MEREKA YANG TAKUT JATUH CINTA LAGI



Assalammu'alaikum, 

Pada masa sulit seperti sekarang ini dengan kemarau yang panjang, berita perang dimana-mana dan ekonomi bangsa yang morat-marit, bicara cinta mungkin akan menjadi penyejuk. Umpama segelas es teh di siang bolong. Cinta adalah sesuatu manis, yang sepanjang sejarah manusia tak pernah absen dari pembahasan dan analisa. Cinta telah menjadi inspirasi bagia banyak buku, novel, opera, drama hingga film. Cinta adalah udara yang kita hidup setiap hari dengan gembira.

Tetapi cinta juga memiliki sisi gelapnya sendiri. Mereka yang mengalami kisah sedih dalam cinta kadang-kadang menutup diri dari cinta, membiarkan mereka terkurung luka lama yang tak kunjung sembuh. Sulit bagi mereka untuk membuka hati dan menerima cinta baru. Sebab cinta bukan soal semburan kata-kata manis, tetapi cinta adalah tentang saling setia dan percaya. Karena sakit hati, banyak yang kemudian hanya diam dalam penantian dan tak bertemu cinta sepanjang hayat mereka. Mereka pun pulang kepada Tuhan sendirian. 

Adalah Nana, seorang perempuan berusia 48 tahun yang pindah dari kampungnya di sebuah pesisir di Sumatera karena menikahi lelaki yang tinggal di Bogor. Dulu Nana menikah muda dengan lelaki yang memiliki usaha pertambangan timah. Nana dan suaminya kemudian membangun sebuah rumah besar, memiliki beberapa motor dan mobil. Mereka memiliki 3 anak yang sangat mereka sayangi. Hidup mereka bahagia dan berkecukupan. Nana merasa hidupnya sudah cukup. 

Sayangnya, semua kebahagiaan Nana hancur lebur saat sang suami mulai memiliki perilaku buruk, yaitu bersenang-senang di diskotik dan dekat dengan seorang pelacur muda. Suaminya mulai sering berbohong bahwa usahanya agar seret dan pendapatan mereka berkurang. Ia juga sering tidak pulang ke rumah dengan alasan lembur. Usut-punya usut sang suami menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang dengan sang pelacur dan teman-temannya di diskotik. Nana yang tak percaya suaminya berlaku demikian melakukan investigasi bersama seorang temannya. Ia nekat menyamar sebagai pria, pergi ke diskotik dimana suaminya dikabarkan biasa bersenang-senang. Dan benarlah, ia melihat suaminya disana bersama beberapa pelacur. 

Puncaknya, pada suatu hari sang suami membawa pelacur itu ke rumah mereka. Sang suami menempatkan pelacur itu di kamar tamu dan mereka bersenang-senang tanpa merasa berdosa pada Nana dan ketiga anak mereka yang masih kecil. Hati Nana hancur berkeping-keping. Ia merasa tidak berharga sekaligus jijik pada suaminya sendiri. Berbagai upaya dilakukannya, bahkan dengan bantuan keluarga, namun sikap suaminya tak berubah. Nana akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumah itu tanpa membawa harta apa pun selain beberapa potong pakaian dan sedikit uang tunai. Meninggalkan seluruh kesenangan duniawi dan ketiga anaknya dengan hati hancur lebur. 

Naas bagi Nana ketika keluarga sang suami menuduhnya sebagai istri dan ibu yang tidak bertanggung jawab. Tindakan sang suami 'dimaklumi' sebagai tabiat nakal laki-laki yang memang terdapat pada semua laki-laki. Karena itu Nana tidak mendapat hak asuh atas anak-anaknya dan ketiganya dihasut agar membenci Nana sebagai ibu yang tidak bertanggung jawab. Nana hanya pasrah dan tinggal di rumah orangtuanya. 

Bertahun-tahun kemudian Nana bertemu dengan seorang pria asal Bogor dan mereka menikah. Sayangnya, pernikahan itu tak direstui keluarga suami Nana. Padahal Nana yang janda dan suaminya yang duda tak memiliki masalah. Toh, keduanya saling membutuhkan dan memiliki nasib yang sama. Sang mertua memprmasalahkan etnisnya yang sama dengan etnis mantan istri anaknya. Ia menganggap bahwa semua perempuan dari etnis Nana adalah buruk. Seteah beberapa tahun bersama, Nana kemudian harus menjalani pernikahan LDR dengan sang suami. Mereka kini hidup beda rumah. Namun sang suami tak mau menceraikan Nana karena masih mencintainya. Dan hidup Nana yang nelangsa diperparah dengan kanker rahim yang ia derita sehingga semua uang hasil bekerja habis untuk berobat dan melakukan operasi. Ia juga mendapat bos yang sangat pelit.

Nana berfikir bahwa jika suaminya yang sekarang menceraikannya, maka ia memilih untuk tidak jatuh cinta lagi, tidak menikah lagi. Ia hanya berkeinginan kembali ke rumah orangtuanya dan merawat ayahnya yang telah renta sekaligus merawat cucu-cucunya. 


***

Pada umur 28 tahun Vana menikah dengan pacarnya setelah mereka pacaran selama 7 tahun lamanya. Sebenarnya saat itu Vana ragu untuk menikahi pacarnya, tetapi keluarganya mendesaknya karena faktor usia. Apa lagi yang ditunggu, begitu nasehat orang-orang. Sayangnya, romantisme cinta dalam pernikahan Vana hanya berumur 2 tahun saja. Sang suami selingkuh dengan wanita lain. Vana yang kemudian menceraikan suaminya benci sebenci-bencinya pada mantan suaminya itu. Cinta selama tujuah tahun selama pacaran hangus dalam dua tahun pernikahan. Sejak saat itu Vana sulit untuk jatuh cinta lagi. Ia memilih sibuk dengan pekerjaanya. 

Satu kali Vana bertemu dengan rekan satu profesi. Sang teman sebut saja Jimmy jatuh hati padanya. Vana yang terlanjur sakit hati dengan mantan suaminya, agak sulit percaya bahwa Jimmy yang duda anak tiga akan jatuh cinta padanya dan ingin menikahinya. Vana yang telah berusia 35 tahun juga didesak oleh keluarganya untuk segera menikah lagi, toh dia sudah punya calon. Tetapi Vana yang masih trauma dengan pernikahannya yang lalu masih pikir-pikir. Ia beranggapan bahwa selama ini hidupnya setelah bercerai baik-baik saja, jadi untuk apa repot-repot menikah lagi. Ia takut gagal lagi. 

***
Menunggu cinta
Adalah Nakita, gadis baik hati yang masih sendiri menunggu cinta sejati. Ia pernah jatuh cinta beberapa kali, bahkan pernah mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Yah, namanya juga perasaan, siapa yang bisa melawan. 

Satu kali Nakita bertemu seseorang dan mereka jatuh cinta. Lelaki itu sebut saja Donny adalah sosok ideal yang selama ini ia impikan. Donny baik hati, ramah, pembelajar, pekerja keras, sayang keluarga, penuh perhatian, suka menolong orang, aktivis, peduli lingkungan, rapi, ganteng dan yang jelas ingin menikahinya. Nakita terlanjur jatuh cinta dan juga ingin menikahi Donny. Lelaki itu pun terang-terangan ingin menikahi Nakita didepan teman-teman mereka. Dia bilang dia membutuhkan Nakita dan tak bisa tak mencintainya. Hari-hari mereka indah dna penuh canda tawa. Cinta nampaknya adalah hanya kebahagiaan, kesenangan, dan canda tawa.

Tapi ternyata cinta mereka berada dalam jebakan klasik cinta beda agama. Baik Nakita maupun Donny enggan untuk saling berpindah keyakinan. Keduanya lama bertengkar soal itu dan mempertanyakan cinta yang ternyata tida lagi universal jika dihadapkan dengan agama. Nakita pun memilih melepas lelaki itu dengan perasaan hancur. Tiga tahun lamanya ia murung dan bertanya-tanya pada Tuhan mengapa mengirim Donny dalam hidupnya jika mereka kemudian dipisahkan begitu saja. 

Sejak meninggalkan Donny, Nakita belum bisa mencintai siapa pun. Belum datang padanya lelaki seperti atau lebih baik dari Donny. Maka Nakita memilih sendiri, menunggu ia bertemu seseorang yang memikat hatinya untuk bisa jatuh cinta lagi dan menikah. Ia tidak mau jatuh cinta pada sembarang pria sebab jatuh cinta pada orang yang salah hanya akan membuatnya menderita.  Sebab cinta tak segampang kata-kata. Cinta adalah rasa yang dikendalikan hati, yang kadang tumbuh tanpa diminta. Tiba-tiba. Nakita memutuskan menunggu menunggu cinta untuk menemukannya.

Depok, 20 September 2015

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram