dalam kalender abadi melalui akun media sosialnya. Juga membaca tulisan-tulisan sederhana dengan makna sangat dalam dalam blognya di: www.gobindvashdev.com

Depok, 16 Oktober 2015

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram