Seharusnya Mahasiswa Malu Jadi Benalu

Seorang perempuan berusia 21 tahun, mahasiswi sebuah kampus ternama di Depok. Kuliah di jurusan keren pula, Manajemen. Sayangnya mahasiswi ini nampaknya kurang gaul. Sehari-hari, kalau tak sedang kuliah, ia menghabiskan waktunya nonton acara televisi dimana rata-rata acara yang ia tonton adalah tontonan sampah serupa gossip atau FTV bermutu rendah. Sekalinya channel tv dipindah ke acara berbahasa Inggris dia cemberut. Sering pula ia kena tegur ibu kosnya karena selalu menyetel televisi dengan suara keras yang menganggu kenyamanan tetangga, bahkan bermusik seakan di kamarnya sendiri. "Masa bodo," jawabnya saat ditegur.

Suatu hari seorang seniornya yang sudah lulus dari kampus itu menawarkannya kesempatan menjadi relawan di organisasi internasional semacam WWF dan Greenpreace. "Ada gajinya nggak?" tanya gadis itu. Si senior bilang tidak ada, kan namanya relawan bukan kerja. "Tapi, kalau kamu pernah jadi relawan di lembaga internasional kamu nanti bisa ketemu banyak orang loh, sekalian belajar bahasa Inggris. Siapa tahu dapat tawaran kerja juga disana setelah kamu lulus," ujar seniornya. Ia sebenarnya sebal melihat tingkah mahasiswa nggak ada kerjaan. Katanya mahasiswa tapi kok nggak berguna. 

"Nggak lah malas aku kalau nggak ada gajinya. Capek," kilah si gadis. Padahal si senior sedang membuka jalan untuknya. Si gadis mungkin masih polos, bahwa berbekal ijazah dari kampus ternama akan mengantarkan dia pada pekerjaan wah dengan gaji wah juga. "Hey," kata si senior. "Jangan menyepelekan kegiatan kerelawanan yang tidak bergaji loh, kamu bekerja membangun jaringan dan kesempatan kamu sendiri," tambah seniornya. Si gadis tetap menolak.

"Nanti aku minta tolong papaku aja carikan kerjaan," ujarnya bangga dengan papa yang bisa diandalkan. Si senior terbahak-bahak. "Oh, kamu anak papa ya?" ejeknya. Si gadis tersenyum. "Tapi kamu nggak bisa mengandalkan papa loh untuk bisa bekerja di lembaga internasional apalagi di lembaga-lembaga PBB yang gajinya sangat tinggi," kata si senior lagi. "Artis semacam Dian Sastro yang udah kaya raya aja dia punya kegiatan sosial loh, malah bikin yayasan untuk kasih beasiswa," kata si senior mengompori. "Tuh lihat Nadya Hutagalung, model professional cantik dan kaya raya, dia itu duta salah satu lembaga PBB loh untuk isu lingkungan,"

"Masa sih?" si gadis jadi penasaran. 
"Ya iya lah, buat kerja dengan posisi tinggi dan bergaji tinggi tuh perlu pengalaman. Kalau bermodal ijazah doang mah semua orang juga bisa," kata si senior lagi. Ia memancing si gadis untuk bertanya lebih jauh. Si gadis diam saja entah merasa banggsa dnegan dirinya atau merasa malu. "Coba deh kamu belajar bikin CV, curriculum vitae, apa poin pengalaman kamu disana?" si senior. Ia ingin si gadis paham bahwa tidak semua pekerjaan bisa mengandalkan 'papa' yang punya jabatan dan uang. Cuma mahasisw tanpa karakter yang masih menyusu pada papa bahkan setelah lulus kuliah.

"Atau gini deh, kamu jadi relawan ngajar buat anak-anak jalanan gitu. Di Depok ada sekolah Master buat anak-anak jalanan. Yakin deh pengalaman jadi relawan akan berguna buat kamu," bujuk si seniornya lagi. Si gadis tetap menjawab tidak karena alasan capek dan tak bergaji. Ih ,ales banget sih! "Kamu akan anak Manajemen, belajar manajemen dari menjadi relawan itu, siapa tahu nanti kamu punya perusahaan sendiri kan udah punya pengalaman praktek manajemen," dan di gadis tetap menjawab tidak. Ah, si senior dan si gadis sama-sama keras kepala. 

Hari-hari ini kita banyak menyaksikan mahasiswa yang semakin pemalas. Kerjanya cuma kupu alias kuliah pulang. Kalau tidak tidur di kosan mereka akan menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Giliran ada masalah dengan negeri ini mereka mencak-mencak sama Presiden. Ya elah dul!


Mahasiswa harus punya peran untuk lingkungannya
Kisah diatas adalah ilustrasi tentang mahasiswa pemalas yang kuliah di kampus bergengsi. Tipe mahasiswa anak papa yang tidak mau membangun jalan karirnya sendiri dengan susah payah sejak di bangku kuliah, melainkan menyusu pada papa yang bisa melancarkan semua urusan sebagaimana lancarya urusan transfer uang bulanan. Ia yang mungkin belum pernah mengalami sulitnya meraih pendidikan sebagaimana anak-anak miskin, tidak paham makna berjuang. Mahasiswa anak papa yang demikian inilah yang harus dirubah perspektifnya. Bahwa fungsi mahasiswa bukan cuma kuliah mengejar gelar dan numpang tinggal di kos-kosnan sekitar kampus, juga harus berguna bagi masyarakat dimana ia tinggal selama kuliah. 

Ibu penjaga kosanku bahkan sering mengeluh padaku tentang si A atau si B yang suka jadi pengacau atau yang sikapnya kurang sopan. "Katanya mahasiswa tapi kalau bicara sama ibu teriak-teriak, nggak sopan," ujar ibu kos tentang si A. "Si B pulang jam 1 malem gedor-gedor jendela kamar ibu, ibu biarin aja. Bodo amat dia mau tidur dimana. Kan udah peraturannya kosan dikunci jam 11 kenapa juga dia keluyuran sampe malem. Kalau mau seenaknya kan bisa tinggal di apartemen," keluh ibu kos lagi soal si B. Dan sebagai orang yang tidak pernah mencicipi bangku kuliah dengan pekerjaan rendah sebagai penjaga kos-kosan, ibu kos merasa tidak dihargai anak-anak kosan kami yang rata-rata mahasiswa. Ia menilai bahwa saat ini perilaku mahasiswa cenderung buruk dan tidak punya sopan santun, bahkan oleh mereka yang menyabet gelar "putri" kecantikan. 

Ya, nampaknya orientasi mahasiswa hanya untuk meraih gelar A,C,B tapi lupa sikap bersopan-santun terhadap orang-orang di sekeliling mereka. Mereka bicara hal-hala akademis dan keilmuwna di kampus, tapi menjadi pengacau kecil saat tinggal bersama masyarakat. Mereka juga mungkin lupa bahwa para penjaga kos-kosan adalah pengganti orangtua mereka yang memperhatikan keselamatan mereka selama 24 jam. Saatnya para mahasiswa kembali menemukan jati diri mereka sebagai pelaku perubahan (Actor of change) bukan sebagai benalu yang tidak tahu aturan seakan-akan tak pernah sekolah. Karena kos-kosan adalah rumah dimana mahasiswa tinggal selama belajar, selayaknya mereka bersikpa hormat kepada lingkungan sekitar sebagaimana mereka menghormati kedua orang tua mereka dan lingkungan kampus.

Depok, Agustus 2015

BACA JUGA

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram