Diary of #WeSaveMoroMoro (1)



Sumber: Oki Hajiansyah Wahab, 2013
Assalammu'alaikum, 

 
Mengenal Moro-Moro:

Pertama kalinya aku mendengar tentang Moro-Moro sekitar tahun 2006 atau 2007 saat seorang sahabatku, Asnani yang juga rekan kuliahku melakukan riset disana untuk skripsinya di jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Lampung. Waktu itu ia fokus pada 'upaya bertahan hidup petani penggarap' sebagai okupan di Register 45, Mesuji sebagai wilayah konflik agraria.Teman kuliahku yang lain, M. Adrian Faturrachman melakukan studi juga disana, tetapi fokusnya adalah mengenai peran pihak eksternal dalam hal ini organisasi kepemudaan dalam membantu masyarakat Moro-Moro mengorganisir komunitas mereka. Waktu itu, aku belum menaruh perhatian pada kasus Moro-Moro sebab aku sendiri sedang fokus pada studiku di wilayah lain yang tengah membangun komunitas mereka pasca konflik. Kami sebagai mahasiswa Sosiologi memang memiliki satu keinginan kuat untuk mempelajari fenomena-fenomena sosial aktual.


Konflik agraria di Register 45 terus berlangsung. Sesekali panas sesekali dingin. Tahun 2011 aku mulai memberi perhatian dan mengikuti perkembangan kasusnya. Waktu itu aku berencana menjadikan kasus di Moro-Moro sebagai riset untuk tesisku di Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP, UI. Aku tertarik pada hal-hal berbau kebijakan sosial yang tentu saja melibatkan peran pemerintah setempat. Setelah rehat dari studi, aku berhasil menuntaskan studiku dengan tesis berjudul "Kebijakan Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial di Wilayah Konflik Agraria" dengan studi kasus pengabaian hak-dasar warga Moro-Moro sebagai warga negara. Studi ini lah yang juga membawaku melakukan riset lapangan ke kampung itu. Pada periode yang sama, seorang teman dari Pascasarjana Sosiologi UI juga melakukan riset disana, ia berfokus pada 'knowledge' masyarakat Moro-Moro terkait proses pengorganisasian komunitas mereka atas dukungan kelompok mahasiswa dan organisasi non pemerintah. 

Ketika itu, kami berdua sama-sama terinspirasi oleh buku berjudul "Terasing di Negeri Sendiri" karya Oki Hajiansyah Wahab yang diterbitkan Indepth Publishing tahun 2012, juga satu buku berjudul "Kami Bukan Superman" karya Ridwan Hardiansyah seorang jurnalis dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung. Aku telah mengenal nama Oki Hajiansyah Wahab sebagai aktivis Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Lampung jauh sebelum aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya dalam riset mengenai Moro-Moro yang kami kerjalan bersama. Saat itu Oki adalah mahasiswa program Doktor di Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Jawa Tengah. Ia telah melakukan pendampingan terhadap masyarakat Moro-Moro sejak 2006 dan beberapa makalahnya tentang Moro-Moro telah dipresentasikan dalam berbagai forum baik berskala lokal, nasional, regional hingga internasional. Terakhir, ia membawa makalahnya ke satu forum di Belanda. Sedangkan Ridwan adalah temanku di FISIP Universitas Lampung, hanya saja kami beda jurusan.

Kedua buku itu sangat populer dan menjadi bahan rujukan banyak kalangan, terutama bagi mereka yang akan melakukan riset di Register 45. Oki dan Ridwan yang memiliki koneksi hingga beberapa negara seperti Belanda, Jepang dan Australia, bahkan bisa menjual buku mereka hingga dibaca orang asing. Kedua buku tersebut sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Buku adalah alat melawan, dan dengan buku mereka memberi tahu dunia tentang kasus kemanusiaan yang terjadi di Moro-Moro. Dalam beberapa kesempatan, keduanya menjadikan buku tersebut sebagai alat mengumpulkan donasi bagi perjuangan masyarakat Moro-Moro.


Kedua buku tulisan Oki Hajiansyah Wahab dan Ridwan Hardiansyah
Pada satu kesempatan di tahun 2013, aku, Oki Hajiansyah Wahab dan Dwi Wulan Pujiriyani seorang dosen di Sekolah Tinggi Pertanahan Negara (STPN) Yogyakarta melakukan riset bersama soal Moro-Moro. Waktu itu kami dijadikan satu tim oleh panitia Sekolah Agraria sebagai wadah para periset melakukan diskusi hasil riset di bidang agraria. Riset kami yang berjudul "Bara Nan Tak Kunjung Padam': Konflik Agraria di Register 45 Pasca Rekomendasi TGPF" bisa ditemui di monografi berjudul "Membaca Ulang Politik dan Kebijakan Agraria: Hasil Penelitian Sistematis STPN", yang diterbitkan SPTN Press pada 2013. Riset ini yang membawaku ingin tahu lebih jauh tentang Moro-Moro dan okupan dalam kelompok lain di Register 45.

Sejak 2007 sampai 2014, dimana aku menyelesaikan tesisku setidaknya aku mengenali sebanyak 15 hasil riset tentang Register 45 baik dalam bentuk skripsi, tesis, hingga makalah/paper. Para periset sendiri berasal dari berbagai kalangan dan institusi. Selain aku, Asnani dan M. Adrian ada seorang relawan guru di Moro-Moro yang kuliah di STAIN Metro bernama Eko Widiyanto, yang juga melakukan riset untuk skripisinya. Dan seorang pengawai negeri sipil di Mesuji yang melakukan riset untuk tesisnya sebagai mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pemerintahan FISIP, Universitas Lampung pada 2014. Yang terbanyak melakukan riset dan menghasilkan produk riset tentu saja Oki Hajiansyah Wahab yang kemudian berkolaborasi dengan dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung, Dr. HS Tisnanta membawa makalah itu dalam konferensi Asian Law Institute (ASLI) yang ke 10 di sekolah hukum India University pada Mei 2013. Makalah mereka juga diterbitkan dalam jurnal International US-China Law Review pada 2013.

Beberapa riset tentang Register 45 masih berjalan, dan pasca penutupan sekolah di Moro-Moro pada Mei 2013 periset punya isu baru untuk diteliti. Aku berharap semua riset membuka mata kita tentang dampak negatif konflik agraria dimanapun berada. Oki Hajiansyah Wahab yang memiliki data cukup lengkat tentang Register 45 yang ditarik mundur hingga 100 tahun ke belakang bahkan sedang mempersiapkan buku terbarunya. Aku berharap draft buku itu segera mencapai kematangannya dan dilahirkan sebagai alat bicara tentang sejarah panjang kawasan Register 45.

***

Selama riset pada 2013 lalu, beberapa orang berbagi kisahnya padaku. Misalnya tentang seorang nenek berusia 70 tahun yang berasal dari kabupaten Lampung Timur, sebut saja mbah Nunik. Saat muda dulu ia adalah pekerja pabrik dan memilih mencari kesempatan bertani saat pabrik tak lagi menerimanya karena ia sudah tua dan lemah. Mbh Nunik yang merasa tidak bisa membahagiakan anak-anaknya karena hanya seorang buruh berupah rendah, berjanji pada dirinya sendiri bahwa selama ia masih sehat dan kuat bekerja ia akan terus bekerja dan menabung untuk membantu membiayai sekolah cucu-cucunya. Satu kali, saat mbah Nunik dalam perjalanan ke Palembang melewati kawasan Register 45 yang dibelah jalan lintas timur melihat lahan kosong. Ia pun mencari tahu tentang lahan itu. Entah bagaimana caranya seseorang memberinya kabar gembira bahwa lahan itu merupakan lahan pemekaran desa dan telah banyak orang membuka kebun singkong disana sebagai langkah awal.


Petani memanen singkong di Moro-Moro (Dok: Heru Islamic, 2013)

Mbah Nunik yang sangat menginginkan tanah untuk bertani, bergabung bersama orang-orang lapar tanah seperti dirinya dan mendapatkan tanahnya atas bantuan sebuah organisasi atau yang bernama LSM Pekat. Karena itu wilayah kemudian dikenal sebagai Pekat. Untuk memudahkan urusan administrasi ke pemerintah, mbah Nunik dipotret untuk kartu identitasnya dengan bayaran Rp. 200.000/orang. Ia percaya, orang-orang sekolahan akan membantu nenek untuk menyampaikan aspirasi pada presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta. Selain itu, mereka juga ditarik sumbangan senilai Rp. 500.000 per keluarga sebagai 'dana perjuangan'.  Sambil menunggu harapan terbit dari Jakarta, mbah Nunik dengan gembira menanam singkong dan memulai hidup baru dengan suaminya yang renta.

Sayang, tak lama setelah itu terjadi penggusuran oleh gabungan aparat dan tim swakarsa perusahaan. Lho kok jadi ada perusahaan? "Tanah itu ternyata milik PT. Ya saya kan ndak tahu, tahunya ya tanah itu katanya untuk pemekaran desa. Kan saya juga bayar iuran dan uang pendaftaran..." ujar mbah Nunik dengan sepasang mata memadang jauh ke halaman yang baru diguyur hujan. Ternyata, mbah Nunik dan ratusan orang lain telah ditipu para oknum bernama LSM Pekat yang tiba-tiba menghilang saat penggusuran terjadi. Masyarakat tak bisa mengklaim tanah itu, gubuk-gubuk mereka dirubuhkan dan tanaman singkong mereka yang sebulan atau dua bulan lagi menjelang panen dicabuti. Mbah Nunik tak punya harapan lagi dan kembali ke kampungnya di Lampung Timur, menumpang pada salah satu anaknya.


Sumber: Lampung Post, 12 April 2012
Tak lama, mbah Nunik kembali ke Register 45, ke kampung Moro-Moro. Ia lalu tinggal di rumah panjang, sebuah lokasi penampungan pengungsi penggusuran di Pekat sebelumnya. Bersama suaminya ia kemudian menjadi buruh di kebun singkong warga Moro-Moro. Sebagai buruh, berdua dengan suaminya ia melakukan pekerjaan apa saja seperti menanam bibit singkong, memupuk lahan, menyiangi rumput hingga mencabut singkong saat panen. "Kadang-kadang dibayar harian, kadang-kadang ya ambil borongan kalau tenaganya sanggup..." ujarnya sambil tersenyum. Sepasang matanya berbinar penuh harapan. Setiap hari, mbah Nunik bersepeda sejauh 7 km berdua dengan suaminya dari rumah panjang ke kebun tempatnya mengais rupiah. Ia berangkat jam 7 pagi dan kembali jam 5 sore. 

Saat kutanya apa yang akan beliau lakukan jika pemerintah setempat menggusur Moro-Moro juga, mbah Nunik menjawab "Saya orang miskin mbak, saya cukup bekerja keras saja selagi tanah Register ini belum digusur. Saya alhamdulillah tinggal di Moro-Moro bisa jadi buruh, bisa makan dan menabung sedikit untuk cucu saya. Terima kasih saya buat mas Oki, Mas Eko Baday itu dan Pak Nasrul yang sudah izinkan saya tinggal disini.." ujarnya sambil menyuguhkan secangkir kopi dan setoples keripik singkong buatannya. Aku lantas memujinya karena kekuatan fisiknya. Mbah Nunik hanya bilang padaku bahwa ia adalah perempuan yang kuat, sangat kuat. Sejak muda ia telah banyak melakukan pekerjaan berat dan kasar. Aku bisa melihat pada seluruh dirinya sebuah gambaran tentang kerja keras sekaligus harga diri perempuan miskin yang memilih membanting tulang hingga usia senja, daripada mengemis di jalanan.
 
Bersambung...



Depok, 7 September 2015
Referensi: 
  • Pujiriyani, Dwi Wulan., Oki Hajiansyah Wahab & Wijatnika. (2013). Tak Redam dalam Rajutan Kebijakan’:  Jalan Panjang Penyelesaian Konflik Agraria di Register 45 Mesuji Pasca Rekomendasi TGPF. Jogjakarta: STPN Press.
  • Wahab, Oki Hajiansyah. (2012). Terasing di Negeri Sendiri Kritik atas Pengabaian Hak-Hak Konstitusional Masyarakat Hutan Register 45, Mesuji, Lampung. Bandar Lampung: Indepth Publishing.
  • Mesuji: Anatomy of an Indonesian Land Conflict. (Agustus, 2013). (Laporan IPAC No.1). Jakarta: Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC)
  • Lampung Post, 12 April 2012
  • Catatan lapangan penulis

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram