Sebuah Buku Wajib Bagi Kaum Tertindas




Akhir-akhir ini mata dan telinga kita begitu muak disuapi soal-soal penindasan. Kisah sangat panjang tanpa akhir antara si penidas dan si tertindas yang baku hantam dan adu nyawa umpama sabung ayam yang disaksikan petugas berseragam. Sampai-sampai penindasan senior-junir di sekolah-sekolah. Tetapi konyolnya, beberapa yang tertindas seringkali menjadi penindas bagi yang tertindas lainnya. Mewariskan lingkaran tindas-menindas. Ah, jadinya tindas menindas. Teru saja begitu. Lalu kita hanya bisa mengumpat, tak berani bertindak benar karena takut. Takut ikut ditindas. Nah, soal tindas-menindas ini seorang lelaki bergelar Doktor dari Brazil, Paulo Freire punya sebuah resep untuk kita (eh?) yang merupakan penindas ataupun tertindas. Karena bisa jadi dia yang penindas adalah juga yang tertindas. Begitulah, acak kadut tak karuan umpama benang kusut tak tahu pangkal tak tahu akhir. 

Rupanya resepnya berupa buku sodara-sodara. Buku yang kita sering bilang  sebagai makanan utama kaum terpelajar selain jurnal dan novel sebagai camilan. Hey, itu dulu waktu pikiran kita masih tertindas (sebab berkata bahwa buku hanya dominasi segelintir kaum yang bisa membelinya). Buku bukan semata-mata alat belajar bagi mereka yang mengejar gelar. Melainkan isi kepala dan pemikiran seseorang dimana kita bisa belajar sesuatu tanpa harus bertemu penulisnya, apalagi kalau si penulis sudah meninggal dunia. Ibarat sebuah jembatan, buku menjadi penghubung antara buah pikir seseorang dengan para pembacanya. Karena itu buku menjadi penting bagi semua orang dari semua usia, golongan, agama, suku, pilihan politik, tinggal di kota atau desa, berpenghasilan besar atau kecil, laki-laki atau perempuan, dan bagi semua profesi dari buruh hingga presiden. 

Paulo Freire, sang Doktor pemilik resep berupa buku ini merupakan sosok yang sangat peduli soal 'Pendidikan Kaum Tertindas'. Nah, jadi sekarang kaum tertindas tak perlu takut sebab ada pendidikan untuk tidak lagi tertindas. Paulo mengatakan bahwa sungguh tidak manusiawi jika manusia melakukan penindasan pada sesamanya, dan akan sangat tidak manusiawi lagi jika dalam melakuan tugas-tugas kemanusiaannya manusia justru melakukan penindasan atau si tertindas yang berubah menjadi penindas. Bagaimanapun juga seorang penindas tidak akan menemukan dirinya mampu membebaskan dirinya sendiri dari menindas diri sendiri. 

Sang tertindas dan penindasnya
Suatu kali, bertahun-tahun lalu aku mengikuti serombongan kawan-kawan aktivis untuk melakukan investigasi kasus pencemaran sebuah parbrik pengolahan karet di sebuha lokasi hutan yang sebenarnya dilarang undang-undang didirikan pabrik (kata undang-undang loh). Karena tidak ingin ditindas satpam perusahaan yang suka mengusir-memukul pakai pentungan, kami masuk pakai mobil macam pejabat dari kantor di Provinsi yang mengontrol sumber upeti. Kami selamat dan punya banyak data. Perushaan itu juga memiliki konflik dengan petani plasma, yang kasusnya tiba-tiba redup dari perhatian media. usut punya usut tenyata ada loh dua korban penindasan kelompok petani dan keduanya mendekam dipenjara sudah lebih dari satu tahun. Bayangkan, sekelompok orang yang ditindas akhirnya melakukan penindasan kepada sesamanya dan mengirim mereka ke penjara. Inilah yang disebut si tertindas dalam perjuangan kemanusiannya untuk menghukum si penindas malah menjadi penindas itu sendiri. Si penindas dan si tertindas kemudian tak bisa bicara karena mereka dibatasi tembok penjara. Apakah si penindas takut dirinya akan ditindas si penindas kakap?

Karena itu Freire dalam resepnya tentang 'Pendidikan Kaum Tertindas' agar manusia mendidik dirinya untuk jeli, kritis, dan waspada terhadap kebijakan-kebijakan yang melakukan penindasan, bahkan dalam institusi pendidikan sekalipun. Meski kita seringkali tidak sadar berada dalam kondisi tertindas dan hidup tenang-tenang saja dalam ketiak di penindas. 

Jangan bungkam suara-suara kami
Freire mengingatkan bahwa kaum tertindas yang telah menyesuaikan diri dalam struktur penindasan, dimana mereka tenggelam dan pasrah dalam kubangan penindasan tidak usah coba-coba memperjuangkan kebebasan selama merasa belum/tidak mampu menanggung resiko sebuah perlawanan. Karena perjuangan merebut kebebasan bukan saja mengamcam nasib kaum penindas, tetapi juga kelompok tertindas yang takut akan terjadi penindasan lebih hebat. Jika memang seseorang menemukan dalam dirinya kehendak untuk membebaskan diri, maka ia tak bisa sendirian, sebab keinginan itu juga harus ada dalam diri kelompoknya yang tertindas. Bagaimanapun kelompok tertindas ini tinggal di dua sisi. Pertama mereka punya kehendak untuk bebas dan melawan, tapi disisi lain mereka takut resiko memperjuangkan kebebasan. Terutama ketika si penindas mulai menaburkan rasa cemas dan takut kedalam hati kaum tertindas. 

Jadi bagaimana? sudahkan kita tahu dimana posisi kita masing-masing antara menjadi penindas atau tertindas atau menjadi keduanya?  Nah, menyoal buku ini, kupikir setiap orang yang sedang memperjuangkan kebebasan 'harus' membaca dan mempelajarinya, sendiri-sendiri maupun berkelompok dalam sebuah diskusi. Apalagi sekarang sedang ramai penggusuran kampung-kampung miski-kumuh yang merusak pemandangan (katanya ya) daripada mall-mal yang membuat semua orang merasa tinggal di istana. Juga hutan-hutan dan pantai-pantai yang seyogyanya merupakan tempat kaum miskin-papa menyambung hidup. Peristiwa demikian kan selalu terulang dna kita harus tahu dimana kelemahan kaum tertindas terhadap para penindas ini, apakah karena si tertindas takut atau justru di penindas takut aroma kemiskinan. 

Depok, Agustus 2015





Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram