Kisah Delima dan Burung Gereja di Beranda


Assalammu'alaikum, 

Hm, setiap kali aku pindah kos-kosan, terutama sejak di Jakarta dan Depok, bulan-bulan awal aku selalu menyempatkan diri berkunjung ke depot penjualan bunga dan membeli beberapa pot bunga. Aku memang suka berkebun bunga sejak di kampung halaman. Bapakku yang mengajariku menanam bunga, juga almaruhm bibiku. Lalu aku menempatkan bunga-bunga itu di teras, memandanginya saat aku bosan, menyiramnya saat mereka terlihat layu dan berbahagia saat kuncup mereka mekar. 

Aku tidak merasa menyia-nyiakan uangku untuk membeli bunga. Toh untuk kesenanganku sendiri, sebagaimana aku menggunakan uangku untuk membeli makanan, pakaian, buku, ke bioskop atau untuk keperluan lainnya. Bunga adalah bagian penting dalam hidupku, dimana aku tumbuh bersama mereka dan juga memimpikan tinggal bersama mereka di masa depan. 

Satu kali, Agustus 2014, ketika aku kembali lagi ke Depok setelah merasa gagal di Bandar Lampung, aku membeli beberapa pot bunga di depot bunga di dekat gerbang kampus UI Depok. Diantara tanaman-tanaman yang memikatku selain mawar dan jenis-jenis bunga yang tak kutahu namanya, aku membeli pohon delima. Saat itu ada buah delima kecil yang menyempil diantara rimbun daun. Sebesar ujung jari kelingking. Sati kehidupan dan harapan baru. Aku memang sangat ingin menanam delima dan menikmati buahnya saat aku panen. Sayangnya, seminggu kemudian sang buah mati bersamaan dengan daun-daun yang gugur karena udara yang sangat panas. Bunga anggrekku juga patah saat dalam perjalanan. Ah...


Hingga sekarang, aku setia merawat delima itu. Beberapa bunga telah mati duluan. Mungkin karena cuaca yang terlalu panas, jamur yang membuatnya busuk atau karena kualitas tanah yang buruk. Aku menempatkan mereka di beranda, dimana aku bisa memandangi mereka melalui jendela ketika aku sedang menulis atau menonton di laptopku. Sesekali burung gereja kecil bertengger di ranting delima yang kecil itu, berkicau. Aku merasa memiliki kebun kecil yang membahagiakan. 

Maklum, pemandangan di depan kamarku tak mengenakkan. Bagian belakang ruko yang sangat tidak indah dan acak-acakan. Juga menyilaukan saat siang hari. Juga bagian halaman belakang sebuah kos-kosan yang tidak dirawat dengan baik oleh penjaga kosan. Jadi, delima dan kawan-kawannya lah yang menjadi penghibur mataku saat memandang ke luar melalui jendela. 

Sejak Juni cuaca sangat panas dan hujan turun hanya sekali, saat bulan Ramadhan. Dua mawarku berhenti tumbuh dan berbunga. Mungkin mereka lelah sepertiku karena cuaca yang panas dan garang. Delimaku juga lesu dan layu meski aku setia menyiramnya. Tanaman bawang, seledri, kunyit dan lainnya mati. Bibit cabai tak ada satu pun yang tumbuh. Ah sedih sekali. 

Aku berharap hujan segera turun adar delimaku segar kembali dan burung gereja kecil setia bertengger di rantingnya. 

Depok, 6 September 2015




Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram