The Museum of Innocence and Fusun's Love Story



Sore tadi, menjelang Maghrib aku baru saja menyelesaikan 5 halaman terakhir dari novel Orhan Pamuk berjudul "The Museum of Innocence". Novel berbahasa Inggris ini kubeli dari sebuah toko buku online langgananku yang sekali waktu menawarkan novel ini bersama memoar Salman Rushdie. Berbulan-bulan lamanya aku baru bisa menyelesaikan novel ini disela-sela aktivitasku, biasanya aku membacanya menjelang Maghrib atau sebelum tidur atau bahkan ketika aku sama sekali tak bisa tidur saat dunia benar-benar gelap. Aku cukup menyukai karya-karya Orhan Pamuk setelah sebelumnya aku membaca "Snow" dan "Istanbul" dalam bahasa Indonesia. Hal yang paling menarik dari penulis Turki ini adalah kepiawaiannya dalam menyajikan detail yang begitu penuh perasaan dalam setiap ceritanya. Sebagaimana diceritakannya dalam "Istanbul" ia total menjadi seorang novelist setelah memutuskan berhenti jadi pelukis karena putus cinta. Dalam "The Museum of Innocence" Pamuk seperti menulis kisah hidupnya sendiri, begitu detail, penuh penghayatan sampai hal-hal sangat sepele dan tentu saja sangat menggambarkan keseharian. Hanya saja, aku tak pernah bisa berimajinasi terhadap karyanya ini sebab mungkin karena aku belum pernah ke Istanbul, hahaha. 

Kisah ini tentang Kemal, seorang pemuda dari keluarga kaya raya di negara Turki yang miskin dan sedang berusaha meniru gaya hidup Eropa, yang menjadi pembicaraan para penggosip seantero Turki. Sebagai salah satu pewaris perusahaan besar Satsat, Kemal akan segera bertunangan dengan Sibel, perempuan dari kelasnya yang cantik, elegan dan lulusan Sorbone, Paris. Keluarga, teman-teman dan rekan kerja mereka memastikan bahwa Kemal dan Sibel adalah pasangan serasi dan akan hidup bahagia layaknya kisah Pangeran dan Puteri dalam kisah dongeng. Disela-sela kesibukan keduanya dalam pekerjaan, mereka tak lupa membantu keluarga masing-masing dalam menyiapkan pesta pertunangan mereka yang akan digelar di hotel Hilton. Para tamu undangan adalah tentu saja keluarga, kerabat dan orang-orang penting di Turki, yang juga akan diundang dalam perta pernikahan mereka. 

Tapi Kemal tiba-tiba menyukai Fusun, sepupu jauhnya yang tumbuh sebagai remaja yang sangat cantik, yang menjadi bahan gossip karena mengikuti kontes kecantikan. Fusun bekerja di sebuah toko tas ternama di Istanbul. Kemal memulai pertemuan dengan berpura-pura membeli tas, lalu mengajarinya Matematika karena Fusun ingin lulus masuk Universitas. Lalu benih-benih cinta mereka tumbuh dan mereka sering menghabiskan waktu berdua di apartemen milik Kemal. Fusun memberikan keperawannnya kepada Kemal, yang ia tahu akan menikah dengan Sibel. Pemuda itu tergila-gila pada Fusun dan bimbang bagaimana caranya menghentikan rencana pertunangannya dengan Sibel. Ia tak ingin melakukan kesalahan dengan mempermalukan keluarganya dan keluarga Sibel jika ia menolak menikah setelah mereka bertunangan hanya untuk menikahi gadis miskin jelita yang merupakan saudara jauhnya sendiri. Dalam kebimbangan itu, Ia tetap menjalani hari-hari indahnya dengan Fusun dan sesekali menghabiskan waktu dengan Sibel dan teman-teman mereka. Bersama Sibel, Ia menjadi pura-pura senang sebab yang ada dalam kepalanya hanya Fusun, Fusun, Fusun, Fusun

Pesta pertunangan Kemal dan Sibel berlangsung megah, Fusun dan kedua orangtuanya datang memenuhi undangan. Kemal sangat cemburu saat banyak pria menatap Fusun dan ingin berdansa dengannya. Segala hal tentang Fusun adalah sempurna, kecuali keluarganya yang miskin. Fusun adalah tipe kecantikan yang bisa membuat setiap laki-laki tergila-gila dan gadis itu tengah mekar. Ia umpama seorang bintang yang dipuja seisi negeri. Dalam pesta pertunangannya sendiri, Kemal sangat ingin berdansa dengan Fusun.

Setelah malam pertunangannya Kemal tak pernah lagi melihat Fusun. Lalu hidup Kemal berubah untuk selamanya. Ia lebih banyak menyendiri di apartemennya dan memperhatikan semua barang-barang yang pernah Fusun sentuh seperti kaca jendela, sofa, asbak, puntung rokok, gelas. Fusun dan keluarganya telah pindah entah kemana dan tak seorang pun membantunya untuk mencari Fusun sekedar untuk tahu apa alasan gadis itu pergi dan membuat hidupnya jadi gila. Sibel yang mulai mencium kegilaan Kemal tak ingin kehilangan tunangannya pada gadis yang kedudukannya berada dibawahnya, anak remaja lulusan SMA dengan perempuan lulusan Sorbone yang modern. Karena itu Sibel berusaha menyenangkan Kemal dan mereka hidup bersama dalam satu apartemen selama tiga bulan. Mereka berdua kemudian menjadi pembicaraan publik karena pata tahun 1970an keperawanan calon pengantin wanita dan hidup bersama sebelum pernikahan adalah isu yang sangat krusial, meski sebagian masyarakat Turki yang tengah berkiblat ke Eropa mulai meniru gaya hidup Barat dengan diam-diam atau terang-terangan. Tetapi Sibel tak peduli selama ia tak kehilangan tunangannya.

Tapi kemudian Kemal tak tahan lagi. Meski Sibel melanggar tabu hanya untuk berusaha mengembalikannya pada kondisi sebelum ia bertemu Fusun, Kemal tak bisa dikembalikan. Ia telah menjadi pemuda yang hilang semangat. Lalu mereka memutuskan pertunangan dan membuat gempar masyarakat. Kemal memilih sibuk mengusur perusahaannya, mengenang Fusun dan kisah mereka di apartemen miliknya dan mulai mencari keberadaan Fusun di setiap sudut Istanbul. Kemal merasa dirinya sudah gila dan melihat bayangan Fusun muncul tiba-tiba, dimana-mana, seperti hantu. Ia semakin penasaran dan meyakini bahwa Fusun masih hidup. Surat-suratnya yang dititipkannya melalui sahabat Fusun tak berbalas. keluarga Fusun menghilang tanpa jejak dan membuat Kemal frustasi. 

Suatu hari ia menerima balasan Fusun dan gadis itu menuliskan alamat mereka tinggal. Karena rindu tak tertahankan, Kemal mengunjungi keluarga Fusun yang tinggal di sebuah pemukiman biasa dengan apartemen kecil mereka. Ia berangan-angan akan melamar Fusun saat itu juga dan mengajaknya menikah. Maka ia menyiapkan sebuket bunga dan sepasang anting pemberian ayahnya untuk calon istrinya. Kepalanya dipenuhi imajinasi tentang hari pernikahan, rumah baru, anak-anak dan hidup yang bahagia.

Sayangnya, seorang lelaki berdiri disamping Fusun saat keluarga itu menyambut Kemal. Fusun telah menikah lima bulan lalu dengan lelaki bernama Feridun, seorang pemuda yang bercita-cita membuat film dan akan menjadikan Fusun sebagai salah satu selebritis paling bercahaya di Turki. Awalnya, Kemal merasa dikhianati oleh Fusun dan berusaha fokus pada pekerjaan untuk melupakan gadis itu. Tapi ia merubah keputusannya dan mengganggu keluarga Fusun dengan mengunjunginya hampir setiap hari untuk makan malam. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan Fusun, menikah dengannya dan hidup bahagia selamanya. Selama delapan tahun, ia terus melakukan kunjungan ke rumah Fusun dengan alasan ingin makan malam masakan ibunya Fusun. Meski Fusun telah menikah, setidaknya ia punya alasan untuk mengobrol dengan ibunya, mencuri-curi kesempatan ngobrol dan berdua dengan Fusun, menonton berita bersama keluarganya, berkomentar tentang lukisan Fusun dan bersama Feridun berusaha memuluskan jalan Fusun menjadi selebiriti. Ia lalu menjadi investor untuk Lemon Film dimana mereka akan membuat sebuah Film yang kisahnya disadur dari kisah Ottoman tetapi mirip dengan kisahnya dan Fusun, dan seputar keperawanan perempuan. 

Selain untuk bertemu Fusun, ternyata kunjungan Kemal memiliki maksud lain. Sebab ia percaya pada akhirnya ia akan menikah dengan Fusun dan tinggal di rumah mereka, maka Kemal mulai mengambil barang-barang kecil seperti sisir, puntung rokok dan bungkus rokok Fusun, jam, wadah parfum, sepatu dan barang-barang lain milik Fusun dan ia kumpulkan di apartemennya. Ia menikmati kesenangan yang aneh dengan bersama-sama Fusun dan Feridun nonton film di bioskop selama musim Panas dan bersyukur bahwa proyek film pertamanya dengan Feridun menjadikan artis lain bernama Papatya sebagai peran utama menggantikan Fusun. Film itu sukses di pasaran dan ia sangat senang Fusun akan terhindar dari kehidupan artis yang menyebalkan. Sampai kemudian, gossip tentang skandal Kemal dan Fusun mulai memanas bahkan muncul di koran beberapa kali. Alih-alih marah, Kemal menikmatinya sebab kini dunia tahu bahwa ia adalah lelaki yang setia pada kekasihnya. Harapannya untuk menikah dengan Fusun tak pernah padam.

Suatu hari ayah Fusun meninggal dunia dan Feridun yang memang berselingkuh dengan seorang artis bernama Papatya berencana mengajukan cerai pada Fusun. Kemal mengurus proses perceraian itu dan mendapatkan Fusun kembali. Mereka merencanakan pertunangan dan pernikahan sebagaimana masyarakat pada umumnya. Namun, suatu hari dalam keadaan mabuk, tak berapa lama setelah pertunangan mereka, Fusun mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, bertengkar dengan Kemal karena Fusun tahu bahwa lelaki itu sengaja menghambat jalannya menjadi bintang di Turki. Sebuah tabrakan terjadi. Fusun meninggal dunia. Kemal seperti kehilangan hidupnya sendiri dan mulai merancang pembangunan Museum of Innocence untuk mengenang Fusun. Ia lalu membeli rumah Fusun di Cukurkuma dan membelikan apartemen yang baru untuk ibu Fusun. Ia membawa serta semua barang-barang fusun yang telah ia kumpulkan di apartememnya, termasuk gaun Fusun yang sangat ia sukai. Lalu ia meminta penulis Orhan Pamuk untuk menuliskan kisahnya, kisah Fusun yang ia cintai. 

Dan kejutannya adalah Museum of Innocence benar-benar ada di Cukurkuma, Beyoglu, Istanbul dan bangunanya dibeli dari keluarga Taksin sebagaimana diceritakan dalam novel. Apakah ini kisah nyata? dan ternyata bukan. Novel dan museum ini sama-sama saling memberi inspirasi pada penulisnya. Ia menulis berdasarkan hal-hal yang ia kumpulkan untuk membangun museum. Jadi, isi museum dan cerita dalam novel nggak akan jauh berbeda. Museum ini dibuka pada 2012, setelah novelnya launching pada 2008. Barang-barang yang dipamerkan dalam museum ini sendiri merupakan barang-barang yang ia kumpulkan sejak kecil, termasuk lukisannya atau yang ia peroleh dari orang lain dan photo-photo. Isi museum seperti benar-benar semua hal tentang Fusun sebagaimana dalam novel. Benar-benar kreatif, sekali mendayung dua pulau terlampaui dan Orhan Pamuk berhasil mengumpulkan pundi-pundi melalui keduanya. Sangat cerdas! 

Museum ini dinominasikan mendapatkan penghargaan The Designs of the Year awards dari the London Design Museum pada 2013. Sebagai novelist yang menulis dengan serius dan bergaya sangat khas, Orhan Pamuk telah menempatkan dirinya sebagai salah satu penulis terbaik dunia. Karya-karyanya diterjemahkan kedalam lebih dari 55 bahasa. Tidak sia-sia dia putus cinta, titik baliknya dari berbarir sebagai pelukis yang tak memiliki masa depan di Turki justru menjadikannya dekat dengan seni dengan caranya sendiri. Dan Museum ini adalah bukti bahwa ia benar-benar seniman yang memiliki anugerah imajinasi tak terbayangkan.

Koleksi Museum of Innocence
Orhan Pamuk dan Koleksi di dalam Museum of Innocence
Koleksi dalam Museum of Innocence

Baiklah, jika kelak aku berkesempatan ke Turki akan mengunjungi museum ini. Mungkin, aku juga akan bertemu dengan Orhan Pamuk dan mengobrol dengannya seputar dunia kepenulisan. Aku salut, sebab lelaki tampan ini telah menghasilkan banyak karya yang mendunia. Dan aku, tentu saja akan berusaha mendapatkan karya-karyanya yang lain, membacanya, menuliskan pendapatku di blog ini dan menyimpannya untuk kuwariskan pada keturunanku kelak. Buku, selalu menjadi sahabat terbaikku sejak 25 tahun lalu....


Depok, 15 Agustus 2015
Sumber:

http://www.hurriyetdailynews.com/orhan-pamuks-museum-of-innocence-in-london.aspx?pageID=238&nid=43251
http://www.zehraoney.com/en/2015/03/29/take-digital-tours-of-the-museum-of-innocence-the-sakip-sabanci-museum-and-the-pera-museum/
http://en.people.cn/102774/7948113.html

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram