Kisah Kupu-Kupu Kecil Belajar Terbang


Assalammu'alaikum, 

Entah mengapa hari ini terus saja memandangi photo bapakku waktu beliau masih bujang dan photo ibuku masih sangat muda. Aku menggunting kedua photo mereka, dan menyatukannya kedalam satu pigura. Photo berusia puluhan tahun. Ayahku yang muda mengenakan setelah tahun 1980an, dan ibuku yang duduk di kursi rotan di sebuah studi photo, memangku tubuh mungilku di dekat dada kanannya. Aku yang gendut sedang menghisap jempolku. Sepasang mataku bulat dan jernih. Bagian dari tubuhku yang paling disukai orang-orang. Karena pada itu mereka melihat kedalam jiwaku.

Enam bulan lalu aku menempatkan guntingan photo mereka dalam satu pigura kecil. Kuletakkan di meja belajarku, dekat laptop. Aku bebas memandangi mereka kapan saja selagi aku menulis, menonton, makan dan melamun. Aku berusaha keras mengembalikan ingatanku pada peristiwa-peristiwa yang kualami bersama kedua orangtuaku sebelum umurku lima tahun. Aku hanya ingat beberapa hal. Pertama, saat hari hujan dimana aku merengek pada bapak untuk menjemput ibuku. Kaki kecilku menuruni tangga rumah panggung khas Lampung, membawa payung kecil pelangi, mencari ibuku. Saat itulah pertama kalinya dalam hidupku aku melihat Zebra atau Harimau. Aku lupa mana yang benar. Kedua, aku ingat pada sebuah rumpun salak yang tak pernah berbuah di dekat rumah panggung kami di Liwa. Ketiga, aku ingat suara kentungan saat kedua orangtuaku mengusir gajah. Keningku terkena pentungan bapak, setelah memarahiku dan membuatku menangis, aku tidur dalam selimut yang hangat. Selain tiga hal itu, aku lupa semua. Aku bahkan tak ingat semua peristiwa yang diceritakan keluargaku tentang masa-masa pertumbuhanku sebelum usia 5 tahun. 

Sepanjang 25 tahun aku merasa sangat sakit karena belum bisa memaafkan apa yang terjadi dalam keluargaku. Tetapi sekarang, ketika kupikir saatnya aku serius dengan keinginan untuk menikah, aku berusaha memaafkan apa yang terjadi. Tidak mudah. Sakitnya menggerogotiku lahir dan batin. Lebih dari semua sakit yang pernah kualami, bahkan sakit yang membuat rambutku rontok dan aku tak bisa makan-minum serta bicara. Dan mengapa aku harus berkisah dalam blog ini? Karena aku ingin berbagi pada mereka yang mungkin bernasib sama sepertiku, seperti dua orang teman yang kutemui di kota ini, yang mengalami kisah dan rasa sakit serupa. 

***

Tahun 1951, kakekku yang veteran tentara rakyat memboyong keluarga kecilnya dari Tasikmalaya ke sebuah lokasi transmigrasi di Lampung Barat. Waktu itu, wilayah ini masih termasuk kedalam kabupaten Lampung Utara, Keresidenan Sumatera Selatan (Lampung menjadi provinsi baru tahun 1964, dan Lampung Barat menjadi kabupaten baru pada tahun 1991). Satu wilayah belantara yang hanya dihuni oleh orang-orang Semendo dalam sebuah kampung dengan rumah-rumah panggung, dekat sebuah sungai bernama Way Besai. Saat itu bapak masih bayi. Bersama transmigran yang lain keluarga kakekku membangun kampung. Rumah-rumah, masjid, kebun-kebun, sawah, sekolah, pasar, jalan. Jika engkau sempat datang ke Sumberjaya, kau akan melihat Tugu Soekarno yang dibangun untuk menghormati kedatangan beliau ke kampung kami saat peresmian kecamatan puluhan tahun silam. Almarhun nenekku mengaku pernah bersalaman dengan beliau.

Lalu bapakku punya empat adik, dua perempuan dan dua laki-laki (kedua bibiku sudah meninggal saat aku SD). Saat bapak berumur belasan tahun, kakekku sakit keras. Sakit menahun yang menggerogoti tubuhnya, juga asma. Bapakku terpaksa memikul tanggungjawab sebagai kepala keluarga sebab uwakku harus sekolah di SPG. Karena tanggungjawab itu bapakku hanya bisa lulus SD. Mimpinya untuk sekolah tinggi terkubur hidup-hidup. Intelektualitas dan gairah mudanya dipertaruhkan untuk memberi makan banyak mulut di rumah kakek. Ia menjadi seorang kepala rumah tangga sebelum waktunya. Karena tanggungjawab itu, bapakku sulit untuk menikah. Dalam periode beberapa tahun, sebagai seorang pemuda tampan yang disukai banyak gadis di kampung kami, ia telah membawa enam belas gadis berbeda untuk dikenalkan kepada kakek dan nenek. Demi sebuah restu pernikahan. Ia tak tahu gadis mana yang diinginkan kakek sebagai menantu. Semuanya ditolak seakan gadis-gadis itu kutu kupret yang hendak membawa pergi bapak dari keluarganya. 

Dalam masa-masa berat itu bapak dikenalkan dengan seorang gadis muda, adik salah seorang teman dagangnya di Liwa. Dialah ibuku. Waktu itu ibuku masih sangat muda dan belum siap menikah. Tetapi akhirnya mereka menikah. Dan pernikahan mereka menimbulkan ledakan dalam keluarga kakek. Pernikahan itu tak direstui, terutama karena ibuku bersuku Jawa. Dalam keyakinan keluarga kakek, terlarang lelaki Sunda menikahi perempuan Jawa sebab bagai melangkahi adat, bagai menikahi kakak perempuan sendiri. Mereka meramalkan pernikahan kedua orangtuaku tak akan bertahan. 

Ada gelombang pasang surut dalam rumah tangga orangtuaku. Saat aku lahir dan tumbuh, bapak sedang dalam masa manis usahanya. Aku tumbuh dengan gizi yang cukup. Semua orang bilang bahwa masa balitaku adalah masa yang menyenangkan, masa yang manja sampai-sampai aku tidak diizinkan menginjak tanah sebelum umurku lima tahun. Hanya satu yang menyulitkan. Aku tak bisa tidur kecuali jam 1 malam. Dan kalau aku terbangun aku mencari pamanku, paman kesayanganku sampai sekarang. Kabarnya, saat aku terbangun dari tidur pada malam buta, aku menangis mencari pamanku. Bapakku akan mencari pamanku agar aku diam. Kadang-kadang paman sedang ngapel pada pacarnya atau sedang main di pos kamling. Aku punya photo lawas dimana pamanku yang masih bujang membawaku ke sebuah pematang sawah untuk menemui seorang gadis yang juga membawa balita seusiaku. Ah, rupanya aku pernah menjadi modus pamanku buat pacaran hehehe.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Suatu hari, saat bapakku dalam keadaan demam, ibu memandikan adikku yang belum berumur 2 tahun. Ibu akan pergi ke suatu tempat tanpa mengajakku. Aku ingat sekali bahwa waktu itu aku menangis meraung-raung seperti raungan mesin penggiling padi yang sangat ribut. Darr darr darrr! Ibuku pergi, sedang aku menangis meraung-raung. Paman kesayanganku mengambil adikku dan membawanya lari ke rumah saudara kami yang lain. Rumah kami heboh. Tragedi dimulai. Pada malam ketika aku tidur tanpa ibuku. Sesuatu dalam kepalaku seperti direnggut paksa. Dimusnahkan. Dibuang. Kemudian aku lupa semua hal tentang ibuku. Aku lupa wajahnya, suaranya, baunya. Semuanya. Selama beberapa tahun kakek dan nenekku mencoba membantuku mengingat wajah ibuku dari beberapa photo. Tetapi aku tak mengenal perempuan dalam photo itu. Dua atau tiga tahun kemudian kakekku meninggal dunia.

***


Bertahun-tahun kemudian, banyak hal terjadi. Banyak hal berubah. Bapak yang kehilangan harga dirinya tetap membesarkanku dan adikku bersama paman, bibi, kakek dan nenek. Dalam beberapa tahun bapakku juga mulai berubah. Mungkin ia kehilangan gairah hidup atau entah apa. Saat sakit kebun dan rumah bapak di Liwa dijual orang tanpa sepengatahannya. Sekitar dua tahun lamanya, saat aku masih SMP atau SMA,bapak hanya menghabiskan waktunya memancing di Way Besai dan sedikit bekerja. Bapak berubah menjadi lelaki dan ayah yang apatis. Mungkin selain karena disebabkan perpisahan dengan ibu, juga karena bapak ditinggalkan banyak teman dan koleganya setelah usahanya hancur.

Aku sangat ingat tatapan kasihan para tetangga padaku dan adikku si anak malang. Usaha Bapak merosot tajam dan aku sakit-sakitan, sedangkan adik kecilku yang belum genap menikmati ASI harus minum susu sapi. Semua uangnya habis untukku. Aku yang sejak saat itu menjadi sulung keluarga pamanku yang baru menikah selalu bertanya pada Tuhan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Dan sebagai sulung yang disayang pamanku sejak aku masih bayi menimbulkan banyak friksi bagi enam anaknya ditahun-tahun kemudian. Cinta dan kasih-sayang bisa berubah. Naik dan turun bagai grafik. Sampai aku dengan senang hati meninggalkan rumah untuk kuliah pada 2003, lalu bekerja, lalu kuliah lagi pada 2011, lalu bekerja hingga sekarang. Aku hanya pulang sesekali. Aku, si gadis kecil malang itu kini menjadi perempuan muda pembangkang. Aku marah pada diriku sendiri, aku karena aku masih belum mengerti apa yang terjadi.

Sebagaimana diriku, semua orang di kampungku bertanya-tanya tentang kedua orangtuaku. Sepanjang 25 tahun keduanya tak menjalin komunikasi, bahkan sekedar untuk membicarakan perkembanganku dan adikku. Hubungan dua keluarga besar terkoyak bagai dihancurkan puting beliung. Keduanya juga sama-sama tak menikah lagi. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Mereka juga hanya bertemu beberapa kali. Waktu aku kelas enam SD, SMP, kuliah dan waktu adikku menikah tahun 2014 lalu. Aku bahkan masih tak percaya, perempuan itu adalah ibuku. Aku mencoba menyesuaikan photonya, dirinya yang nyata dan ibu yang hilang dari ingatanku 25 tahun lalu. Sia-sia. Aku masih tak mengerti dan belum bisa memaafkan apa yang terjadi. 

Kau tahu, bahwa sepanjang 25 tahun ini aku beberapa kali mencoba melakukan pemberontakan dan kenakalan. Yah bagai anak-anak dalam sinetron untuk meminta perhatian kedua orangtuanya. Tapi aku tak sanggup untuk jadi anak nakal. Alih-alih menjadi nakal, aku memilih menjadi bintang kecil. Aku bahkan dengan sukarela menggunakan hijab saat masuk SMA, tanpa bapakku perlu merayu atau memberi perintah dengan dalil-dalil yang ia pelajari dari pengajian. Apa yang tidak kuraih? semua nilai sekolah dan kuliahku memuaskan, seisi kampung mengenal 'siapa aku', bahkan aku bisa sekolah tinggi dengan beasiswa internasional. Tak pernah aku mengecewakan mereka atau merusak nama baik keduanya. Mereka selalu ada dalam doaku, dalam mimpiku dan dalam semua keinginanku. 

Sayangnya, semua kehancuran yang terjadi tak mampu membawa keduanya sekedar duduk satu meja denganku dan adikku hanya demi makan siang bersama dan bicara tentang 'kami'. Dua kesempatan wisuda bahkan kulewatkan untuk membawa mereka ke kampusku di Bandar Lampung dan Depok. Aku tak mau memberikan kebanggaan pura-pura dalam keluarga yang memang hancur. Apa perlunya selembar photo wisuda dengan senyum canggung untuk menipu kamera? Aku memilih sendiri, berjalan-jalan di kota saat hari wisuda. Aku memilih mununggu keduanya mengembalikan ingatanku yang hilang; menyembuhkan rasa sakit yang sudah tak mampu kutahan dan menunggu mereka menyelamatkan jiwaku yang kacau karena rindu.

Tapi sekarang aku sudah sangat lelah, bahkan untuk sekedar memungut ingatan masa kecil yang hilang. Keduanya pun sudah tua. Dan mungkin tak akan pernah duduk satu meja untuk membicarakan 'kami' dan satu cucu mereka dari adikku. Aku lelah memikirkan semua kemungkinan kembalinya keluarga kecil kami. Serupa bapakku puluhan tahun silam, aku harus mengubur mimpi yang paling kuinginkan hidup-hidup. Aku harus berdiri diatas kaki sendiri yang lelah tanpa pernah bisa mengadu dan menangis di pangkuan keduanya. Aku harus merelakan waktu yang tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara dari hati ke hati (close talk) antar aku dan bapak, atau antara aku dan ibu. Setiap aku menelpon ibuku dan mulai bicara padanya aku selalu menangis sampai-sampai aku tak bisa bicara. Ada rasa sakit yang tidak bisa kubebaskan dari hatiku. Aku tidak tahu bagaimana mengeluarkannya, sebagaimana begitu mudahnya aku mengeluarkan airmata. Hubungan diantara kami terlanjur sangat asing. Aku hanya bisa bicara bebas dengan adik semata wayangku. Adik kecilku yang lebih kuat, penyabar dan pemaaf daripada diriku.

Sekarang, aku hanya perlu menjalankan nasehat orang-orang. Hidup untuk masa depanku. Hidup untuk apa yang ingin kubangun. Hidup untuk membebaskan jiwaku dan berbahagia. Untuk mencintai diriku sendiri dan mereka yang kucintai. Mungkin, di surga kelak kami akan berkumpul kembali sebagai keluarga yang lebih besar dengan kegembiraan abadi.

***

Saat menulis ini aku tak bisa berhenti menangis sambil sesekali memandangi wajahku, wajah bapak dan ibuku dalam figura itu. Jika saja waktu berhenti pada masa itu dan aku masih bayi kecil cantik dengan sepasang mata bulat berbinar. Mata yang belum pernah menangis karena kesedihan dan beban hidup, yang belum pernah menangis untuk doa yang tak pernah dikabulkan. Aku memandangi diriku yang kecil, yang belum berusia satu tahun, yang dipangku ibuku dengan penuh cinta. Manusia kecil dengan jiwa yang murni, yang 29 tahun kemudian menjadi manusia dewasa yang berbeda. Yang sepasang matanya tidak lagi bersinar jernih karena terlalu sering menangis.

Kukisahkan ini padamu agar jika engkau, siapapun itu yang mengalami kesedihan serupa, hold on. Tahan dirimu. Jangan biarkan semua luka dan rasa sakit yang sepertinya sudah tak bisa ditahan lagi sampai-sampai rasanya mau mati saja, menjadi bumerang. Hold on and never run. Bersabarlah dan jangan rusak dirimu dengan alkohol, narkoba, pergaulan bebas, aborsi, kriminalitas atau bahkan keinginan bunuh diri. Jangan rusak dirimu karena kesalahan orangtuamu. Jiwa dan raga kita milik Tuhan. Kita hanya perlu bersimpuh padaNya dan memintaNya menggandeng erat tangan tangan kecil kita, membantu kita berdiri saat jatuh dan memeluk kita saat menangis. Tuhan berjanji tak akan ingkar janji. Jika kita belum bisa menyeka airmata yang menganak sungai, artinya cinta kita pada keduanya terlampau besar, mengalahkan ego keduanya. Menangislah sepuasnya. Biarkan Tuhan yang memberi kita hadiah untuk tangis karena cinta pada kedua orangtua kita. 

Dan dua temanku yang kutemui di kota ini, yang mengalami kisah serupa tentang orangtua kami juga sama-sama memilih menjadi anak baik. Seorang diantara mereka kini menjadi programmer dan web developer, dan yang lainnya masih mahasiswa ilmu hukum. Kisah kami berbeda plot, tapi menghasilkan rasa sakit sama. Sesaat setelah kami bertiga bercerita tentang kisah kami masing-masing, kami tertawa dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, Tuhan punya caraNya sendiri dalam membimbing kami menjadi manusia bijak dan dewasa.

Cinta tak pernah tua. Cinta kita pada kedua orantua dimana darah keduanya mengalir dalam nadi sampai kita mati nanti, sebagaimana yang sastrawan Benny Arnas katakan tak akan pernah tua. Cinta yang tumbuh semakin kuat justru saat kita membenci perbuatan mereka. Pun, cintaku pada kedua otangtuaku tak akan pernah tua. Cintaku akan kubawa sampai ke kuburku, sampai aku bertemu Tuhan di hari kebangkitan dan memberikan kesaksian bahwa aku telah lulus ujian sebagai anak baik bagi keduanya.  

Akulah perempuan yang menunggu hujan reda. 
Hujan di dalam hatiku
Hujan di sepasang mataku

Depok, 27 September 2015

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram