Gengis Khan dan Filososfi Berburu Serigala

Hari ini aku mengajukan pertanyaan pada diriku sendiri: Apa yang kamu tahu tentang Gengis Khan? dan ingatanku menjawab berdasarkan beberapa informasi yang kuperoleh bahwa lelaki Mongol itu adalah pembunuh berdarah dingin yang hendak menguasai wilayah Timur Asia hingga ke Eropa, tempat matahari terbenam. Ia menaklukan banyak bangsa dan suku dengan pedang yang haus darah. Kekuatan militer bangsa-bangsa yang bertempat dalam benteng-benteng yang kuat hancur oleh pasukan berkudanya yang sangat lincah dan kelaparan. Dalam sejaran, Gengis Khan dibenci karena telah banyak membunuh, tapi sebalinya diagungnya di Mongolia. Ia telah menciptakan satu kehendak untuk menyatukan suku-suku dibawah imperiusm Mongolia. Kekuasaan Mongolia mengalami masa keemasan pada era cucu Gengis yaitu Kubilai Khan dimana luas wilayah taklukan nyaris seluruh dunia atau global domination meliputi China, Mongolia, Russia, Korea, Vietnam, Burma, Kamboja, Timur Tengah, Polandia, Hungaria, Arab Utara, dan India Utara.

Tetapi memahami Gengis Khan sebagai bukan orang Mongol pastilah berbeda dengan orang Mongol sendiri. Sebuah film berjudul Wolf Totem besutan sutradara Jean-Jacques Annaud atas kerjasama beberapa rumah produksi yaitu China Film Group, Beijing Forbidden City Film Corporation, Reperage, China Movie Channel dan Beijing Phoenix Enternainment Co berkisah tentang mahasiswa berusia 21 tahun bernama Chen Zhen yang menjalani kuliah kerja nyata selama 2 tahun di sebuah padang stepa di Mongolia sebagai bagian dari Revolusi Kebudayaan pimpinan Mao Zedong. Film ini bisa memberi kita sekelumit informasi tentang orang Mongol. Chen Zhen dan seorang temannya bertugas mengajarkan bahasa Mandarin kepada penduduk setempat yang merupakan penggembala (shepherd) pada tahun 1967-1969. Film ini sendiri diadaptasi dari novel semi-autobiografi yang ditulis Lu Jiamin dengan nama samaran Jiang Rong.


Chen Zhen yang seorang China Han yang tinggal di Beijing harus beradaptasi dengan kehidupan penggembala dan lingkungan stepa yang indah tapi keras. Kisah ini bercerita tentang Chen Zhen yang melanggar perintah kepala grup untuk tidak memberitahukan tempat menyimpanan makanan srigala kepada siapa pun, termasuk pada petugas pemerintahan. Bagi penggembala stepa Mongolia, serigala sebenarnya bukanlah musuh melainkan guru yang mengajarkan makna keseimbangan alam dan rantai makanan. Dalam mendapatkan dan mengumpulkannya serigala tidaklah sembarangan. Mereka memiliki teknik yang jitu agar mereka mendapatkan buruan yang banyak. Serigala juga tipe binatang yang patuh pada pemimpin kelompok. 


Saat berburu, serigala tidak asal menyerang dan membunuh mangsanya. Mereka menggunakan sekian waktu untuk melakukan pengintaian terlebih dahulu, sebuah proses pengintaian yang cermat dan super sabar. Jika waktu menyerang tiba, sekelompok serigala akan memburu habis korbannya baik berupa rusa atau domba. Setelah kenyang, mereka akan menyeret hewan-hewan sisa ke suatu danau yang biasa menjadi kulkas raksasa pada musim dingin. Hewan-hewan itu akan terbungkus es dan dagingya tetap segar untuk jadi santapan saat musim semi tiba. Hewan-hewan buruan itu ditumpuk disana untuk dijadikan makanan bagi bayi-bayi serigala saat musim berganti. Para penggembala biasanya mengambil sebagian persediaan daging serigala, membaginya untuk kelompok mereka dan menyisakan sebagian lainnya di tempat itu agar serigala tidak mengamuk dan menyerang perkemahan karena persediaan makanan mereka dicuri. Mereka pantang mengambil semua persediaan itu untuk menghindari balas dendam kelompok serigala pada ternak mereka


Tipikal wilayah Mongolia bagian barat. Cantik sekaligus mematikan.

Suatu hari Chen Zen melakukan kesalahan besar dengan memberitahukan lokasi penyimpanan daging serigala kepada petugas pemerintah dan orang pemerintahan itu menggasak semua persediaan daging tersebut. Serigala menyaksikan semua itu dari jauh dan mereka menjadi sangat marah. Akibatnya, sekumpulan kuda milik pemerintah yang digembala kelompok itu habis dibantai serigala. Bahkan seorang penanggung jawab gembala meninggal dunia karena bergelut dengan serigala untuk menyelamatkan kuda-kuda tersebut. Si mayat tidak dikuburkan, melainkan dibiarkan di suatu tempat dimana ia akan dimakan burung-burung. "Kami orang Mongolia seumur hidup makan daging dari tempat ini. Ketika salah seorang dari kami mati, kami mengembalikan jasadnya ke stepa ini untuk menjadi makanan hewan lain," ujar ketua grup. Sebagai orang Han yang tinggal di kota, Chen Zhen belajar bahwa setiap kelompok memiliki budaya mereka masing-masing sesuai karakter tempat tinggal mereka. 

Ternyata peristiwa pembantaian kuda-kuda oleh serigala menyebabkan pemerintah membuat kebijakan untuk memburu semua serigala dan membunuh mereka, bahkan bayi-bayi mereka. Dalam proses membunuh bayi-bayi itu, Chen Zhen jatuh cinta pada seekor bayi serigala dan merawatnya di halaman tendanya. Meski ia ditentang oleh grup dimana ia tinggal karena memelihara bayi serigala akan membuatnya kehilangan insting berburu ketika dilepas liarkan, Chen Zhen tetap bersikeras dan ia berjanji akan membesarkan dan melatih serigala itu berburu. 


Sampai suatu ketika, sekelompok petani dari wilayah timur China didatangkan ke stepa untuk membuka lahan pertanian baru dan Chen Zhen melihat banyak hal berubah. Pertanian tidaklah cocok dengan kehidupan penggembala dan sering mendatangkan penyakit karena perpindahan serangga seperti nyamuk yang membuat hewan-hewan mudah sakit dan mati. Selain itu, kehadiran para petani dan ternak mereka juga memancing pasukan serigala untuk membantai para domba. Chen Zhen akhirnya sadar bahwa setiap yang hidup memiliki dunia mereka masing-masing. Karena itu ia berlatih keras untuk membuat serigala piaraannya bisa berburu dan kembali ke alam bebas. 


Filosofi Serigala

Bangsa Mongol yang penggembala suadah terbiasa berbagi dengan serigala. Tapi belajar dari serigala untuk dijadikan strategi penaklukan tentulah hal hebat. Diceritakan bahwa kerajaan hebat pertama yang ditaklukan Temujin setelah bergelar Gengis Khan adalah Kerajaan Jin yang waktu itu tentaranya  berjumlah jutaan jiwa. Pasukan Gengis yang berjumlah 100.000 orang berhasil membunuh 500.000 pasukan. Bahkan dalam penaklukan ke wilayah barat, pasukan Gengis berhasil merontokkan 10% populasi Timur Tengah (akibat kesalahan kerajaan Khawariz yang membantai pasukan perdamaian-dagang Gengis Khan). Jika dihitung selama masa penaklukannya ada sekitar 11 % populasi dunia atau 40 juta jiwa melatang. Pasukan Gengis Khan ibarat sekelompok kecil serigala yang berhasil membabat habis sekelompok besar ternak. Pasukan berkuda Mongol dikenal sebagai pasukan yang sangat kuat, menakutkan dan sulit dikalahkan. Mereka yang terdidik hidup keras di stepa yang luas dengan cuaca ekstrem menjadi pribadi-pribadi umpama srigala yang cerdas, kuat, dan hidup berkelompok sebagai saudara satu sama lain. Mereka juga dididik dengan kode etik oleh Gengis Khan bahwa mereka tak boleh berzina, mencuri dan berbohong. 

Hasil buruan Serigala yang diawetkan dalam lautan es






Dalam berburu, serigala memiliki kode etik sendiri. Sekawanan serigala dibimbing oleh pimpinan mereka akan mengintai korbannya dari suatu tempat. Mereka diam sambil memperhatikan kapan waktu yang tepat melakukan penyerangan. Meski mereka dalam kondisi sangat lapar, mereka akan melakukan pengintaian selama berjam-jam. Mereka membiarkan rusa, domba atau kuda calon korbannya merumput sampai kenyang dan jika dikejar larinya kurang gesit. Rusa atau domba yang kenyang tak akan bisa berlari kencang sehingga pergerakan kawanannya akan lambat. Saat itulah serigala menyerang dengan ganas, mengigit, menerjang sebanyak-banyaknya korbannya. Setelah kenyang korban-korbannya mereka bawa ke suatu tempat dimana mereka mengawetkan hewan-hewan itu dengan es. Strategi berburu serigala yang cerdas, taktis dan terorganisir memberi inspirasi Gengis Khan dalam melakukan berbagai penaklukan. Kerajaan-kerajaan besar yang berhasil ditaklukan Gengis Khan adalah kerajaan-kerajaan yang terlindungi benteng kokoh dimana kehidupan masyarakatnya begitu aman dengan makanan dan pakaian melimpah. Karena kondisi demikianlah mereka tak lagi memiliki kekuatan untuk melawan pasukan berkuda Mongol yang dilatih alam.

Peta wilayah kekuasaan Kekaisaran Mongolia

Pasukan Gengis Khan sedang berperang

Dalam membangun konfederasi Mongolia, Gengis Khan yang kita kenal sebagai haus darah tidaklah asal-asalan dalam melakukan penaklukan. Penaklukan bisanya dilakukan karena penolakan terhadap penyatuan kerajaan-kerajaan kecil ke dalam imperium Mongol, atau karena balas dendam ketika pasukan perdamaian yang dikirimnya dibunuh secara keji. Begitulah ia belajar dari serigala. Hewan itu tidak akan melakukan penyerangan terhadap ternak milik penggembala atau petani jika milik mereka tidak diambil dan jika daerah kekuasaan meeka tidak dirusak. Kita belajar para serigala bahwa setiap makhluk di dunia memiliki peran dan hak mereka masing-masing. 

Depok, Agustus 2015
 
Sumber gambar dan bacaan:
http://sinosphere.blogs.nytimes.com/2015/02/26/q-and-a-jiang-rong-on-wolf-totem-the-novel-and-now-the-film/?_r=0
http://www.tentofalltents.com/tour.html 
https://en.wikipedia.org/wiki/Wolf_Totem_%28film%29
https://en.wikipedia.org/wiki/Wolf_Totem 
https://id.wikipedia.org/wiki/Jenghis_Khan
http://www.kaorinusantara.or.id/forum/index.php?threads/biography-genghis-khan-the-grey-wolf-of-mongolia.4289/
http://investigasi-misteri.blogspot.com/2012/03/misteri-di-balik-pembantaian-kerajaan.html
http://www.tentik.com/10-fakta-bengis-tentang-genghis-khan/
http://www.kompasiana.com/chuangbali/serigala-rusa-dan-kematian_55299d21f17e61740ed623c7
http://www.shaanig.com/f51/wolf-totem-2015-720p-hdrip-700mb-3666129/

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #