Diary of #WeSaveMoroMoro (2)



Assalammu'alaikum,

Perempuan yang Membangun Rumah di Moro-Moro:

Setelah menghabiskan sore dengan mengobrol dengan Mbah Nunik di gubuknya di rumah panjang, aku kembali ke rumah tempat aku menginap. Sebuah rumah sederhana dengan 3 orang penghuni, keluarga kecil dengan satu anak lelaki mereka yang manja. Aku diberi kamar khusus dan diperbolehkan shalat meski mereka bukan Muslim. Nyonya rumah adalah seorang perempuan berusia menjelang 40an yang sepertinya nyaman denganku atau aku yang gede rasa saja. Kupanggil ia mbak Sari.Perempuan yang kulit dan seluruh jiwa raganya telah terbiasa terbakar matahari. Jejak kesedihan, kerja keras dan paparan cahaya matahari terpatri kuat pada pancaran matanya, warna rambutnya, warna kulitnya dan nada suarnya.

Disela-sela kami menyiapkan makan makan bersama, ia bercerita tentang hidupnya tanpa kuminta. Seakan-akan ia seorang penulis yang tengah duduk di depan komputer di satu ruang kerja bernama semesta. Bisa jadi, selama ini ia tak punya teman tempat berkeluh kesah atau memang ia sudah tak sanggup menanggung beban dihatinya. Aku mencoba mendengarkan dan berimajinasi tentang kisah yang ia ceritakan. Aku berfikir bahwa jika aku mendapatkan data dan kisah tentang perjalanan hidup warga Moro-Moro dari sudut pandang perempuan, maka aku bisa berbuat sesuatu selain menulis untuk tesis dan risetku bersama Oki dan Wulan.

Seperti halnya mbah Nunik, ia datang ke Moro-Moro dengan terpaksa. Demi hidup minimal. "Dulu saya tinggal dengan nenek saya. Waktu saya umur 14 tahun saya berhenti sekolah. Saya dinikahin. Suami saya kasar. Saya minta cerai lah, nggak tahan saya..." mbak Sari menyiapkan piring untuk kami berdua di sebuah meja makan berukuran 50 x 50 cm. Aku membantunya menyiapkan sebakul nasi putih, semangkuk gulai daun singkong, sepiring sambal ikan laut dan sepiring irisan mentimun sebagai lalapan. Setelah ia mempersilakanku mengisi piringku dengan suara yang renyah, ia menyiapkan dua gelas air putih untuk kami. 

"Enak mbak masakanmu..." aku memujinya sejak suapan pertama. Masakannya  cocok dilidahku. Gulai daun singkong dengan potongan ikan tongkol, ikan sarden balado yang gurih dan lalap mentimun yang segar. Kurang sedap apa coba? "Maaf ya mba kalau makanannya ala kadarnya. Maklum di kampung. Susah juga cari sayuran di Moro-Moro," sambungnya setelah selesai mengunyah suapan pertamanya. Aku juga suka masakannya karena pedas. Masakan pedas memberi energi dan membantu metabolisme. 

"Nggak papa ya saya cerita sama mbak walau baru kenal?" tanyanya kemudian dengan senyum malu-malu. Sepasang matanya nyaris tenggelam. Dan aku mengatakan bersedia kalau memang beliau percaya bahwa aku bukan tipe perempuan bermulut ember. Jadi, setelah bercerai dari suaminya, mbak Sari ke Jakarta. Ia mendapat pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga. "Anak saya saya tinggalkan dengan suami. Biar dia yang urus. Saya kerja di Jakarta. Jadi babu mbak," mbak Sari terkekeh, menertwakan dirinya sendiri. Bukankah memang tak ada kelucuan yang lebih lucu selain seseorang yang mampu menertawakan dirinya sendiri? 

Karena bawaan lapar dan masakan yang enak, aku nambah. Makanan enak jangan disia-siakan, mubazir begitu orang-orang bilang. Mbak Sari malah menambahi ikan balado ke piringku, sedap. "Waktu saya ke Jakarta, saya cuma bawa satu tas isi baju-baju saya. Itu majikan perempuan suruh saya telanjang dikamar untuk diperiksa. Benar-benar telanjang nggak pake beha sekalipun. Baju-baju saya dikeluarkan dari tas dan semua bawaan saya diteliti..." mbak Sari menghentikan makannya sementara, lalu menenggak habis satu gelas air putih. Sepasang matanya berkaca-kaca. Sedikit memerah. Sepertinya peristiwa itu adalah peristiwa tersedih sepanjang hidupnya. Dadanya turun naik dan sesekali ia membuang nafas berat. Kami kembali menekuni piring kami dan menikmari suapan-suapan terakhir.

"Saya merasa hinaaa sekali mba waktu itu! Seakan-akan saya si perempuan kampung ini membawa barang-barang hina ke rumah besar mereka," ujarnya lagi disela-sela kami makan. Kami terdiam sesaat. Imajinasi yang terbangun dikepalaku terasa sakit. Sebagai perempuan aku akan merasakan hal yang sama jika diperlakukan demikian. Di luar, suara binatang malam sangat gaduhnya dan angin bertiup lumayan kencang. Kami menyelesaikan makan malam kami sambil terdiam. Lalu aku membantu mbak Sari menaruh nasi dan lauk pauknya ke lemari. Obrolan kami berlanjut dan mbak Sari menyiapkan dua gelas kopi hitam dan sepiring biskuit. 

Peristiwa penelanjangan itu kemudian mbak sari pahami sebagai sebuah peringatan bahwa seorang pekerja rumah tangga yang masuk ke rumah besar itu hanya boleh masuk dan keluar dengan barang yang sama. Tapi mbak Sari tidak punya pilihan, bahkan tak mampu melawan. Ia hanya nrimo atas nasibnya sebagai orang kecil yang mengandalkan pekerjaan kasar dan rendahan sebagai penyangga nafasnya. Ia hanya bisa berdiri dengan tubuh bergetar karena malu saat melihat sang majikan memeriksa barang-barangnya, sebelum ia diperbolehkan masuk ke kamar khusus untuknya. 

"Majikan saya itu pelit. Benar-benar pelit mbak!" ujar mbak Sari setelah menyeruput kopinya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku menunggu ceritanya yang semakin menarik. "Mereka sekeluarga itu kan sering makan di luar, tapi saya nggak boleh masak buat makanan saya. Dia itu teliti sekali dengan isi kulkasnya," katanya dengan senyum kecut. Sikap pelit sang majikan tidak serta merta dituruti mbak Sari dengan bodohnya. Meski ia tak memasak buat majikannya yang sering makan diluar, mbak Sari masak ala kadarnya untuk dirinya sendiri. "Kalau saya nggak makan gimana saya mau kerja kan?" lalu ia tertawa. Aku ikut tertawa. Aroma kopi memenuhi udara. 

Keesokan harinya, saat kami makan malam bersama mbak Sari cerita lagi. Kali ini kami ditemani anak lelakinya. Mbak Sari membuatkanku nasi tiwul, tempe goreng, sambal terasi, telor ceplok dan lalap mentimun. Lagi-lagi makanan enak. "Saya kan nggak betah kerja di Jakarta itu, mana panas lagi. Saya pulang ke Lampung, ketemu anak saya. Mantan suami saya minta balikan, saya nggak mau lah wong dia kasar gitu..." Mbak Sari memberikan beberapa iris mentimun pada anaknya yang sibuk menikmati makanan di piringnya. Piring keramik putih cantik dengan hiasan bunga-bunga kecil berwarna oranye yang melingkar di sisinya. Saat kembali ke Lampung mbak Sari hanya membawa tas yang dulu dibawanya, dengan pakaian-pakaiannya yang tak seberapa berubah komposisinya. Ia dan tasnya juga diperiksa sebelum pulang. Semua barang yang diberikan oleh majikan baik berupa pakaian atau hal lain harus dikembalikan. Mbak Sari bilang bahwa ia tak ingin membawa kisah sedihnya di rumah besar itu ke kampung halamannya.

Saat mbak Sari kembali ke Lampung ia mendengar tentang tanah kosong di Moro-Moro. Kemudian ia ikut bertaruh kesempatan dan menjadi buruh tani. Di MoroMoro mbak sari bertemu dengan suaminya yang sekarang. "Yah, walaupun suami saya juga bukan lelaki baik-baik amat, setidaknya dia baik sama saya. Tidak sekasar mantan suami saya. Cuma saya benci kalau dua sudah judi. Benci sekali saya," katanya gemas. Sang anak hanya cengengesan mendengar kata-kata ibunya. Bagi mbak Sari tinggal di Moro-Moro adalah satu kesempatan baik baginya daripada bekerja sebagai pekerja rumah tangga. "Jadi pertani itu merdeka," ungkapnya dengan senyum tipis. Disela-sela ia bekerja di kebun orang sebagai tenaga harian atau saat mengurus kebunnya sendiri, ia juga menanam aneka sayuran di pekarangan rumahnya. 

Lalu kami pindah ke ruang tengah dan menonton acara televisi. kami duduk beralas tikar sambil sesekali menepuki nyamuk yang hinggap di tangan atau dahi. Suami mbak Sari sedang mengobrol dengan tamunya di rumah depan. Mbak sari bilang bahwa banyak hal terjadi sekaligus berubah di Moro-Moro. Ancaman penggusuran selalu datang dan membuatnya resah. Belum lagi soal perubahan sosial dalam tubuh masyarakat yang mulai lelah. "Kami perempuan ini ya nggak kayak laki-laki yang aktif di organisasi. Tapi kalau ada kegiatan rame ya saya ikut. Misalnya waktu mas Oki itu bikin buku dan bawa bukunya ke Moro-Moro saya ikut. Duduk bareng ibu-ibu mendengarkan saja." 

Di Moro-Moro hanya sedikit kaum perempuan yang masih bertahan dalam kegiatan aktivisme. Bukan mereka malas, tapi karena mereka sibuk mengurus rumah setelah bekerja di kebun. Kadang-kadang buat ikut posyandu saja susah. "Kasihan itu mbak Fatima dan bidan Nina yang harus menjemput ibu-ibu yang hamil dan punya bayi buat posyandu," katanya. Sebagai perempuan yang tidak memiliki aktivitas keorganisasian mbak Sari hanya bisa jadi pengamat saja. Berkumpul dengan tetangga pun ia jarang. Suaminya tidak suka jika mbak Sari harus terlibat kegiatan bergossip ala ibu-ibu. "Tapi suami saya ya suka ikut mas Oki, pak Sahrul dan mas Eko kalau ada kegiatan organisasi di Moro-Moro," katanya bangga. Sebagai perempuan yang cukup bersyukur atas hidupnya, mbak Sari memilih fokus bekerja di kebunnya dan mengurus anak lelakinya. Sesekali ia menyempatkan waktu menelpon anaknya dari pernikahan sebelumnya yang tinggal bersama neneknya dan mantan suaminya. Ia ingin hidup yang sederhana.

***

Moro-Moro mungkin mengingatkan kita pada suku Moro di Filipina. Tetapi 'Moro' di kampung ini bermakna datang. Datang ke tempat baru, harapan baru, hidup baru, kebahagiaan baru. Seperti tunas hijau dan segar yang tumbuh disela-sela tubuh sebuah pohon yang tumbang dan menunggu kematiannya. Ia datang untuk kehidupan baru. 'Moro' berasal dari bahasa Jawa karena sebagian besar masyarakat Moro-Moro adalah suku Jawa selain Bali. Moro-Moro umpama sebuah desa yang terbagi kedalam lima dusun: Moro Dewe, Moro Seneng, Moro Dadi, Asahan dan Suka Makmur. Meski ada yang menyebutkan pendatang pertama mengelola wilayah itu sejak tahun 1993, tetapi sebagian besar meyakini mereka datang dan bermukin sejak 1996-1997 ketika krisis moneter yang melanda Asia meledak dan reformasi berkecamuk. 

Pada masa itu sekitar 30-40 keluarga datang, mengelola lahan dan bermukim di Moro-Moro. Mereka datang dari berbagai wilayah di Lampung dengan tujuan mengelola lahan tidur. Mereka membuka lahan untuk kebun singkong dan karet, juga untuk pekarangan. Jika dilihat hari ini, maka usia dan kerimbunan tanam tumbuh di Moro-Moro menjelaskan bahwa wilayah itu telah belasan tahun dibangun dengan penuh cinta dan kesungguhan. Nyaris 20 tahun. 
Posisi kampung Moro-Moro di Resgiter 45
Sayangnya, masyarakat yang tak tahu lahan tidur itu milik siap didatangi pihak perusahaan yang mengklaim bahwa tanah yang ditempati masyarakat Moro-Moro adalah lahan konsesi mereka. Perusahaan yang kemudian diketahui bernama PT. Silva Inhutani Lampung itu mengantongi izin berupa Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) dari pemerintah. Perusahaan itu kemudian mengadukan keberadaan masyarakat Moro-Moro di wilayah mereka sebagai 'perambah'. Masyarakat yang ketika itu sudah mulai banyak jumlahnya mulai melakukan kajian tentang munculnya PT. SIL dan membuat mereka cemas. Tapi, mereka juga kemudian mempertanyakan jika memang tanah itu milik perusahaan mereka dibiarkan tak diurus? bukankah itu pertanda bahwa perusahaan tak layak mendapatkan konsesi tanah itu dan sudah benar diurus oleh masyarakat sampai menjadi kampung yang hijau dan hidup. Lagipula luas tanah itu sampai puluhan hektar. Apakah perusahaan bangkrut sampai tak bisa mengurus tanahnya? 

Sambil memandangi purnama yang belum bulat sempurna aku berimajinasi tentang masa-masa awal kedatangan masyarakat Moro-Moro. Membuat sebuah kampung yang hijau dan dengan perekonomian yang dinamis dalam waktu kurang dari 20 tahun tanpa campur tangan pemerintah bukan perkara gampang. Apalagi yang membangun berasal dari dua suku berbeda. Sambil mendengarkan celoteh mbah Nunik dan suara berisik beberapa bocah saat menonton televisi yang ditempatkan di halaman rumah panjang, aku kembali mengingat-ingat beberapa referensi yang kubaca tentang Moro-Moro. 

Lalu penggusuran pun dimulai. Benih konflik tumbuh. Seperti bara api yang tertiup angin lalu menyebabkan kebakaran besar. Beritanya di surat kabar juga bikin paas mata yang membaca. Cerita tentang konflik di Register 45 bahkan memakan korban seorang lelaki bernama Made Aste. Ia menjadi saksi bahwa menjadi rakyat kecil adalah posisi rentan, bahkan jika berdiri dihadapan pejabat pemerintah daerah dan aparat keamanan setempat yang katanya pengayom masyarakat. Orang Moro-Moro bilang bahwa kematian Made Aste justru semakin menguatkan mereka. Darah lelaki itu menjadi pupuk bagi tanah Moro-Moro. Mereka tak akan lupa bahwa Aste telah menjadi martir untuk tanah Moro-Moro. 

Keesokan harinya aku dibawa berkeliling wilayah Moro-Moro. Aku melihat sebuah tugu peringatan kecil setinggi rumpun kunyit, tempat tubuh Made Aste yang belumuran darah tengah sekarat pernah terkapar, lalu meninggal. "Bli Aste ini pahlawan buat Moro-Moro. Dulu waktu awal-awal pas masih suka ada penggusuran. Dia melawan saat ditindas dan dia gugur," ujar Wayan, pengantarku waktu berkeliling Moro-Moro. Wayan mengalami nasib buruk. Lebih buruk dari warga lainnya, namun tak lebih buruk seperti Aste. "Saya dipenjara 2 tahun mbak, tapi syukur masih hidup dan bisa kembali ke keluarga saya," katanya dengan logal Bali yang khas. 

"Saya ini suka berjuang bersama masyarakat Moro-Moro. Saya jadi relawan disini. Kita bikin organisasi PPMWS. Persatuan Petani Moro-Moro Way Serdang. Mas Sahrul itu ketuanya. Sekretnya yang jelek itu di rumah panjang. Gubuk perjuangan," ujar Eko, salah seorang relawan yang memiliki peranan penting dalam sejarah panjang perjalanan Moro-Moro. Wayan membenarkan pernyataan Eko tentang PPMWS sebagai wadah masyarakat Moro-Moro mempertahankan haknya. Gerakan masyarakat Moro-Moro yang terorganisir juga yang menjadi salah satu alasan Wayan pindah ke Moro-Moro. Ia ingin belajar berjuang dan kapok menjadi kambing hitam. "Saya nggak mau lagi dipenjara. Nggak enak. Jadi saya kapok berjuang bodoh. Saya mau berjuang pintar seperti yang bung Oki ajarkan," ungkap Wayan dengan wajah penuh semangat. 

Masyarakat Moro-Moro membentuk PPMWS pada 2007, setelah mendapatkan pendampingan dari beberapa kelompok mahasiswa dan aktivis AGRA Lampung pada 2006, pasca penggusuran di Pekat dan Moro-Moro. Mereka menyadari bahwa berjuang tidak boleh serampangan, tapi harus terencana, sistematis, terkendali dan memiliki sistem evaluasi. Salah satu hal pokok yang diperjuangkan oleh PPMWS adalah kartu tanda penduduk (KTP) untuk masyarakat Moro-Moro. Sebagai kelompok masyarakat yang dianggap ilegal, perambah, pencuri, perampas tanah perusahaan, mereka dihukum dengan tidak diakui eksistensinya oleh pemerintah setempat. "Jangankan KTP, bayi-bayi yang lahir aja nggak dikasih akta kelahiran. Bayi-bayi ilegal hahaha," Eko tertawa nyinyir membumbui perjalanan kami. 

Wajah kampung Moro-Moro yang dibangun dengan kesungguhan sejak 1997
Dibantu para aktivis di Bandar Lampung, PPMWS membuat website mereka yang beralamat di www.supportmoromoro.org. Mereka dibantu menempatkan berita-berita tentang Moro-Moro yang tersebar di banyak surat kabar di Lampung. Tentang siapa mereka, gerakan mereka dan cita-cita mereka. PPMWS seakan terlahir kembali sebagai bayi di dunia maya yang bisa ditimang seisi dunia. Sejarah tidak boleh lupa kisah mereka dan masyarakat yang tertindas dimanapun berada bisa belajar dari gerakan mereka. Bahwa masyarakat Moro-Moro bukan masyarakat sembarangan. Mereka tak bisa ditaklukan oleh penggusuran-penggusuran seribu kali pun itu dilakukan. Teman mereka semakin tahun semakin bertambah banyak, tersebar sampai ke Belanda, Jepang dan Australia.

Kami terus berjalan sambil sesekali saling melontarkan cerita-cerita tentang Moro-Moro. Udara yang panas dan sinar matahari yang terik membuat kulit wajahku memerah dan panas. Tetapi semangatku untuk mengetahui lebih banyak tentang Moro-Moro belumlah luntur. Lalu kami sampai di sebuah tempat, perbatasan wilayah Moro-Moro dan Pekat. Kami berdiri memandangi hamparan kebun singkong yang menari ditiup angin. Hamparan hijau yang menyejukkan. Rumah-rumah kecil dengan bentuk dan berbahan baku serupa berdiri rapi dengan jarak tertentu seperti rumah-rumah di kampung transmigrasi diantara kebun singkong itu. terselip satu dua pohon pisang, nangka dan jenis kayu laun. Kata 'konflik' kemudian menjadi ambigu ketika menyaksikan dengan nyata keteraturan di hamparan kebun singkong itu, seakan-akan keberadaan mereka di tanah konflik telah direncanakan oleh sekelompok orang. Aku terkesima oleh sakitnya konflik yang oleh singkong-singkong itu diterjemahkan kedalam nyanyi sunyi dibawah langit biru. 

Bersambung...

Depok, 8 September 2015

Referensi: 

  • Pujiriyani, Dwi Wulan., Oki Hajiansyah Wahab & Wijatnika. (2013). Tak Redam dalam Rajutan Kebijakan’:  Jalan Panjang Penyelesaian Konflik Agraria di Register 45 Mesuji Pasca Rekomendasi TGPF. Jogjakarta: STPN Press.
  • Wahab, Oki Hajiansyah. (2012). Terasing di Negeri Sendiri Kritik atas Pengabaian Hak-Hak Konstitusional Masyarakat Hutan Register 45, Mesuji, Lampung. Bandar Lampung: Indepth Publishing.
  • Mesuji: Anatomy of an Indonesian Land Conflict. (Agustus, 2013). (Laporan IPAC No.1). Jakarta: Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC)
  • Catatan lapangan penulis

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram