Diary of #WeSaveMoroMoro (3)

Pemandangan di Register 45 per 2013
Assalammu'alaikum,  

Lelaki yang Berumah di Moro-Moro: 

Pagi-pagi di rumah mbak Sari aku menimba air untukku mandi dan mencuci pakaian, air yang tak jernih. Sumurnya digali dalam tanah berwarna kuning. Aku tak tahu jenis tanah apa itu. Tapi dikampungku tanah demikian disebut cadas. Jika hari hujan warna air semakin keruh. Aku membayangkan mungkin jika sumur digali lebih dalam akan terdapat pasir emas menumpuk menunggu ditambang lalu dicetak seperti cokelat batangan. Ah, aku mengigau. Kembali ke sumur yang memang tak begitu dalam dan aku bisa menimba sekitar 10 ember air, tetapi tetap saja menimba membuat telapak tanganku sakit. Apa boleh buat, meski aku memiliki kulit sensitif dan tak bisa kena sembarang air, aku memilih berterima kasih karena telah diberi tempat menginap dengan kamar mandi tertutup. Selagi aku mandi, mbak Sari menyiapkan sarapan untuk kami. Makanan yang membuatku selalu merasa lapar.

Saat rasa penasaranku terkait Moro-Moro dan Register 45 semakin tumbuh, aku pun bertemu dengan banyak orang. Mas Wayan (yang seharusnya kupanggil Bli) mengantarku kemana-mana. Lelaki Bali tamatan SMP itu adalah saksi bagaimana negara bertindak kejam pada mereka yang tertipu dan tak berdaya dan menyebut mereka 'perambah' pencuri di tanah airnya sendiri (jika bukan negara mungkin mereka yang berkomplot dengan negara). Pertama kali aku bertemu dengan mas Wayan pada 15 Juli 2013, bulan Ramadhan, saat aku bersama mas Oki dan mbak Wulan sebagai periset tiba di Moro-Moro setelah melakukan perjalanan dari Bandar Lampung. 

Saat itu udara sangat panas dan aku merasa rubuhku mau meleleh seperti es krim. Sebelumnya, dari Bandar Lampung di kami mampir ke Metro, menemui keluarga mas Oki dan bertemu putrinya Anggita. Dalam perjalanan aku hanya tidur karena lelah, dan terbangun ketika kami melewati di satu wilayah perkebunan tebu terbesar di Lampung. Bukan perkebunan tebu yang menarik perhatianku, tapi rumput-rumput dengan bunga-bunga berwarna cokelat seperti padi-padian. Berjajar di pinggir jalan sebagai taman yang liar, indah. Kami juga melewati wilayah rawa yang luas dimana tak jauh dari lokasi itu berjajar warung-warung kecil dari bambu yang menjual ikan asap. Ikan-ikan itu berasal dari sungai dan rawa-rawa. 

Pertemuan dengan mas Wayan membuatku mendapatkan cerita lain. Mas Wayan yang tinggal di Bali mengunjungi saudaranya di Lampung dan berharap mendapat pekerjaan, misal bertani. Tapi tak lama ia pindah ke Sumatera Selatan untuk menjadi buruh di kebun karet. Jam 3 subuh ia harus ke kebun untuk menderes pohon karet selagi getahnya masih segar belum terkena sinar matahari. Bekerja di kebun sejak masih dini hari tentulah berat, bukan saja tubuh masih mengantuk dan suasana yang gelap, juga karena ancaman binatang liar seperti ular tak dapat dielakan. Dalam kegelapan ia berjalan, menemui pohon karet satu persatu, mengiris tubuh mereka yang seketika itu mengalir getah putih menuju sebuah mangkuk dari plasi atau batok kelapa. Sembari menahan dingin ia merokok, menghangatkan diri dan menghindarkan wajahnya dari sengatan nyamuk-nyamuk lapar sambil telinganya awas mendengarkan desis ular yang mungkin sedang mengintip di semak-semak atau dahan karet. 

Tahun 2004, ia mendapat berita bahwa ada satu wilayah di Mesuji yang merupakan lahan tidur bisa dikelola. Orang-orang mulai menanam singkong disana. Wayan sama sekali belum mendengar bahwa di wilayah yang kelak peroleh untuk menanam singkong dan mengalami nasib sialnya, ternyata bertetangga dengan wilayah Moro-Moro yang beberapa kali mengalami penggusuran. Bemodal uang pinjaman Rp. 11 juta dari keluarganya, Wayan mendapatkan dua hektar lahan untuk berkebun singkong. Ia bertetangga dengan sepasang kakek-nenek yang sangat giat bekerja. Nenek lincah dan pekerja keras itu adalah mbah Nunik. Wayan berbahagia dan memboyong anak istrinya untuk membangun hidup baru mereka di gubuk kecil di wilayah Pekat. Sampai kemudian terjadi penggusuran. 

Dalam fase berat penggusuran pada 2006 dan warga mulai tinggal di tenda-tenda karena tak lagi punya uang, Wayan diminta beberapa orang yang mengatas namakan wakil dari pemda setempat untuk mengumpulkan orang di masjid. Katanya akan ada penyuluhan dari pemkab terkait masalah di Pekat. Wayan gembira dan berprasangka baik dan ia mulai mendatangi orang-orang untuk datang ke masjid. Saat itu hanya ada satu masjid (sebenarnya Mushalla) di wilayah Pekat dan terbuat dari semen. "Waktu saya sudah mengumpulkan orang di Mushalla itu saya malah ditangkap. Dibilangnya saya provokator. Saya kan kumpulkan orang mereka yang suruh, kenapa saya malah ditangkap? akhirnya saya dipenjara 2 tahun mbak gara-gara itu," ujar Wayan dengan wajah sedih sambil memilin-milin tali kunci motornya. 

Selain menangkap Wayan, pihak aparat juga membakar mushalla itu. Ketika mas Wayan membawaku berkeliling wilayah Pekat pada 2013 lalu, aku melihat reruntuhan mushalla itu. Bangunan kecil tempat memuja Tuhan itu dibakar karena berdiri diatas lahan Register, lahan negara, lahan sakral yang tak boleh disentuh manusia manapun selain mereka yang mendapatkan selembar surat izin. Ya, selembar surat yang sangat sakti. Di dinding mushalla yang berwarna putih itu masih ada jejak hitam bekas api yang padam, mungkin dipadamkan hujan. Ada nyanyi sunyi disana. Meski aku berusaha keras, aku tak bisa berimajinasi tentang masa-masa genting ketika pada malam itu masyarakat berteriak histeris dan Wayan diborgol polisi untuk dibawa ke penjara. Dakwaan yang tak bisa dibantah, dihukum begitu saja tanpa sempat memiliki pengacara dan pembela. Hah!

Selama dipenjara, yang Wayan pikirkan hanya keluarga kecilnya. "Waktu saya dipenjara saya banyak belajar, juga tentang Moro-Moro," kata Wayan lagi. Saat ia masih tinggal di Pekat, ia memang melihat dari wilayah dengan kerimbunan karet yang dibatasi sebuah jalan kecil saja dengan wilayah Pekat. Ada sebuah gapura tinggi dari semen yang tidak dicat untuk masuk ke wilayah itu dari utara. Di Moro-Moro juga sebagian pengungsi penggusuran wilayah Pekat ditampung. Orang Moro-Moro membuat rumah panjang untuk menampung mereka dan membuat dapur umum. Mereka tentu paham kesedihan para pengungsi sebab mereka pernah mengalami hal yang sama. 

"Sekarang saya sudah punya kebun karet dan rumah kecil di Moro-Moro. Saya bersyukur disini aman. Masyarakatnya terorganisir nggak seperti di Pekat yang entah dipimpin siapa. Pokoknya ada korlap dan kita bayar iuran," mas Wayan tersenyum kecut pada dirinya sendiri. Saat kami bermotor di wilayah Pekat kami bertemu banyak orang, tapi wajah mereka penuh kecurigaan. Ya, maksudnya padaku karena aku orang asing. Hampir semua diantara mereka mengenali mas Wayan. Mas Wayan bilang pada mereka aku adalah saudara jauhnya yang sedang berkunjung ke Moro-Moro, bukan orang yang sedang melakukan penelitian. Jelas, kamuflase yang gagal sebab wajahku jelas terlihat wajah anak kampus. 

***

Suatu hari, saat masyarakat berkumpul di sekretariat PPMWS untuk membahas rencana pemantapan persiapan pada pemilihan gubernur tahun 2013 dan pemilu legislatif tahun 2014. Seseorang membawa koran dan kami mendapati berita tentang rencana penggusuran sebagian wilayah yang dikuasai okupan di Register 45. Penggusuran itu dijadwalkan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Mengapa rencana ini begitu mudah dibaca sebagai atm untuk mendapatkan semacam THR? tak adakah hari lain yang tak melukai secara bertubi-tubi jika memang hendak menggusur? sebab menggusur sudah seperti melukai. Aku tak bisa berhenti membaca berita itu. Suara malam yang hening dengan rembulan yang terhalang awan tak membuat pikiranku tenang. Mas Oki dan masyarakat sibuk membicarakan rencana penggurusan itu. Aku meneguk kopiku berkali-kali dan merasakan pahit yang lain di jantungku. 

Artikel tentang Register 45 tahun 2012 dan 2013
Pagi 19 Juli sekitar pukul 9 aku ikut serta rombongan ketua PPMWS, mas Sahrul ke rumah dinas Bupati Mesuji. Mas Sahrul selaku ketua PPMWS dipanggil Bupati untuk serta dalam rapat membahas rencana penggusuran di Register 45. Kesempatan ini juga akan digunakan mas Sahrul untuk mendiskusikan soal rencana persiapan pemilu Gubernur di Moro-Moro sebagaimana telah diizinkan KPU Lampung. Aku membonceng motor mas Wayan dan kami melalui perjalanan melelahkan karena jalanan berdebu. Sepanjang perjalanan aku menutup wajahku dengan hijabku. 

Perjalanan itu yang pertama kali juga membawaku mendekati wilayah yang dikuasai okupan pasca konflik tahun 2011 atau 2012. Wilayah itu sempat menjadi berita menghebohkan di media massa dimana para okupan menebangi pohon albasia dan menggantinya dengan singkong. Mereka juga membangun gubuk-gubuk dalam blok-blok. Ada gapura-gapura tinggi dari kayu atau bambu untuk menandai masing-masing blok. Karena menjelang peringatan hari kemerdekaan, beberapa gapura juga dicat bendera merah putih. Ah, bukankah konflik menjadi semakin dilematis jika melihat bendera terpasang disana? Di beberapa tempat, sekelompok orang sedang membenahi jalan dan melihat kami dengan wajah heran. Nanti, aku ceritakan kisah mereka di tulisan selanjutnya. 

Kami tiba di rumah dinas dengan wajah dan pakaian agak sedikit kusut dan berdebu. Kami masuk dengan canggung karena merasa asing. Aku menyalami beberapa orang. Basa-basi itu penting kan? melihat banyaknya para pria berseragam batik yang saling bersalaman sambil menyunggingkan senyum membuatku yakin bahwa mereka saling mengenal. Ah, aku merasa umpama anak ayam yang masuk kandang kucing. Pukul 10.30, setelah mengisi daftar hadir, aku duduk dekat pak Sahrul, di sayap kiri ruangan rapat. Aku bisa melihat jelas wajah Pak Khamamik tapi sama sekali tak mengenal wajah-wajah lainnya. Oh ya, ada seorang yang nampaknya pernah satu kampus denganku di Universitas Lampung tapi aku lupa namanya. Dia sepertinya bekerja sebagai asisten Bupati atau apalah di lingkaran administrasi.

Rapat hari itu adalah untuk membahas rencana 'penertiban perambah' alias penggusuran di wilayah Pekat dan Mesuji Timur. Sebanyak 349 aparat gabungan TNI/Polri dan masyarakat sipil telah disiapkan. Khusus untuk Moro-Moro Bupati berjanji tidak akan menggusurnya, melainkan meminta masyarakat Moro-Moro untuk mengelola lahan dengan arif dan bijaksana. Seorang berseragam tentara bahkan sempat menjelaskan bahwa kehadiran aparat itu diperlukan untuk mengamankan personel saat penertiban berlangsung. "Mereka itu bawa tombak, golok, dan bambu runcing! kami kan bawa senjata untuk perlindungan. Mereka juga sering menjadikan anak-anak sebagai tameng agar kami berbelas kasihan. Itu muslihat perambah!" dan bagiku pernyataan itu seperti memberi tahu bahwa bambu runcing dan golok harus dilawan senapan, sebuah perang. Bupati juga meminta masyarakat Moro-Moro mendukung kebijakan pemda dengan tidak menampung para perambah yang mengungsi atau bersembunyi di Moro-Moro. menjelang adzan zuhur rapat selesai. Aku keluar dengan langkah gontai. Memangnya selain airmata, apa sih yang akan dihasilkan oleh kebijakan penggurusan menjelang perayaan Idul Fitri? Padahal biaya penertiban kan terbilang sangat mahal. Apakah ini semacam muslihat atm Idul Fitri?

Beberapa artikel tentang penertiban di Register 45 tahun 2012
Malam harinya, saat mas Nur Fauzi Rahman pembimbing riset kami tiba, aku membawa hasil pertemuanku bersama kawan-kawan PPMWS di rumah dinas Bupati. Salah satu hal yang dibahas sebagai bagian dari penelitian kami adalah mengenai perbedaan perlakukan pemda terhadap kelompok yang disebut 'perambah' dengan masyarakat Moro-Moro dan masyarakat adat Talang Gunung. Keadaan ini sulit dijelaskan terutama jika mengacu pada Rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TFPG) pada Januari 2012. Hasil diskusi kami memutuskan bahwa besok kami akan meninjau lokasi yang akan digusur lebih dekat agar paham situasi. 

Esoknya, tanggal 20 Juli kami meluncur ke lapangan. Belum sampai ke lokasi, Eko yang telah terlebih dahulu meninjau lokasi menghentikan kami karena suasana di lokasi memanas. Kami berkumpul di Rumah mas Agung, adik laki-laki Made Aste yang kuceritakan sebelumnya. Tak lama datang beberapa orang yang tak kukenal yang menjelaskan kondisi di lapangan yang semakin memanas. Menurut keterangan mereka sebanyak 3000 orang telah mempersenjatai diri mereka dan menjadi barikade yang akan menghalau tim gabungan. Mereka terbagi kedalam beberapa kelompok. "Itu loh yang kita lihat kemarin kumpul-kumpul itu bukan kerja bakti, tapi pemanasan buat hari ini," ujar Eko dengan nafas terengah-engah. Kami memutuskan tidak jadi pergi demi keselamatan diri kami. Kabarnya mereka sangat awas terhadap wajah-wajah orang asing yang mendekatai wilayah mereka. Apalagi kalau orang asing yang bawa ponsel atau kamera untuk memotret. Meski sangat ingin tahu kami memilih menahan diri.

Istri mas Agung menyiapkan beberapa gelas kopi dan beberapa piring pisang goreng untuk tamunya yang tidak berpuasa. Lalu bang Fauzi meminta mereka bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi di Register 45 ini. Karena ini kali pertama juga bang Fauzi ke Register 45. Keempat orang itu pun satu persatu bercerita tentang siapa mereka, dan mengapa mereka ada di Register 45, rencana mereka dan apa aspirasi mereka. Asap rokok mengepul beradu bersama aroma kopi dan udara yang panas. Aku mendengarkan dengan seksama sambil menahan godaan aroma kopi di hari yang lelah. Mata mereka kotor dan merah, seperti berbalut lumpur. Seorang diantara mereka bahkan memiliki kuku-kuku jari yang kotor, mungkin ia habis memanen singkong atau membersihkan gulma di kebunnya. Warna muka mereka menampilkan kondisi prihatin dan berharap akan sesuatu dengan sangat cemas. Jiwa dan pikiran yang tertekan. Saat seorang diantara mereka bercerita, yang lain mendengarkan dengan khidmat sambil menikmati rokok di mulur mereka yang terus memendek.
               
Salah seorang diantara mereka, sebuat saja Hamid bercerita tentang ulah para preman yang memaksa meminta uang senilai satu juta rupiah per hektar pada setiap keluarga yang panen. Seorang lainnya sebut saja Burhan, bahkan mengatakan bahwa ia siap mati untuk membela tanahnya dan keluarganya, karena ia sudah tak memiliki apa-apa lagi di kampung halamannya setelah semua uangnya ia habiskan untuk membeli lahan di register 45. "Saya siap mati lah disini. Saya sudah habis-habisan di kampung halaman," ujarnya dengan sepasang mata lelah yang sendu. "Saya sudah jual semua yang ada di kampung halaman buat modal beli kebun singkong disini. Semua anggota keluarga juga disini. Kami ada 18 orang dan kelola 64 hektar," tambahnya lagi lalu menghisap rokoknya pelan. Ia juga mengatakan bahwa jika kali ini terjadi penggusuran maka ia akan merasakan penggusuran yang ke empat kalinya.

Kami jelas heran dan tersentak, "Mas udah empat kali digusur?" tanya bang Fauzi. Ia heran. Sepasang mata bulatnya hampir melompat saat melotot karena heran. "Iya. Waktu itu di Pekat kan, digusur pergi trus datang lagi. Trus digusur lagi, trus datang lagi. Makanya kalau sekarang masih digusur lagi artinya sudah yang ke empat dan saya siap mati. Saya mau gimana lagi karena udah nggak punya apa-apa lagi," ujarnya dengan wajah memerah menahan amarah didadanya. Asap rokok terus mengepul dan udara mulai dingin. Gerimis jatuh perlahan-lahan. Aku tercenung. Mungkin disana ada lebih banyak lagi mereka yang punya kisah lebih tragis, kisah yang tak bisa dipandang begitu sederhana untuk bisa diselesaikan dengan penertiban menjelang Idul Fitri. Saat kulihat jendela, hujan turun dengan derasnya.  

Artikel di website Pemkab Mesuji tahun 2013
Dalam beberapa keterangan yang dipublikasikan di website pemkab Mesuji disebutkan bahwa sebanyak 7000 brosur telah disebar sebagai salah satu bentuk sosialiasi penertiban. Selain itu pihak gabungan juga sudah melakukan semacam investigasi untuk menilai kondisi lapangan dimana ditulis bahwa 'perambah' tidak akan menerima kedatangan tim gabungan dan akan mengancam memblokir jalan lintas timur. Wilayah yang akan digusur terbagi kedalam 14 blok wilayah yang dikomandoi oleh masing-masing koordinator lapangan. Mereka telah mempersenjatai diri dengan parang, pedang dan locok. Seakan-akan semua siap berperang, memperebutkan sepetak lahan di tanah air sendiri.

Bersambung...

Depok, 10 September 2015

Referensi:  
  • http://nasional.tempo.co/read/news/2012/02/15/179384112/perambah-di-register-45-mesuji-terancam-diusir-paksa
  • http://regional.kompas.com/read/2012/10/18/1844160/Anggaran.Penertiban.Register.45.Mencapai.Rp.7.5.Miliar 
  • http://www.mesujikab.go.id/publikasi/perambah-register-45-angkat-senjata
  • http://www.mesujikab.go.id/publikasi/tim-sosialisasi-register-45-sebar-brosur-gunakan-helikopter
  • http://lampost.co/berita/mesuji-penertiban-perambah-register-45-tak-jelas
  • http://lampost.co/berita/penertiban-perambah-register-45-belum-diikuti-komnas-ham
  • Catatan lapangan penulis

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram