Kisah Seorang Ayah Penjual Darah


Sang penjual darah
 Assalammu'alaikum, 

Ada satu masa orang-orang hidup dengan menjual darah mereka per dua bulan. Per liter darah mereka dihargai sekian uang. Di suatu masa di Korea Selatan paska perang saudara antara Korea Selatan dan Korea Utara yang membuat kota-desa hancur, menjual darah adalah kebaikan bagi setiap orang. Banyak korban perang yang membutuhkan darah. Seorang ibu bahkan akan menanyakan calon menantunya apakah ia pernah menjual darah? Apa sebab? seseorang yang darahnya diterima oleh dokter artinya kesehatannya baik dan jika digunakan untuk membantu kesehatan orang sakit tidak akan bermasalah. Karena itu banyak pemuda ditolak calon ibu mertua hanya karena mereka tak pernah menjual darah. 

Seorang pemuda miskin yang bekerja sebagai buruh bangunan, yang belum pernah menjual darah tiba-tiba jatuh cinta pada seorang gadis tercantik di desanya. Gadis itu membantu ayahnya menjual popcorn tradisional. Para pria sangat suka menggodanya dan membeli popcornnya untuk mendapatkan senyumnya. Sang pemuda kemudian ingin menjual darahnya sebab ia tahu bahwa dengan menjual darah ia bisa mendapatkan uang banyak dan mengajak sang gadis jalan-jalan dan membeli makanan-makanan enak, sekaligus menyogok calon mertuanya. Bersama pamannya, sang pemuda pergi ke dokter untuk pertama kalinya. Tapi sebelum itu mereka minum banyak air dan menahan air kencing agar darah mereka banyak. Dokter tahu muslihat para penjual darah, tapi apa mau dikata, rumah sakit butuh darah untuk para pasien. Sang pemuda punya cara baru mendapatkan uang banyak. Apalagi ia bergolongan darah 'O'

Pendapatan pertama dari menjual darah digunakan si pemuda untuk mengajak sang gadis jalan-jalan dan membelikan makanan-makanan enak dan mahal. Tak lama kemudian mereka menikah. Sebelas tahun kemudian, saat mereka sudah memiliki 3 orang anak laki-laki sang lelaki menjadi pemalas dan hanya mengandalkan penghasilannya dari menjual darah. Terutama ketika ia tahu bahwa anak sulung sebenarnya bukan anaknya, melainkan anak orang lain yang sempat jadi pacar istrinya sebelum mereka menikah. Kabarnya lelaki itu pernah memaksa istrinya untuk berhubungan badan.

Terjadi keributan seisi kampung mengenai skandal tersebut sampai-sampai sang lelaki harus melakukan tes golongan darah. Sayangnya, golongan anaknya berbeda dengan dirinya dan ibunya, dan dengan marah ia meminta anaknya pulang ke rumah ayah kandungnya. Sang lelaki sangat benci ia harus menghidupi anak orang lain selama 11 tahun dengan menjual darahnya. Tapi sang ayah kandung tak mau mengakui sang anak. Sampai kemudian si ayah kandung mengalami pendarahan hebat karena pendarahan otak. Si anak diminta pendeta untuk mendoakan ayah kandungnya karena doa anak laki-laki sangat manjur. Tapi, tak lama kemudian sang anak mengalami hal serupa dengan sang ayah kandung sehingga harus dilarikan ke rumah sakit yang lebih besar. 

Gadis penjual popcorn sang bunga desa
Sang ibu membawa sang anak ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan segera dengan uang seadanya, sementara sang ayah selama berhari-hari menjual darahnya. Hasil meminjam uang masih sangat kurang sehingga ia menjual darahnya ke banyak tempat pendonoran darah berbayar. Meski ia merasa sangat lelah dan kesakitan, dan kehilangan tenaga karena darahnya terus menerus diambil, ia melakukan berbagai muslihat agar terlihat segar. Ia meminum air yang banyak, membalikkan tubuhnya agar darah mengalir ke wajahnya dan makan-makanan yang membuatnya lebih sehat. Dihari ke lima, ia ambruk dan harus mendapatkan donor darah orang lain. Sialnya, ia tak dibayar atas darah yang dikeluarkannya dan harus membayar darah yang masuk ke tubuhnya. Uang untuk biaya perawatan puteranya pun berkurang. Ia pun berubah menjadi lelaki serupa zombie berwajah pucat dan kekurangan gizi. Ia tak bisa lagi bergerak lincah dan menjadi sangat lemah.

Saat ia tiba di rumah sakit, ia justru melihat istrinya harus melakukan operasi transplantasi ginjal untuk anaknya agar sakitnya sembuh. Kemudian mereka pulang ke rumah dengan bahagia dan makan-makanan enak hasil sang ayah menjual darah. 

Film Korea Selatan berjudul "Chronicle of Blood Merchant" ini sebenarnya ceritanya gagu dan sedikit membingungnya. Tetapi peran sang ayah sangat dramatis dan membuat ngeri. Pada masa itu orang-orang berbondong-bondong menjual darah mereka demi mendapatkan uang, termasuk kakek-nenek yang sudah kelihatan tak sehat. Tetapi mungkin peran sang ayah lah yang paling berkesan, sebab ia bahkan rela hampir mati demi mendapatkan uang agar anaknya bisa dirawat dengan baik dan penyakitnya sembuh. Film ini cukup berkesan sebab seakan-akan mengatakan bahwa peran ayah sangat tak tergantikan dalam keluarga, sehingga ia harus rela menjual darahnya untuk kesembuhan anak yang bukan darah dagingnya. 

Depok, 17 Agustus 2015

Sumber gambar:
http://asianwiki.com/Chronicle_of_a_Blood_Merchant
http://asiasociety.org/new-york/events/chronicle-blood-merchant


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram