JIKA SALIM KANCIL ADALAH BAPAKKU


Assalammu'alaikum, 

Aku dan beberapa kawan di Lampung, Jakarta dan Bogor tengah memperjuangkan sebuah program untuk membantu 400 anak sekolah di Mesuji, Lampung yang terancam putus sekolah, saat sebuah sebuah berita tragedi berdarah menyebar dengan cepat di jagat maya. Pertama-tama via Facebook, lalu Instagram, Twitter, Youtube sampai televisi. Antara aku dan lokasi kejadian berjarak sejauh Jawa Barat ke Jawa Timur. Tetapi merah darah itu membayang terus dimataku dan bau amisnya sampai ke hidungku. Jantungku sampai berdegup kencang dan perutku merasa sangat mual, tapi aku tak bisa memuntahkan apa-apa. Tak terbayang rasa sakit yang sampai ke ulu hati bagi keluarga korban dan penduduk dimana tragedi berdarah itu berlangsung bahkan sebelum sinar matahari terasa panasnya di kulit dan rerumputan. 

Tragedi berdarah itu berkisah tentang dua lelaki kecil lagi miskin yang menjadi korban pembantaian sekelompok manusia beringas di Lumajang, Jawa Timur. Adalah Salim Kancil dan Tosan yang dikenal sebagai pejuang lingkungan hidup yang memimpin masyarakat desa Selok Awar-Awar untuk menolak praktek pertambangan pasir besi ilegal di desa mereka, dibantai sekelompok orang. Kronologi yang tergambar sangar, bengis dan beringas disampaikan WALHI Jawa Timur, yang kemudian menimbulkan reaksi keras di media sosial. Beberapa netizen juga mengunggah gambar-gambar korban yang memancing kemarahan dan luka psikologis publik. Bagaimanapun darah merah itu mengingatkan pada luka-luka yang menimpa banyak aktivis di negeri ini. Yang hingga hari ini belum mendapat keadilan, yang para penjahatnya belum diadili dan dihukum. Oh, katanya negara ini negara hukum. 


Kejadian ini bermula ketika pada Januari 2015 sebanyak 12 orang lelaki dari desa Selok Awar-Awar, kecamatan Pasirian, Lumajang-Jawa Timur membentuk sebuah forum komunikasi untuk melakukan advokasi atas kerusakan lingkungan di desa mereka akibat penambangan pasir besi ilegal. Karena menganggap praktek penambangan pasir besi itu akan merusak lingkungan, mereka menyampaikan surat keberatan pada kepala Desa, Camat dan Bupati Lumajang sebab penambangan itu berkodeok izin pariwisata. Awal September bersama masyarakat desa, mereka melakukan aksi damai untuk menghentikan penambangan dan menyetop truk pengangkut pasir. Dalam proses itu mereka justru diintimidasi sekelompok preman yang orang-orangnya mereka kenal. Meski kemudian mereka memasukkan laporan ke kepolisian, laporan mereka hanya diterima tanpa diproses. Mereka juga membuat laporan mengenai aktivitas "penambangan ilegal" tersebut dan akan melakukan aksi damai lagi pada tanggal 26 Sepetmber. 

Hari ketika masyarakat desa berencana melakukan aksi damai sebagai sarana menyalurkan aspirasi yang tersumbat kepada negara, Tosan dibantai saat menyelamatkan diri dari penganiayaan sekelompok orang. Tubuhnya bahkan dijadikan mainan menggunakan motor trail hingga ia harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Tak lama kemudian kelompok preman itu mendatangi rumah Salim yang seketika itu juga menyeretnya sejauh dua kilometer ke balai desa, menyiksanya sebegitu rupa hingga ia meninggal dunia. Kejadian itu disaksikan keluarga, anak-anak PAUD yang tengah belajar dan masyarakat desa yang ketakutan. Jasadnya dilempar ke jalanan sebagai 'warning' bagi masyarakat desa yang selama ini berjuang bersama Salim. Semuanya terjadi sangat cepat, antara pukul 8:00-8:30 pagi waktu Jawa Timur, saat aroma wangi kopi dan nasi masih mengepul dari meja makan dimana kita sarapan pagi. 

Gambaran kemarahan Netizen di media sosial
Tragedi yang diluar peri kemanusiaan ini kemudian menyebar dengan sangat cepat. Gambar-gambar bertajuk "Salim Kancil" menghiasi jagat maya yang disambut dengan diskusi dan caci maki kepada pemerintah dan aparat penegak hukum yang terkesan "hilang" dari negara hukum bernama Indonesia. Sebuah petisi di www.change.org yang pagi ini hampir ditandatangani oleh 15.000 orang sedang bekerja. Petisi ini diperuntukkan bagi POLRI dan Aparat Keamanan Terkait, Pemda Kabupaten Lumajang - Jawa Timur, Komnas HAM, Lembaga Perlindungan Saksi (LPSK), Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk mengusut pembunuhan berencana pada Salim Kancil. Seorang netizen yang tinggal di Belgia dan telah menandatangani petisi ini mengatakan bahwa:

"This case has the potential to reoccur in the future, if its not be investigated or be followed up by the authority. This is massive crimes which done by peoples who have power. And should be ended up by justice for the victim and their family also to provide moral, physical sanctions,and a deterrent effect for the perpetrators as a rewards for the crime that they've done (Kasus ini berpotensi terulang dimasa depan, jika tidak dilakukan investigasi oleh pihak berwenang. Tindakan kriminal ini hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Dan harus berakhir dengan tegaknya keadilan bagi korban dan keluarganya untuk memberikan dukungan moral. Hukuman fisik dan efek jera harus diberikan bagi pelaku kejahatan atas apa yang telah mereka perbuat)


Jumlah pendukung petisi ini terus dilipatgandakan menyusul dibebaskannya Kepala Desa Selok Awer-Awer yang justru dicurigai sebagai dalang tragedi ini. Alasannya tragedi ini "hanyalah kejadian kriminal biasa". Banyak pihak menuding bahwa pihak-pihak terkait yang terganggu protes warga atas penambangan ilegal itu melakukan pembunuhan berencana pada Tosan dan Salim, tapi cuci tangan dan membayar sekelompok pria beringas. Kok bisa? dari kronologi kejadian dan ketersediaan alat-alat yang digunakan untuk melakukan penganiayaan dan pembunuhan menggambarkan kesan "sengaja" dan "direncanakan". Contohnya: tali yang digunakan untuk mengikat tangan Salim masih baru; alat setrum dan gergaji yang untuk menganiaya tersedia di balai desa. Apakah "Balai Desa" memiliki peralatan berupa alat setrum dan gergaji untuk kegiatan harian pejabat desa? Tragedi ini juga terjadi pada hari dimana Salim dan Tosan akan memimpin aksi damai menolak kegiatan penambangan itu. Mencurigakan bukan? 

Berita Pembunuhan Salim Kancil di Youtube
Kekerasan Sektor Tambang
Aku masih ingat ketika seorang aktivis lingkungan pernah bilang bahwa Indonesia adalah bangsa yang dikutuk oleh kekayaan alam yang melimpah ruah. Hal demikian ia ungkapkan setelah belasan tahun menjadi aktivis yang membela rakyat kecil yang banyak berkonflik dengan pengusaha-pengusaha yang merusak lingkungan mulai dari aktivitas pertambangan, permbukaan hutan untuk perkebunan skala besar hingga pencemaran. Tidak lain dan tidak bukan bahwa korban semua aktivitas tersebut adalah lingkungan dan rakyat miskin. Para pengusaha yang mengeruk keuntungan dibawah ketiak penguasa bejat lagi korup nyaris kebal hukum. Mereka tanpa berdosa menikmati kekayaan melimpah layaknya para raja dan ratu, hidup makmur dan dengan mudahnya lari ke luar negeri jika bencana terjadi. 

Tragedi yang dialami Tosan dan Salim Kancil adalah peristiwa terbaru, sebagai pengulangan atas peristiwa-peristiwa serupa di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Pengulangan ini dikenal dengan spiral kekerasan. Sebut saja tragedi Indorayon di Sumatera Utara, DAM koto Panjang di Riau, tragedi Cinta Manis, tragedi Mesuji di Sumatera Selatan dan Lampung, korban-korban lubang tambang di Kalimantan, tragedi Buyat Pante di Sulawesi, tragedi di Papua dan tempat-tempat lainnya. Sayangnya, semua tragedi selalu menunjukkan kemesraan antara pemerintah-pengusaha dan mengorbankan rakyat kecil dan lingkungan. Banyak gugatan di pengadilan dimenangkan pengusaha-pengusaha jahat alih-alih masyarakat yang jelas-jelas menjadi korban. Langit biru Indonesia pastilah lelah menjadi saksi kekejaman antar saudara sebangsa dalam merebut hak kelola atas sumberdaya alam demi kantong-kantong pengusaha yang tak jarang dimiliki asing. Padahal, kasus-kasus lama belum selesai, belum sampai di meja hijau dan darah yang pernah tertumpah belum hilang baunya dari hidung kita. 

Peta lokasi sumber daya mineral di seluruh Indonesia yang selalu memakan korban alih-alih mewujudkan kesejahteraan rakyat secara nasional
Kekerasan bagaimanapun tidak dibenarkan dalam rekonsiliasi konflik, sehingga peran pemerintah, aparat penegak hukum dan organisasi pecinta lingkungan sangat penting. Sebagai bangsa yang dikenal dengan sifat ramah tamah, suka bermusyawarah mufakat dan gotong royong tentunya tragedi Salim Kancil sangat disayangkan terjadi. Apalagi jika mengacu pada berbagai peraturan perundangan yang mengatur pengelolaan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat. Jika rakyat seharusnya menjadi penikmat semua kekayaan alam di Indonesia, mengapa justru mereka yang pertama-tama menjadi korban? Kemana para wakil rakyat sepanjang konflik terjadi sampai harus ada klimaks yang menyedihkan semacam ini?

Tulisan ini didedikasikan sebagai bagian dari gerakan tumbuhnya "Jutaan Kancil". Mati satu tumbuh seribu, patah tumbuh hilang berganti. Kita tak akan pernah berhenti menuntut keadilan saat ia dikebiri. Saat keadilan bagai pisau yang menusuk rakyat kecil dan menyenangkan mereka yang berkuasa. Semoga keluarga pak Tosan dan almarhum pak Salim Kancil diberi kekuatan dan ketabahan, sebab jika tragedi ini terjadi pada bapakku, aku mungkin tak lagi bisa bernafas. 

Depok, 30 September 2015



Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram