I DARE TO BECOME A WRITER

 

Assalammu'alaikum

Sejak kecil orang-orang disekitarku sudah bisa membaca passion-ku. Menjadi pencerita dan pelukis. Aku masih ingat, ketika aku menginap di rumah sepupuku mereka selalu memintaku bercerita sebelum kami tidur; sepupu dan teman-temanku juga selalu menyukai cerita-ceritaku saat kami bermain bongkar-pasang. Mereka juga menyukai gambar-gambar putri dalam buku-bukuku. Bukankah seharusnya aku jadi pelukis dan penulis saja? Waktu berganti dan tahun semakin menua dan aku tertarik untuk mendalami ilmu sosial dan politik, meski aku sama sekali tak bercita-cita menjadi politisi. Tetapi, sejak kupahami bahwa menjadi terdidik adalah jalan politik maka aku memilih tercerbur dalam kegiatan aktivisme. Menulis hanya dalam buku harian saja sambil sesekali belajar menjadi blogger. 

Bertahun-tahun lamanya naskah-naskan yang selesai dan tidak selesai menumpuk di laptop. Aku tak punya keberanian memasukkan naskahku ke penerbit, sejak beberapa naskahku pernah ditolak setelah penantian yang cukup lama. Tetapi kini aku punya tujuan dan mencoba mengumpulkan keberanian. Aku akan menjadi apa yang aku mau, dan pengalamanku belajar dan bekerja dalam ranah aktivisme dan politik akar rumput selama beberapa tahun akan menjadi landasan bagi tulisan-tulisanku. Aku tahu pentingnya menjadi seorang penulis, yang menulis untuk sebuah perubahan positif dalam masyarakat, yang menulis untuk memberi inspirasi dan yang menulis untuk memaksa masyarakat membaca tulisan-tulisan bermanka yang memberi dampak positif. 

Aku belajar pada sosok penulis Asma Nadia dan Helvy Tiana Rossa yang cerpen-cerpennya rutin kubaca sejak aku mengenal majalah Annida saat aku SMP. Helvy Tiana Rosa telah menginspirasi banyak penulis pemula melalui lembaga Forum Lingkar Pena yang ia dirikan yang kini cabangnya ada di seluruh Indonesia. Asma Nadia lebih hebat lagi, ia punya penerbitan sendiri, toko buku sendiri dan rumah baca dimana ia menyalurkan buku-buku untuk cabang-cabang Rumah Baca Asma Nadia di seluruh Indonesia. Kerja kerasnya berbuah manis. Selain ia punya fans yang sangat banyak di Indonesia dan di 5 benua atas buku-bukunya. Kini dunia terpukau pada beberapa film yang diangkat dari beberapa novelnya yang laris manis di pasaran. Bukankah menjaid penulis seperti Helvy dan Asma Nadia adalah hebat. Ia bisa memberi inspirasi bagi banyak orang. Nama mereka yang melambung membuat mereka semakin gencar melakukan gerakan sosial. Menjadi seperti Asma Nadia dan Helvy lah yang aku impikan. Menjadi berguna bagi sebanyak mungkin manusia di muka bumi melalui tulisan. 

Aku dan 9 Perempuan Bumi
Lalu aku mendappat inspirasi untuk melakukan sebuah riset pada 9 perempuan hebat dan aktivitas mereka terkait dengan bumi. Ada seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah swadaya di dalam hutan; ada seorang guru yang juga aktivis penyelamat hutang mangrove di pulau Pahawang; ada seorang ustadzah dan pendiri pesantren yang mengembangkan kebun pesantren dan bank benih lokal; ada yang menjadi aktivis bank sampah; ada yang mengembangkan benih dan pangan lokal dan oragnik untuk menentang hegemoni perusahaan benih. Ke 9 perempuan itu adalah inspirasi bagiku, inspirasi yang sangat tinggi. Karenanya aku ingin menuli tentang mereka. 

Aku percaya aku bisa. Aku akan menulis sebuah novel, buku dan membuat 9 lukisan tentang 9 perempuan hebat itu. Bisakah aku yang bodoh ini? ya, aku yakin aku pasti bisa meski ada yang meragukanku. Aku hanya perlu bekerja keras dan meyakinkan orang-orang disekitarku untuk mendukungku. 

Saat ini aku tengah menulis draft novelnya. Sudah sampai bab 3. Akan ada 15 bab disana. Tokoh utamanya seorang perempuan tentau saja. Aku suka jika tokoh dalam tulisan-tulisanku adalah perempuan. Sebab perempuan sebagai ibu bumi tak habis untuk diceritakan. Dan para perempuan yang ingin kukisahkan adalah mereka yang kuat, yang penuh cinta, yang memelihara bumi, yang memberi inspirasi, yang dibutuhkan lingkungannya tapi tak dikenal. Karenanya aku bertugas mengenalkan mereka kepada publik. Bahwa di tempat-tempat indah di desa-desa dan pulau-pulau di negeri ini, ada kecantikan yang memelihara bumi dengan cinta dan kesungguhan demi kelangsungan hidup komunitasnya. 

Para perempuan bumi didefinisikan sebagai perempuan yang tidak menyengaja diri menjalani hidup sebagai bidadari dunia yang bergelimang kemewahan, kemudahan dan kesenangan. Tapi, mereka memilih untuk hidup berdampingan dengan komunitasnya, membantu menyelesaikan masalah mereka, bergembira bersama mereka dan menjadi inspirasi bagi perbaikan hidup bagi sebanyak mungkin orang, khususnya perempuan.

Ya, I dare to become a writer. Just wait for me.

Depok, 19 September 2015



Wijatnika Ika

6 comments:

  1. inspiratif sekali, saya suka tulisan-tulisannya. ditunggu novelnya mba....

    ReplyDelete
  2. Wah, terima kasih sekali sudah berkunjung ke blog ini. Senang bisa berkomunikasi dengan pembaca tulisan-tulisan sederhana saya.

    Salam.

    ReplyDelete
  3. Sama-sama Mba. saya juga senang bisa bersapa kata dengan Mba Ika meskipun hanya lewat blog ini.


    salam.
    dari Sulawesi Tenggara

    ReplyDelete
  4. Saya justru senang bisa berkomunikasi dengan pembaca blog saya. Jadi saya tahu ternyata ada juga yang membaca dna suka tulisan-tulisan sederhana saya. Itu kebahagiaan seorang blogger.

    Salam,

    ReplyDelete
  5. tulisan sederhana namun penuh dengan makna. itulah yang kupelajari dari setiap tulisan-tulisan atau pun buku-buku bacaaanku. terimah kasih karena saya juga banyak belajar dari Mba Ika sendiri dan juga sama Kak Yusran Darmawan

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram