Mengenal Yusui Santetsu Sang Japanese Galileo


Assalammu'alaikum,

Kita manusia-manusia yang hidup di zaman yang telah banyak berubah ini hidup berdasarkan aturan-aturan yang dibuat ratusan hingga ribuan tahun silam oleh nenek moyang kita. Misalnya cara menghitung hari dan tahun, yang dengan mudah diperoleh dengan melakukan penghitungan dalam kalender. Bahkan kalender kini terdapat dalam ponsel cangggih, jadi bikin kita nggak perlu takut lupa waktu. Nah, secara umum di seluruh dunia kita menggunakan kalender Georgian atau disebut juga kalender Masehi/Matahari yang dibuat oleh orang Romawi tak lama setelah kelahiran Nabi Isa,as. Meski ada juga kalender China, kalender Islam dan kalander-kalender lain seperti kalender matahari bangsa Maya di Amerika Tengah yang sempat menghebohkan dunia beberapa tahun silam. Tapi bagaimanakah sebenarnya kalender dibuat dan apakah setiap bangsa memiliki kalender berbeda?

Adalah seorang pemuda bernama Yusui Santetsu, seorang pemain GO dari keluarga samurai yang sangat tertarik pada puzzle matematika dan bintang-bintang di langit malam. Santetsu hidup pada masa akhir Edo Period pada abad ke 17, yaitu zaman-zaman transisi kehidupan Jepang tradisional yang terisolir dari pergaulan internasional menuju Restorasi Meiji yang kemudian membentuk Jepang menjadi seperti sekarang. Orang Jepang, sebagaimana masyarakat dunia pasa umumnya ketika itu masih percaya bahwa bumi itu datar sedangkan dunia mulai digoncangkan oleh teori Copernicus tentang matahari sebagai pusat tata surya. Pada waktu itu juga kekaisaran Jepang menggunakan Kalender Taito secara resmi, dan secara umum ada beberapa kalender yang digunakan masyarakat Jepang yang berasal dari Dinasti Tang di China, yaitu kalender Senmyo dari abad ke 8. Kalender tersebut memiliki selisih dua hari dengan kalender yang dikembangkan Santetsu bersama guru-gurunya. 

Puzzle matematika
Para guru dan orang-orang bijak waktu itu sangat memahami fungsi kalender. Dalam banyak budaya kalender dapat mengatur langgengnya kekuasaan, dimana penguasa dapat mengontrol rakyatnya secara penuh. Kalender memiliki pengaruh besar terhadap kegiatan keagamaan, pemerintahan hingga perekonomian. Kalender hanyalah sekumpulan angka dan prediksi dalam selembar kertas, namun is bisa mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan. Karena itu, Santetsu dan guru-gurunya mendapat mandat untuk melakukan observasi ke seluruh Jepang dari Shogun (pemimpin setingkat gubernur dalam pemerintahan militer Samurai) klan Aizu. Selama lebih dari setahun Santensu dan tim pun melakukan observasi di berbagai tempat dan berbagai cuaca dengan panduan binta utara. Dalam ilmu perbintangan, bintang uatar dikenal sebagai bintang pemandu karena posisinya yang tidka pernah berubah. 

Setelah melakukan observasi yang melelahkan rumit, Santetsu melakukan berbagai perhitungan detail dan mencocokkan hasil observasi mereka dengan tiga kalender yang selama ini menjadi acuan bangsa Jepang, yaitu kalender Senmyo dari dinasti Tang, kalender Jyuji yang disebut juga the Zenith Calendar dan kalender Taito dari dinasti Ming. Untuk lebih memantapkan penyusunan kalender, mereka juga mempelajari buku harian kekaisaran dan berbagai buku teks dari China. Upaya ini kemudian tak berhasil karena ternyata Santetsu yang kemudian menggunakan kalender Jyuji tidak membaca sebuah kesalahan matematika sehingga membuat usahanya gagal. Ia kemudian dibenci seorang ahli matematika seantero Jepang. Bahkan, lokasi observasi mereka pun dibakar oleh pohak oposan dan membuat salahs eorang guru Santesu meninggal karena terpanah. 

Dalam keputusasaan, istri Santetsu yang selama ini terus mendukung upayanya menyatukan kalender Jepang memaksa santetsu untuk bangkit. Mereka pun membeli beberapa alat dari orang asing seperti peta dunia, teropong bintang, alat-alat pengukur hingga sebuah globe. Mereka kemudian terpana ketika melihat bahwa dunia itu sangat luas dan Jepang adalah pulau yang sangat kecil. Juga ketika tahu bahwa sebenarnya dunia itu bulat, bukan datar sebagaimana selama ini diyakini. Santentsu juga berusaha memahami bagaimana pengaruh pergerakan matahari dan bulan terhadap cahaya di bumi dan kemudian ia menemukan teori perbedaan waktu di wilayah-wilayah di Jepang. Karena inilah ia melakukan penyempurnaan atas kalendernya dan menamainya "Kalender Yamato". 

Sayangnya, pihak pejabat kerajaan menentang reformasi kalender Taito ke kalender Yamato karena mereka meragukan kredibilitas Santetsu sebagai ilmuwan. Dalam tradisi kerajaan Kalender dipengang oleh keluarga tertentu dimana mereka bisa mengendalikan Kaisar terkait acara-acara keagamaan, pemerintahan dan ekonomi. Petisi Santetsu untuk melakukan reformasi pun ditolak kaisar. Namun, seorang pejabat istana berusaha membantu Santetsu karena ia yakin Jepang harus punya kelander nasional dan meninggalkan kalender Taito yang sudah digunakan selama 800 tahun. Konflik dalam Shigunate dan pejabat pemerintahan pun semakin meluas, dimana sebagian mereka mendukung reformasi kalender dan sebagiannya lagi menolak.


 

Karena Santetsu tak bisa mempengaruhi kaisar, maka atas bantuan timnya dan seorang pejabat kerajaan, mereka membuat semacam taruhan di depan publik. Kalender Yamato telah memprediksikan akan terjadi gerhana matahari total pada suatu siang, dimana gerhana itu hanya terjadi dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja. Pejabat kerajaan menantang Santetsu untuk bunuh diri jika teorinya gagal dan pada hari itu tidak ada gerhana matahari. Dan pada hari yang ditentukan, penduduk sudah berkumpul untuk menyaksikan gerhana, dan Santetsu nyaris saja melakukan Hara Kiri disaat kemudian gerhana matahari total muncul dan menjadi sejarah baru bagi Jepang. Kalender Yamato menjadi terkenal senatero Jepang dan kaisar Jepang meresmikannya sebagai kalender Jynkyn. Yusui Santetsu kemudian dikenal sebagai Ilmuwan Perbintangan Nasional pertama di Jepang dan memiliki nama lain sebagai "Japanese Galileo". 
 
Film yang detail, indah dan berlatar sejarah ini bersetting pada masa Tokugawa (1603-1863) menggambarkan bahwa pada masa itu banyak kaum muda dan terpelajar melakukan reformasi mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Jepang yang telisolir selama ratusan tahun mau tak mau harus melakukan penyesuaian agar mereka tak kalah dengan bangsa asing yang saat itu sudah mulai melakukan kontak dengan Jepang dan bahkan telah banyak tinggal di China. Dan setiap reformasi selalu menggambarkan penerimaan dan penolakan. Para penguasa yang telah hidup nyaman di istana-istana mereka yang indah dengan pakaian dan makanan jauh lebih baik dari orang kebanyakan, jelas menolak hal-hal yang akan mengurasi kekuasaan mereka atas orang banyak. Sementara anak-anak muda terpelajar justru tertantang untuk melakukan perubahan dan ingin agar Jepang menjadi negara yang kuat dan tak dipandang bangsa asing sebagai bangsa terbelakang dalam ilmu pengetahuan. 

Jokyo Calendar peninggalan Yusui Santetsu yang dipublikasikan tahun 1729 dan disimpan di The National Museum of Nature and Science di Tokyo, Jepang.
Dari banyak film Jepang, film karya sutradara Yojiro Yakita ini terpilih untuk mewakili jepang dalam The Toronto Japanese Film Festival. Mark Schilling, seorang kontributor Japan Times menuliskan dalam reviewnya bahwa film ini sangat manis dan indah dengan detail yang memikat tentang proses sangat tradisional dalam pembuatan kalender dan kegiatan observasi perbintangan yang pernah dibuat. Dia bahkan menulis bahwa film ini bisa jadi sebagai film terbaik tentang proses pembuatan kalender. 

Depok, 21 Agustus 2015

Sumber gambar:
http://rabble.ca/blogs/bloggers/film-festivals-toronto/2013/06/film-review-tenchi-samurai-astronomer
http://www.japantimes.co.jp/culture/2012/09/14/films/film-reviews/tenchi-meisatsu-tenchi-the-samurai-astronomer/#.VdchHm5Q3K9
http://www.the-filmreel.com/2013/06/11/tjff-review-tenchi-the-samurai-astronomer/ 
http://love-is.ru/showthread.php?t=32265&page=4 
http://kingdomofbaduk.blogspot.com/2014/04/tenchi-meisatsu.html 
 https://en.wikipedia.org/wiki/Shibukawa_Shunkai

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram