Tragedi Tolikara dan Sepinya Masjid-Masjid Kita

Masjid, beranda surga di dunia.

Pasca tragedi pembakaran (atau terbakarnya) sebuah masjid di Tolikara, Papua beberapa waktu lalu banyak kelompok kemudian mengumpulkan uang untuk pembangunan kembali Masjid tersebut. Aku bahkan pernah menulis tentang lelaki bernama Pandji yang membuat proyek bernama "Bangun Kembali #Masjid Tolikara Papua" yang mampu mengumpulkan dukungan dana mencapai Rp. 289.471.263 dalam waktu kurang dari 3 hari dalam blog ini dan ternyata jumlahnya bertambah menjadi Rp. 308.983.642 dari 1.800an netizen. Setelah melakukan pembacaan terhadap media sosial, aku mendapati ternyata sumbangan yang mengatasnamakan pembangunan masjid tersebut lumayan wah! 

Dompet Dhuafa misalnya sudah menyiapkan dana senilai Rp. 2 miliar untuk pembangunan kembali masjid tersebut. Bahkan jumlahnya bisa bertambah menjadi Rp. 5 miliar jika digabung dengan dana dari lembaga lain. Sebuah angka yang fantastis. Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Jawawijaya, Papua juga melakukan hal serupa dan hanya dalam waktu 3 hari yaitu tanggal 20 Juli sudah berhasil mengumpulkan uang senilai Rp. 277 juta dan NU papua senilai R. 6 juta. Selain juta, BAZNAS juga menyiapkan dana senilai Rp. 100 juta, Rumah Zakat Rp. 50 juta. Dan, pembangunan Masjid baru untuk muslim di Tolikara pun dimulai. Kita sedang menunggu seperti apa rupa Masjid baru ini. 

Sebagai umat Islam kita tentu menunggu akan seperti apa rupa Masjid ini. Meski kita mungkin tak punya kesempatan mengunjungi dan melakukan shalat di Masjid tersebut, tetapi pasti membayangkan betapa akan sejuk dan nyamanya masjid itu. Juga berharap pembangunan kembali Masjid yang didanai publik, baik Muslim dan non-Muslim akan menjadi awal baru bagi perdamaian dan kerukunan hidup beragama di bumi Papua.

Masjid yang megah, nyaman dan sejuk layaknya surga kecil di bumi bagi setiap Muslim. Dimanapun letaknya bahkan besar atau kecilnya seringkali tak masalah, sebab Masjid selalu menghadirkan kedamaian. Seakan-akan saat melangkahkan kaki ke Masjid, kita telah sampai di sebuah beranda mungil kecil dari istana-istana di surga. Dan kita senang saat dimana-mana bisa kita jumpai Masjid dan nyaman dalam melakukan

Mengingat Masjid yang sangat mudah dijumpai dimana-mana, bahkan dengan bentuk yang sangat megah umpama istana-istana, aku jadi miris dengan kenyataan bahwa sebagian besar Masjid-Masjid ditinggalkan pengagumnya. Ya, kita umat Islam. Masjid sebagai penanda kehadiran umat Islam seringkali sepi dari shalat berjamaah dan hanya ramai pada saat shalat Jum'at, dan lebih ramai saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. 

 
Beberapa tahun lalu, seorang kaya mendirikan sebuah Masjid megah di kampung halamanku. Terletak di pinggir jalan dan dekat sebuah lokasi wisata, Masjid ini begitu kontras dengan hamparan alam yang biru dan hijau, dan rumah-rumah kecil penduduk yang merupakan petani. Pada dasarnya Masjid kecil ini diperuntukkan bagi mereka yang melakukan perjalanan untuk singgah dan melakukan ibadah. Milyar rupiah adalah angka yang disebutkan masyarakat sekitar mengenai dana pembangunan masjid tersebut. Tetapi bagiku, keberadaan masjid itu bukanlah untuk memberikan kesempatan pada manusia untuk memujaNya, melainkan menunjukkan betapa kaya di pemilik masjid, betapa banyak hartanya sampai ia sanggup membangun masjid semegah itu. Dan betapa sayu dan sedih banyak pasang mata yang menatap masjid itu ditengah kesulitan ekonomi keluarga mereka. 

Lihatlah, sebagian besar yang mampi ke masjid itu bukan untuk shalat, tapi untuk selfie, memotret diri dan mempostinganya di media sosial. "Hei, aku pernah ke Masjid ini loh, keren kan?" dan sebagaimana masjid megah tersebut yang telah kokoh berdiri, masjid-masjid lain yang tak kalah megahnya terus dibangun di berbagai tempat. 

Salahkah seseorang membangun masjid? Tidak. Aku tak pernah menyalahkan siapa pun yang memiliki kekayaan melimpah untuk membangun masjid. Itu hak mereka. Mereka yakin bahwa dengan membangun masjid di dunia maka umpama membangun istana di surga. Setiap orang boleh berupaya bahkan berlomba-lomba untuk membangun istananya di surga dengan beramal baik di dunia. 

Tetapi, adalah sangat menyedihkan saat masjid-masjid megah layaknya istana itu jika sehari-hari ia kosong melompong tanpa jamaah yang melakukan shalat lima waktu? apa gunanya kemegahan sebuah bangunan jika umat Islam lebih suka tidak shalat, atau shalat di rumah, atau alasan lainnya? atau ketika diajak shalat ia menjawab dengan lelucon "udah pernah," kemana umat Islam yang setiap shalat jum'at tiba berbondong-bondong ke masjid dan meninggalkan semua pekerjaan? apakah shalat menjadi ibadah mingguan? atau menjadi tahunan sebab masjid menjadi sangat ramai pada dua hari raya? mengapa demikian? bukankah yang wajib adalah yang lima kali sehari?
Tanda ketidakberdayaan ummat

Aku gagal paham. Sungguh. Aku tak paham pada pilihan orang-orang kaya untuk membangun istana mereka sendiran di surga, tanpa sekalian berusaha membawa serta ummat untuk shalat berjamaah lima kali sehari didalamnya, sementara ia membiarkan saudara-saudara miskinnya hidup merana dan bahkan memakan api neraka dengan terlibat hutang pada lintah darat. Menurutku, uang miliaran rupiah yang dibangunkan sebuah masjid megah dengan sedikit jamaah jauh lebih baik dipergunakan untuk membangun ekonomi ummat. Tak sudikah orang-orang kaya itu membangun sebuah lembaga simpan-pinjam tanpa bunga bagi orang-orang miskin yang haus kasih sayang saudara-saudaranya yang kaya raya? minimal di kampung masing-masing. Atau tak percayakah mereka pada janji surga yang akan diberikan kepada seseorang yang bersedekah untuk meringankan beban saudaranya? 

"Cintailah saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri," begitu pesan Nabi Muhammad SAW. Dan bukti cinta kita terhadap sesama Muslim sedang diuji dengan kesanggupan kita melepaskan mereka dari riba yang berarti api neraka dengan membelanjakan harta kita dengan sukarela atau terpaksa.

Depok, Agustus 2015 

BACA JUGA:


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram