Kisah Lelaki yang Menaklukkan Gunung Batu untuk Istrinya


Assalammu'alaikum, 

Kisah cinta selalu menjadi topik hangat sepanjang sejarah peradaban manusia. Ada tangis haru biru atas mereka yang memperjuangkan cinta agar hanya dipisahkan maut, untuk kembali sama-sama di surga. Tetapi ada juga yang menyerah ditengah jalan karena berharap terlalu manis pada cinta. Dianggapnya cinta cuma tentang manis dan senang saja. Ada banyak kisah cinta yang diingkari saat sang pecinta masih hidup dan berjuang berdarah-darah untuk cintanya, namun kemudian dikenang sebegitu rupa dan diagungkan setelah Tuhan menjemput mereka melalui kematian. Dari sekian banyak kisah cinta yang membuat kita menitikkan air mata dan jantung yang berdegup kencang, kukisahkan padamu tentang Manjhi dan Phaguniya serta bukit batu di sebuah desa miskin lagi terisolir nun jauh diseberang Samudera Hindia.

Tahun 1960, tepatnya 13 tahun setelah kemerdekaan India atas penjajahan Inggris, desa Gehlore, kabupaten Gaya, negara bagian Bihar masih berupa wilayah yang terisolir di wilayah bagian utara India sejak ratusan tahun. Tidak ada sekolah, rumah sakit maupun fasilitas umum lain karena tak ada jalan kesana. Orang-orang desa harus menembus pegunungan batu untuk bisa keluar desa atau berjalanan mengelilingi gunung. Orang-orang desa bekerja pada tuan tanah yang tamak. Barangsiapa melanggar titahnya, tak segan-segan akan mendapatkan siksaan kejam. Hidup di desa itu benar-benar menyedihkan. 

Adalah Dashrath Manjhi, lelaki yang lahir dari keluarga miskin dan dari kasta terendah yang seumur hidupnya mendapatkan penghinaan dari orang-orang dari kasta tinggi dan tuan tanah di desanya membuat perubahan besar. Dia disebut manusia tikus karena terlalu banyak makan tikus dalam hidupnya. Di desa itu, seseorang dari kasta tinggi memperlakukan manusia-manusia lain dari kasta rendah dengan sangat kejam. Mereka memukul, menendang, melempar dan mengajarkan anak-anak mereka melakukan hal demikian. Orang-orang miskin tak punya pilihan selain menurut agar tetap hidup. Namun, Mandji menolak takluk dan menghilang. 

Tahun 1982 Mandji yang begitu membenci gunung batu yang angkuh itu mulai melakukan tindakan gilanya. Ia berniat menaklukkan gunung itu dengan martil. Ia tak peduli meski seisi desa menyebutnya gila dan mencemoohnya seperti biasa. Setiap kali naik ke bukit batu ia mencemooh batu-batu dan mengatakan bahwa ia akan selalu datang untuk menghancurkan mereka. Ia menganggap bahwa batu-batu yang sangat keras itu sebagai musuh dan mereka akan melakukan pertempuran yang hebat dan panjang. Gunung batu yang keras lagi perkasa itu ia anggap ilusi. Harinya adalah lelah dan berdarah-darah, tetapi ia terus saja menghancurkan batu-batu sembari sesekali mengajak mereka berdebat. Di bukit batu itu hanya ada satu pohon saja tempatnya berlindung dari sengatan matahari saat ia merasa lelah.  

Manjhi dan Phaguniya
Memangnya mengapa Manjhi harus bersusah payah menghancurkan bukit batu itu sendirian? Suatu hari Manjhi dianggap melanggar tradisi dan oleh ayahnya yang miskin ia diberikan kepada tuan tanah sebagai budak. Tapi Manjhi menolak dan kabur ke Dalbard dan menjadi buruh di pertambangan batu bara. Tujuh tahun kemudian dalam perjalanan pulang ke desanya, Manjhi bertemu dengan gadis yang memikat hatinya, Phaguniya. Eh, ternyata Phaguniya merupakan tetangga di desanya yang telah dijodohkan untuknya oleh kedua orangtua mereka, dan mereka dinikahkan saat mereka masih berisia belasan tahun. Manjhi dan Phaguniya kemudian hidup dalam rumah kecil mereka yang penuh cinta. Manisnya kisah cinta mereka...

Pernikahan mereka bahagia dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Manjhi semakin bekerja keras sebagai buruh tani karena tak punya tanah untuk diolah sendiri. Suatu hari, saat Phaguniya sedang hamil anak kedua mareka, ia berjalan menaiki bukit untuk mengantarkan bekal makan siang pada Manjhi yang sedang bekerja memanen padi di wilayah dibalik gunung batu. Butuh dua jam untuk melewati gunung batu itu. Phaguniya berjalan menadki gunung batu. Sayangnya, Phaguniya kelelahan dan terpeleset. Ia terjun bebas dari bukit batu dan mengalami luka berat dan pendarahan hebat. Manjhi dan kakaknya berusaha membawa Phaguniya ke dokter dengan menandunya melewati bukit batu itu. Namun malang, karena pendarahan hebat Phaguniya tak tertolong lagi. Manjhi begitu patah hati dan marah paga gunung batu yang merenggut istrinya tercinta, meski bayi perempuan yang dikandungnya bisa diselamatkan dan dalam keadaan sehat.

Manjhi menganggap bahwa bukit batu itu harus ditaklukan agar tak ada perempuan lain bernasib seperti mendiang isrinya dan orang-orang desa bisa melintas dengan mudah. Sembari membesarkan kedua anaknya, ia mulai membuka jalan dengan menghancurkan batu-batu besar di bukit batu itu. Penduduknya desa menyebutnya sebagai orang sinting, tetapi ia tak peduli. Ia yakin suatu saat nanti ia bisa membuat jalan yang bahkan bisa dilalui oleh mobil dan orang-orang desa baru akan berhenti menyebutnya sinting. Sesekali ia bekerja sebagai buruh agar dapat membeli makanan ala kadarnya untuk kedua anaknya yang percaya bahwa Manjhi dapat membuat jalan diantara gunung batu itu. 

Desa Gehlore yang terisolir karena dibentengi gunung batu setinggai 300 kaki
Seorang jurnalis yang sering hilir mudik ke desanya untuk mengantar seorang anggota dewan tertarik pada kisahnya. Ia mulai mewawancarai Manjhi di tempat ia biasa menghancurkan batu-batu gunung. Sang Jurnalis menunggu saat dimana ia bisa menerbitkan satu headline di korannya saat gunung batu telah berhasil ditaklukan Manjhi. Meski kemudian Manjhi hanya tinggal di sendirian, ketika warga desa bermigrasi karena mereka mengalami krisis air. Sumur-sumur di desa kering, juga sungai-sungai kecil. Manjhi yang kelaparan dan kehausan sendirian tak begitu saja menyerah walau ia harus makan rerumputan. Ia begitu setia pada gunung itu dan baru akan berhenti jika jalan telah terbentuk. 

Tahun 1969, tepatnya 9 tahun sejak Manjhi memulai usaha gilanya membuat jalan dengan menghancurkan batu-batu di bukit warga desa mulai kembali dan mereka melihat sebuah penampakkan jalan mulai terbangun. Ayahnya yang selama ini selalu memakinya sebagai orang sinting mulai bisa melihat hasil pekerjaan Manjhi dan meminta maaf. Pada saat yang sama revolusi terjadi, dimamana kaun revolusioner mulai menganggu orang-orang kaya dan tuan tanah yang enggan mengimplementasikan hukum kesetaraan yang telah ditetapkan pemerintah Indina tahun 1960. Para revolusioner kemudian menggantung tuan tanah Mukhiya dan kemudian terlibat pertempuran dengan polisi. Orang-orang desa terbunuh, termasuk ayahnya. Langit desa dipenuhi dengan aroma mayat yang dibakar. 

Pada masa kampanye politik Indira Ganhdi atau pada tahun ke 16 Manjhi membelah bukit batu, beberapa orang memanfaatkan Manjhi untuk mengeruk keuntungan dari pemerintah. Mereka menggunakan cap jempol Manjhi untuk menipu pemerintah dengan dalih dana pembuatan jalan membelah bukit batu senilai dua juta rupe. Manjhi yang tak bisa membaca hanya berharap bahwa benar kepala desa akan memudahkan usahanya membuat jalan dengan bantuan Indira Gandhi. Manjhi yang telah menikahkan kedua anaknya kini tinggal sendirian di gubuk kecil di bukit batu, sambil mengenang kisah manisnya dengan Phaguniya, membawa gelang kaki Phaguniya kemana-mana dan berbicara pada bukit batu layaknya ia mengobrol dengan temannya. 

Pada tahun ke 20 Manjhi kemudian menemukan kecurangan kepala desa si anak tuan tanah yang digantung, menjual batu-batu yang telah dihancurkannya dan menikmati keuntungannya sendiri. Juga mengambil uang dari pemerintah untuk membantunya membangun jalan di bukit batu. Karena dicurangi dengan terang-terangan, ia pergi ke New Delhi untuk mengadukan masalah tersebut dengan berjalan kaki sejauh 1300 km karena tidak punya uang untuk membeli tiket kereta. Ia berjalan melewati berbagai sungai, keramaian, benteng, bahkan Taj Mahal yang sesungguhnya. Perjalanannya kemudian diikuti lebih banyak orang, pendemo yang menuntut perbaikan kebijakan dari Perdana Menteri. Saat di tua bangka yang lelah ini telah sampai di gedung pemerintahan, Ia ditolak tanpa sempat dipertemukan dengan Perdana Menteri. Manjhi pulang ke desanya dengan kecewa sampai-sampai ia berhenti membelah batu. 

Manjhi dan alat-alat sederhana yang digunakannya untuk menaklukkan gunung batu
Tahun ke 22, Manjhi yang lelah mulai mulai semangat lagi ketika sebagian warga desa mulai membantunya membelah batu, meski kemudian sang kepala desa lagi-lagi menjebaknya. Lelaki dari kasta tinggi dan licik itu melaporkan Manjhi pada otoritas terkait dan menuduhnya mencuri gunung batu milik negara dan menjual batu-batunya. Manjhi lalu dipenjara dan kepala desa sangat ingin ia dihukum seberat-beratnya. Tetapi Manjhi yang buta huruf dan buta politik tak tahu apa-apa dan bersedih hati dalam kepungan jeruji besi. Sampai sang jurnalis dan warga desa datang untuk membebaskannya dan membantunya menyelesaikan pekerjannya. Dengan kekuatan bersama mereka bisa membuka jalan dengan menyingkirkan batu yang paling besar. Saat jalan dibuka dengan resmi, warga desa menyalakan lilin, menabuh alat musik dan berpesta. Ia bisa melihat Phaguniya menari gembira bersama warga desa.

Dasrath Manjhi telah membuktikan cintanya untuk Phaguniya yang tidak bisa dihalangi gunung batu nan angkuh, tak bisa dihentikan langit, bahkan cinta yang tak pernah terbayangkan dalam imajinasi seluruh warga desa. Tahun 2007 Manjhi meninggal dunia pada usia 73 karena kanker kandung kemih.  Ia mewariskan sebuah jalan batu yang dikenang warga desa Gehlore dan India, dan mendapatkan kehormatan dengan dimakamkan secara kenegaraan oleh pemerintah di  Bihar. 52 tahun setelah pukulan pertamanya untuk memecah batu pasca kematian istrinya, Phaguniya; atau 30 tahu pasca ia menyelesaikan misi cintanya; atau 4 tahun setelah kematiannya (tahun 2011) Pemerintah India baru membangun jalan perintis itu dan menambah jalan baru sepanjang 3km untuk menghubungkannya dengan jalan utama.

Jalan yang dibuat Manjhi kini bisa dilalui para perempuan dan penduduk desa dengan mudah. Jalan ini dinamai Dasrath Manjhi Road untuk mengenang jasanya.
Artikel tentang Dasrath Manjhi sang "Mountain Man"
Kini tak akan ada lagi perempuan yang jatuh dari gunung batu dan mengalami kematian mengerikan lagi menyakitkan. Kematian Phaguniya telah memberi Manjhi energi untuk melindungi nyawa perempuan lain di desa Gehlore. Kekuatan cinta Manjhi telah memperpendek jarak antara wilayah Atri dan Wazirganj dari 55 km menjadi 15 km dan membuat warga desa menjalani aktivitas dengan mudah dan anak-anak bisa berjalan ke sekolah dengan gembira. Meski ia dikenal sebagai "Mountain Man" namun pemerintah India kemudian mengusulkannya untuk mendapatkan Padma Shree Award pada 2006 karena dedikasinya pada pelayanan Sosial. Namanya kemudian dijadikan nama jalan itu, juga nama sebuah rumah sakit di desa Gehlore.

Film besutan Ketan Mehta yang rilis pada Agustus 2015 ini manis, indah, juga keras dan penuh air mata. Meski telah didramatisasi dari kisah aslinya, tetapi pesan utama film ini telah sampai pada kita. Kisah yang mengajarkan kita bahwa tak seorang pun bisa jadi pahlawan dalam kehidupan ini. Untuk menjadi kuat, seseorang yang berbuat di jalan kebaikan tidak boleh buta politik apalagi buta huruf. Ia juga harus bisa berjejaring dengan orang baik lain agar pekerjaan melakukan kebaikan tak sia-sia ketika berhadapan dengan para pelaku kejahatan yang sangat kuat dan memiliki pasukan bersenjata. Sebab kebaikan yang dilakukan bersama-sama akan terasa ringan dan membahagiakan, daripada jika dilakukan sendirian saja.

Kisah ini juga memberikan kita gambaran paling jelas mengenai pemerintah yang kadang-kadang tak mengenal rakyatnya sendiri karena dibutakan kata-kata dan laporan pada pejabat picik lagi licik yang suka memanipulasi rakyat bodoh dan miskin. Di negara ini, ada banyak kisah manusia baik seperti Manjhi yang berjuang di jalan kebaikan dengan berdarah-darah yang tidak dikenal oleh pemerintahnya sendiri, malah sering jadi korban jebakan batman para politisi busuk. Bagaimana dengan kita? Ya, jika kita tak mampu menjadi "role model kebaikan" sebagaimana Manjhi, maka yang harus kita lakukan adalah menjadi barisan pendukung orang-orang yang berbuat kebaikan agar kebaikan dikenal dan menjadi inspirasi sebanyak mungkin manusia. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah Manjhi dan Phaguniya.

Depok, 15 September 2015

Wijatnika Ika

10 comments:

  1. Replies
    1. Saya aja nangis pas nonton filmnya. Sedih banget hiks hiks

      Delete
  2. kisah yang menggetarkan. begitu sabarnya pahlawan kita ini. menginspirasi.

    etapi di akhir tulisan saya baru sadar kalau ini adalah review film yang dibuat berdasar kisah nyata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ini film berdasarkan kisah nyata, pas masa pemerintahan Perdana Menteri Indira Gandhi. Pas nonton filmnya saya nangis bombay pokoknya.

      Delete
  3. Replies
    1. Terima kasih mba Rusydina sudah ikuta bersedih. Ayo cari filmnya di internet. Bagus buat edukasi cinta keluarga dan masyarakat. Saya aja nemu di satu website secara nggak sengaja.

      Delete
  4. Wahh..jadi pingin nyari filmnya..india suka dalam konfliknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Carilah mba Ade Anita karena filmya bagus dan mengharu biru

      Delete
  5. kisah yang bikin kita terpaku dan merefleksikan diri kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba Tira Soekardi, film ini sarat hikmah dan membuat yang menontonnya melakukan refleksi diri

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram