Pesan Kehidupan dari Biksu Muda yang Turun Gunung

Monk Comes Down the Mountain
Assalammualaikum, 

Pada suatu kuil Buddha di sebuah gunung di China tahun 1930, seorang biksu tua guru berfikir bahwa tak semua orang bisa tinggal di kuil karena sulit memberi makan murid yang banyak sehingga harus ada biksu-biksu muda yang keluar dan tercebur ke dunia luar yang penuh hasrat dan kerakusan. Seorang Biksu muda bernama He Anxia berhasil mengalahkan biksu muda lainnya dalam pertandingan dan berharap kemenangannya akan membuatnya tinggal selamanya di kuil. Sayangnya, yang menang justru yang harus ke luar kuil, turun gunung dan berbaur dengan dunia luar yang penuh hasrat itu. Anxia yang tinggal di kuil sejak bayi karena dibuang kedua orangtuanya tak tahu apa-apa soal kehidupan di luar kuil yang kompleks, bahkan ia tak tahu bahwa makanan harus diperoleh dengan cara membeli. Ia tak tahu ada benda bernama uang untuk membeli apapun. Sampai kemudian ia mencuri makanan seseorang dalam aksi kejar-kejaran yang heboh, dimana orang tersebut adalah mantan biksu yang menikah dengan seorang perempuan cantik. Sang mantan biksu menjadi dokter dan memilki sebuah klinik. Anxia kini menjadi anak buahnya dan tak perlu kelaparan dan menggelandang. 

Pada suatu hari Anxia mengetahui bahwa istri sang bos ternyata berselingkuh dengan adik bosnya. Adik sang bos kemudian memberi pil kenjantanan yang kemudian membunuh sang bos. Pasangan selingkungan itu benar-benar tak tahu malu dan mereka keluar untuk berlayar di danau pada hari ke 7 kematian sang bos. Anxia sungguh kesal dan kasihan pada roh sang bos. Karena itu ia membuat kapal pasangan selingkuh itu bocor, mereka tenggelam dan mati. Karena takut Anxia datang ke sebuah kuil untuk bertobat. Seorang biksu senior bernama guru Rusong disana memerintahkan Anxia untuk tidak bersembunyi di kuil atas dosa yang dilakukannya. Dosa tak bisa disembunyikan sebab dia bersemayam dalam diri manusia. Untuk mengetahui apakah Anxia melakukan hal salah atau benar terhadap pasangan selingkuh itu, sang biksu menyarankannya untuk bertobat dengan menemukan jati dirinya. Seperti mengisi sebuah mangkuk kosong dengan bubur yang lezat atau obat yang pahit.

Lalu ia kembali ke rumah bosnya dan melanjutkan usaha gurunya. Hari itu seorang pemuda tampan datang meminta arak penghancur organ dalam. Ia berniat melawan gurunya dalam sebuah pertandingan untuk memperebutkan posisi ketua perguruan. Lalu ia mengikuti pemuda tersebut dimana ia bertemu gurunya dan berhasil mengalahkan gurunya dengan jurus 'Pukulan Sembilan Naga' yang ia curi dari gurunya. Sang guru mengakui kekalahannya dan memintanya jadi ketua perguruan untuk menggantikannya, tapi kemudian membunuhnya karena sang guru sebenarnya hendak menjadikan putranya sebagai penerus perguruannya. Keesokan harinya datanglah pemuda lain bernama Qizi yang merupakan anak ketua perguruan, Peng Qianwu yang berkata bahwa ia butuh arak penghancur organ dalam untuk melawan seseorang yang melukai ayahnya. Sebagai bayarannya ia akan memasak menu ayam untuk Anxia. Tapi ternyata ayam itu beracun dan saat mereka memakan sepotong dagingnya wajah mereka berubah. Karena wajah mereka jelek maka mereka berniat melakukan kejahatan dengan mencuri kas kuil dan mabuk-mabukan dengan uang curian itu. 


Guru Zhao yang bijaksana
Mereka berdua lalu pergi ke sebuah kuil dan mencuri kotak amal. Sayangnya, mereka dihadang oleh seseorang berilmu hebat tapi menyamar sebagai penyapu sampah kuil. Lelaki itu ternyata bernama Zhao, saudara seperguruan ayah Qizi yang mewarisi perguruan dari kakek Qizi. Ayah Qizi adalah pendekar yang kemana-mana menggunakan payung berwarna hitam dengan motif jaring laba-laba sebagai salah satu senjatanya. Di kuil itu Anxia juga bertemu dengan seorang perempuan yang berdoa kepada Buddha agar memberinya seorang anak laki-laki, karena ia dimarahi ibu dan ibu mertuanya karena belum juga memiliki anak. Anxia yang gagal tidur dengan istri bosnya kini berimajinasi bercinta dengan perempuan itu. Pikiran Anxia si biksu mungil mulai diracuni kecantikan perempuan. Anxia juga terlibat pertarungan antara Zhao dan ayah Qizi dimana ia bisa melihat kehebatan jurus 'Serangan Kera' yang berasal dari cahaya rembulan. Anxia belajar bahwa intisari dari Kung Fu adalah kecepatan. Anxia juga melihat bagaimana ketika kedua pendekar itu menggunakan payung dan sapu sebagai senjata yang sangat hebat. Zhao memenangkan pertarungan itu dan Anxia sangat ingin menjadi muridnya dengan syarat harus rela merana dan tidak memiliki dendam. Sebagai murid guru Zhao, pertama-tama Anxia harus belajar menyapu halaman kuil seharian untuk melatih kesabaran. Sampah umpama kebencian, kejahatan dan hasrat yang harus dihilangkan dengan kebaikan yang dilakukan dengan sabar. 


Pendekar
Guru Zhao mengatakan bahwa kehidupan itu memiliki gelap dan terang. Bunga-bunga dan tumbuhan memuja matahari dan mereka menghadap matahari. Sementara binatang menyukai malam dan mengambil kekuatan rembulan, kecuali kera. Kera menyukai matahari dan memandangi cahaya matahari dengan sepasang matanya. Karena itu kera bisa menjadi bijaksana dan berlari-melompat secepat angin. Itulah manusia yang terus berlatih dalam hidupnya. Dilatih untuk memahami kedahsyatan halilintar, keindahan bunga-bunga yang bermekaran, siulan angin yang lembut, dan salju yang berjatuhan. Kebijaksanaan Zhao dalam pencapaian ilmu Kung Fu mampu membuatnya melihat goyangan rumput, perpindahan batu, kepakan sayang burung terbang. Sayangnya, beberapa jam kemudian Qizi datang menembak Zhao demi membalaskan dendam penderitaan ayahnya. Zhao sekarat, tetapi sebelum kematiannya ia ingin menemui Bos Zha, teman berlatih jurus 'Serangan Kera' saat mereka menjalankan wajib militer dan ikut perang. Zha adalah seorang aktor yang dikeluarkan dari teater karena ketahui menghisap opium, sementara Zhao tengah bersembunyi dari seseorang karena sebuah alasan. Mereka berdua selamat dari sebuah serangan udara dan hampir mati. Mereka berjanji untuk membuka lembaran hidup yang baru. 

Selepas kematian Zhao, Anxia menemui Bos Zha di sebuah teater dimana Zha menggunakan kemampuan kungfunya untuk memberikan hiburan. Bos Zha kemudian berhasil mengalahkan pasukan seorang pejabat karena ia menolak pentas untuk sebuah urusan. Si pejabat kemudian bersekongkol dengan Peng Qianwu untuk membunuh Zha dengan mengadakan sebuah pertarungan antara Peng dan Zha di Bukit Sembilan Mil dimana sang pejabat dan Peng akan mengepung Zha dengan pasukan mereka masing-masing. Zha bilang pada Anxia bahwa seseorang harus menegakkan keadilan meski ia dijebak secara licik. Kejahatan hanya akan berkembang jika orang-orang baik berdiam diri. Sikap diam bisa jadi merupakan wujud dari kejahatan. Zha ingin membersihkan noda ketidakadilan seperti membersihkan darah dari kapas. 
Keindahan Kung Fu
Setelah mengalahkan pasukan Peng, mereka pun bertarung menggunakan pikiran masing-masing. Mereka berimajinasi melakukan pertarungan serupa menendang, memukul, meninju, melompat, berlari sampai salah satu diantara mereka kalah. Sayang Peng masih menganggap bahwa menjadi yang terhebat adalah Haknya sebagaimana mewarisi perguruan dari ayahnya, sedangkan bagi Zha kung fu merupakan seni. Feng juga lupa bahwa Zha menguasan jurus 'serangan kera' berkat kekuatan matahari. Namun, ketika Zha akan menghabisi Feng, anaknya Qizi mengaku bahwa ia yang membunuh Zhao dan Qizi tahu Zhao tak memberi tahu siapa pun tentang pembunuhnya karena Zhao memang berniat menghentikan lingkaran balas dendam antar perguruan dan antar pendekar. Agar satu nyawa tidak hilang untuk membalas hilangnya nyawa yang lain. Mendengar itu Peng tiba-tiba mengambil pedang Zha dan bunuh diri agar putranya diampuni. Tetapi kemudian sang pejabat menembak Zha dari jauh. Anxia dan Qixi mengejar si pejabat, Zha yang terluka membantu mereka dengan melemparkan si pejabat dan mobilnya ke danau. Si pejabat jahat pun mati. 

Anxia kembali ke gunung dengan boz Zha dan memahami mengapa ia diusir dari kuil oleh gurunya, dimana ia mengerti cara dunia bekerja untuk paham jalan Tuhan, untuk memahami kehidupan manusia. Manusia tidaklah suci jika ia belum bisa mengendalikan nafsu dan hasratnya meskipun ia seorang biksu yang bertahun-tahun tinggal di kuil Buddha. Tetapi manusia bukan berarti jahat dan tidak suci jika ia tinggal di kehidupan yang penuh hasrat, nafsu dan kerakusan. Bertahun tahu kemudian ketika Anxia memiliki murid ia berkata pada murid-muridnya bahwa jalan Tuhan dan kehidupan adalah keseimbangan. Hidup itu sendiri seperti bumi dan semesta yang pahit-manis, susah-senang, siang-malam, gunung-lembah, air-api sebagai keseimbangan. Orang-orang berhati baik akan paham bagaimana menjalani hidup dengan bijaksana dengan belajar pada alam. 

Kisah ini merupakan cerita dalam film terbaru negeri tirai bambu berjudul Monk Come Down the Mountain yang kini menempati posisi tinggi Box Office. Film yang diangkat dari sebuah novel berjudul serupa karya Xu Haofeng ini diproduksi oleh New Classics Media Corp, Beijing 21st Century Shengkai Film and Columbia Pictures menghabiskan dana US$64.28 juta.  Film yang disutradarai Chen Keige ini rilis pada 3 Juli 2015 dan telah mengumpulkan jutaan dollar dari pemutaran di minggu-minggu perdananya. Film yang keren dan penuh pesan tentang kehidupan ini tidak boleh dilewatkan pada pecinta film. 

Depok, Agustus 2015




Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram