ODE TO MY FATHER


Assalammu'alaikum, 

Alhamdulillah pagi ini baru kesampaian menyelesaikan film Korea "Ode to my Father" setelah kelupaan terus mau nonton. Film sedih ini sangat populer di tangga Box Office sejak peluncurannya pada 2014. Di Korea, pada minggu pertaman penayangannya film ini sudah disaksikan oleh sekitar 1,3 juta penonton yang menyaingi kepopuleran The Hobbit and the Five Armies. Kisah yang berawal dari perang saudara di Korea pada 1950-1953 hingga masa modern ini dikemas dengan sangat apik. Ada kesedihan yang tidak bisa ditampilkan dengan air mata. Tetapi sedih yang berdiam didalam dada, mengingat ada banyak kisah serupa yang mungkin terjadi pada keluarga kita atau orang-orang yang kita kenal. Film ini seperti hendak mengatakan bahwa kesedihan tak pernah hilang, ia hanya berganti wajah sebagaimana waktu membuat kita berganti rupa. 

Kisah ini adalah tentang lelaki bernama Yoon Deok-Soo yang kehilangan ayah dan adik perempuannya saat mengikuti evakuasi akibat perang korea di pelabuhan Hungnam tahun 1951. Ketika itu ribuan pengungsi dari Korea Utara berebut masuk ke kapal Amerika untuk mengungsi. Deok-Soo bertugas menjaga adik perempuannya Mak-Soon tetapi karena tubuh mereka kecil, pegangan tangan mereka terlepas, terseret-seret arus manusia lain yang sama paniknya. Ayah Deok-Soo turun dari kapal mencari Mak-Soon dan sampai kapal berangkat, ayahnya tak pernah naik. Ayahnya berjanji akan menemui mereka di sebuah toko milik bibi Deok-Soo di pasar internasional Busan, Korea Selatan. Sampai kemudian Deok-Soo bersama ibu dan dua adik lainnya telah tinggal di Busan atas bantuan bibinya, ayahnya tak pernah muncul.  


Sebagai anak pertama dalam keluarga tanpa ayah, Deok-Soo bekerja apa saja untuk membantu ibunya menghidupi keluarga mereka. Mulai dari menyemir sepatu sejak masih bocah sampai bekerja di pelabuhan sebagai kuli. Ia bahkan bekerja seperti kesetanan karena tuntutan kebutuhan, terutama karena kedua adiknya harus sekolah. Tetapi ia tak pernah mengeluh meski sangat lelah karena ia berjanji pada ayahnya untuk menjaga ibu dan kedua adiknya. 

Suatu hari pada tahun 1960, karena adik lelakinya membutuhkan biaya besar untuk masuk Universitas Seoul, ia bersama sahabatnya terpaksa menerima tawaran kerja sebagai buruh tambang batu bara di Jerman Barat. Tubuhnya yang terlatih sejak kecil dinilai cukup kuat untuk bekerja di negara asing. Berangkatlah ia ke Jerman bersama beberapa orang lain, dan sahabatnya Dal-Goo. Didalam tambang yang terpendam didalam bumi tubuh-tubuh putih Asia mereka berubah hitam seperti arang. Tak jarang mereka juga mengalami kecelakaan seperti karena tanah longsor atau ledakan gas metana. Namun kerja kerasnya yang berbayar cukup tinggi mampu membuatnya membelikan rumah yang cukup besar untuk ibunya dan membiayai kuliah adiknya.Dalam kesedihan yang acapkali ditumpahkannya dalam tangis diam-diam dimalam hari karena rindu kampung halaman, ia bertemu dengan seorang gadis Korea, Young-Ja yang bekerja sebagai perawat. Ia menemukan kebahagiaan baru di negeri asing. Bersama Young-Ja ia menghabiskan akhir minggu dengan tamasya dan makan makanan Korea. Tak lama setelah ia kembali ke Korea karena visanya habis dan tak bisa diperpanjang, Young-Ja menyusulnya dan mereka menikah. 

Tahun 1970an bibinya meninggal dan toko bibinya yang sebenarnya telah diwariskan padanya dijual pamannya secara sepihak. Ia sangat kesal karena toko itu menjadi satu-satunya harapan untuk bertemu dengan ayahnya. Karena itu ia terpaksa menerima tawaran kerja sebagai teknisi di kesatuan tentara Korean di Vietnam yang saat itu sedang dalam kecamuk perang. Meski ibu dan istrinya mati-matian melarang, tetapi ia butuh uang untuk membeli kembali toko bibinya dan menyiapkan biaya pernikahan adik bungsunya. 

Di Vietnam hidupnya tak mudah, ia sempat hampir mati karena sebuah peristiwa pemboman kantor kesatuan Amerika, hingga tertembak saat berusaha menyelamatkan warga yang menjadi tawanan geriliyawan Viet Kong. Tetapi dalam surat yang dikirimkannya pada istrinya, ia mengatakan bahwa ia memang bukan hidup untuk dirinya, tetapi untuk anak-anaknya. Ia tidak ingin kelak anak-anaknya mengalami apa yang ia alami semasa perang Korea atau dalam perang Vietnam. Ia juga meminta istrinya bersabar karena memang mereka dituntut demikian sebab lahir dan tumbuh pada periode sulit. 


Tahun 1975 perang Vietnam berakhir dan Deok-Soo kembali ke Korea dengan selamat. Ia berhasil membuka kembali toko bibinya dan berharap ayahnya datang. Saat itu juga sedang populer sebuah program televisi yang mempertemukan anggota keluarga yang terpisah selama perang Korea. Nyaris setap orang bergerombol menyaksikan program itu bersama-sama, menantikan kabar baru tentang tangis bahagia orang-orang yang menemukan keluarganya. Berharap bertemu kembali dengan ayah dan adiknya, Deok Soo pun mendaftar program tersebut. Pernah satu kali seorang lelaki tua mengaku sebagai ayahnya sebab namanya mirip dengan nama anak lelaki itu. 
 
Sampai kemudian, Mak-Soon yang telah tinggal di Los Angeles, Amerika dan telah menikah menemukan Deok-Soo melalui program itu. Mak-Soon yang terlepas dari genggaman Deok-Soo ditemukan oleh tentara Amerika, dibawa ke kapal dan dikirim ke panti asuhan dan kemudian diadopsi satu keluarga Amerika sampai ia lupa namanya dan tak bisa berbahasa Korea. Mak-Soon dan keluarga kecilnya kemudian datang ke Korea untuk mengadakan reuni keluarga. Setahun kemudian ibu mereka meninggal dunia.  

Sebagai lelaki yang bekerja keras sepanjang hidupnya demi keluarganya, Deok-Soo seharusnya bahagia. Apalagi ia dikelilingi oleh beberapa anak, menantu dan cucu yang membuat keluarganya sangat ramai. Ia juga memiliki ipar seorang Amerika dan seorang keponakan dari Mak-Soon. Tetapi, beban dihatinya tak pernah bisa dilepaskannya. Ia sangat rindu ayahnya dan memandangi photonya lama sekali sambil sesekali menciumi baju peninggalan ayahnya. Satu hari, saat ia telah sangat tua dan merasa lelah, ia berbicara pada istrinya dan berniat menjual tokonya. Ia sudah merelakan ayahnya yang mungkin telah kembali pada Tuhan. 


Film ini adalah gambaran dari kisah para korban perang Korea yang merindukan perjumpaan kembali dengan keluarga mereka. Hingga saat ini kerinduan semacam itu masih membelenggu warga Korea yang tumbuh dalam satu budaya tapi dipisahkan oleh ideologi. Juga bagi warga Korea yang diadopsi keluarga Amerika, dimana mereka merasa kehilangan akar budaya karena lupa nama mereka sendiri, nama keluarga dan bahasa ibu mereka.  Perang selalu menyisakan pedih dan merenggut banyak hal dari kita. Semoga kita terlindung dari yang demikian, amin. 

Depok, 4 September 2015

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram