Jejak Cinta dari Barat ke Timur Jawa


Assalammu'alaikum. 

temukan aku, temukan aku
aku bersembunyi di taman ilalang
mengintip langkah kakimu yang besar
aku memainkan rambutku bersama kupu-kupu

Siang ini panas. Sangat panas. Hujan hanya turun sekali saja sejak Juni. Aku malas sekali keluar kamar, apalagi kemana-mana. Mumpung belum kerja lagi, leha-leha saja, makan, membaca, menulis, merawat diri, nonton bla bla bla. Dan saat menonton sebuah video tentang sebuah wilayah Jawa Timur, aku jadi ingat bahwa dalam diriku mengalir darah Jawa Timur, Blitar tepatnya.  Ya ampun hampir lupa kalau aku setengah Jawa. Ya, darahku fifty-fifty.

Tapi sebagaimana orang-orang selalu kemukakan, sulit membaca jejak kebudayaan pada sosokku. Pertama, aku lahir dari bapak Sunda dan ibu Jawa. Nah, kedua orangtuaku itu tidak besar di Jawa tapi di Lampung di daerah transmigrasi karena memang kakekku keduanya adalah transmigran. Keduanya belum pernah ke Jawa masing-masing seumur hidup mereka. Kedua, jejak kebudayaan telah pudar pada lingkungan dimana aku tinggal di komunitas transmigran Sunda. Moyang kami yang rata-rata dari Tasimalaya yang berbahasa halus tak membekas padaku, juga pada banyak generasi seangkatanku dan dibawahku. Sejak kecil aku sering dimarahi karena aku tak bisa berbahasa sunda halus. Apatah lagi dengan bahasa Jawa, nggak bisa, ora iso. Saat silaturahim pada keluarga ibuku, aku hanya diam mendengarkan saja saat mereka meledekku dengan seharian berbahasa Jawa. Jiahhhh   

Ketiga, pergaulan kami yang bercampur dengan orang Lampung, Minang, Semendo dan suku lain di Sumatra membuat logat kami campur aduk, tapi tak benar-benar bisa menggunakan bahasa dan logat setempat. Paling-paling bisanya bilang "Ape kabah?" dengan logat sedikit tinggi ala Semendo. Dengan sahabatku yang orang Semendo kami biasa pakai bahasa Indonesia. Juga, meski aku lahir dan tumbuh di Lampung, sampai sekarang aku tak bisa bahasa Lampung. Paling-paling bilang "Mengan pay" atau "Ngupi pay" artinya yuk makan, yuk ngopi hehehe.  Keempat, entah bagaimana ceritanya tapi sepertinya antara bapak dan ibuku adalah percampuran yang aneh. Akibatnya orang-orang sulit mengenaliku, apalagi dengan namaku yang uni hehehe.  Ya, wajahku Jawa (tapi tida seperti putri Keraton yang ayu), bahasaku sedikit Sunda tapi logatku sudah entah berantah bla bla bla. 

temukan aku, temukan aku
aku memeluk sepasang rembulan
berlayar di sungai-sungai seribu muara
temukan aku
seperti dulu saat kau menemukanku 

Mungkin aku si anak malang yang kehilangan identitas budayanya. Belum pernah ke kampung moyangku di Tasikmalaya dan Blitar, tak membekas pula pelajaran bahasa dan budaya Lampung dimana aku lahir dan tumbuh. Bahkan meski aku memiliki dua sahabat suku Lampung, tak ada jejak Lampung padaku. 

Kehilangan identitas budaya memang sepertinya dimulai sejak 25 tahun silam, saat bapak dan ibuku bercerai. Sejak saat itu hingga aku masuk universitas dan memulai hidup secara independen sampai sekarang, aku tinggal dengan keluarga bapak yang sunda dan dikelilingi komunitas sunda. Gesekan budaya antara masing-masing etnik di kampungku memberiku warning tentang aku si sunda. Aku sunda sunda sunda. Meski belasan tahun kemudian aku memulai usaha rekonsiliasi dengan ibu dan keluarga ibuku yang berbudaya Jawa, nampaknya tidak berhasil. Gap budaya antara keluarga bapak dan ibu sangat terasa. Gap ini bukan saja menghilangkan penerimaanku bahwa dalam darahku mengalir darah Jawa, tapi juga membuatku bingung sebenarnya aku ini mirip siapa hahahaha. Dalam proses itu aku tumbuh sebagai gadis keras kepala yang sikapnya tidak diterima dalam dua budaya. Meski sebenarnya itu bentuk protes untuk usaha rekonsiliasi, nampaknya aku gagal dan aku harus kembali menemukan benang merah tentang dua budaya dalam darahku ini. 

Ada satu mitos dalam suku sunda yang turun temurun diceritakan dalam keluargaku, bahwa jika lelaki sunda menikahi perempuan jawa maka pernikahannya tidak akan bertahan. Sebab lelaki sunda terhadap perempuan jawa umpama adik laki-laki bagi kakak perempuan. Darimana datangnya mitos itu? menurut dongeng almarhum nenekku itu berawal dari kisah di masa lampau dari sumpah antara penguasa Pasundan dan tanah jawa. Yeah, padahal sunda kan di pulau jawa juga. Dan terbukti, kedua orangtuaku gagal (meski sebenarnya ada kisah yang menjadi latar belakangnya). Dan dalam diriku selalu bergemuruh gejolak tentang gap budaya ini. Ada yang keliru tapi entah apa. 

Dan sekarang aku tinggal di bagian bumi Pasundan, meski belum sempat ke Tasikmalaya. Kesana mau ketemu siapa coba? almarhum kakek dan nenek tidak mengenalkan kami pada kerabat di daerah ini. Pun almarhum kakek dan nenek dari ibu tidak mengenalkan siapa kerabat kami di Jawa Timur. Hilang jejak sudah. Jika pun aku bisa membuat pohon garis keturunan, maka hanya akan sampai di buyutku saja. Padahal kan aku ingin tahu moyangku, siapa tahu sebenarnya kecipratan darah biru hahaha. Dan keinginan untuk memahami akar budaya terhalang oleh hilangnya putusnya komunikasi dengan kerabat di tanah asal. 

temukan aku, temukan aku
aku berlari mengejar ombak
menemukan kembali sepasang rembulan
dan kupu-kupu
gelombang di taman ilalang

Apakah anak transmigran lain merasakan hal yang sama? bisa jadi. Apalagi kalau ternyata nggak bisa bicara dalam bahasa Lampung. Sudahlah, sulit untuk paham rumah sendiri jadinya. Ditambah lagi kalau punya gap pergaulan dengan suku Lampung, matei

Nah, ketika aku menonton banyak film dan video tentang hal-hal berbau Jawa Barat dan Jawa Timur aku jadi sering berfikir tentang darahku. Wah, darah siapa nih yang mengalir di tubuhku? jika ditarik ke ratusan tahun silam, ke cerita dalam sejarah yang manakah asal-usulku dari kedua keluarga besarku? Jangan-jangan ada jejak para penari gemulai dalam sejarah keluargaku hihihi. Sebab kadangkala aku merenung mengapa Jawa Barat dan Jawa Timur? apakah itu hanya sebatas soal bapak dan ibuku saja atau ada soal lain yang aku tak paham? Perjalananku sudah kumulai dari Jawa Barat ke Jawa Timur, meski baru sampai Surabaya. Tetapi rasanya ada sesuatu yang memanggil-manggil entah apa. Aku sepertinya harus mengeksplorasi kedua daerah supaya aku puas. Aku juga ingin belajar tentang mitos dari kedua budaya dan belajar kembali tentang segala hal yang terjadi dalam keluargaku. 

Ah ya, tulisan kali ini sekedar cuap-cuap saja. Buah pikiran di siang terik. Tetapi memang loh aku yang putra jawa kelahiran sumatra ini ingin sekali mengeksplorasi dan mendalami akar budaya dimana moyang keluarga besar bapak dan ibuku berasal. 

temukan aku, temukan aku
aku disini mengintipmu bersama kupu-kupu
dan sepasang rembulan sembari bermimpi
kau menemukanku. 

Depok, 3 September 2015



Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram