TRAGEDI TOLIKARA: Mari Menangkan Perdamaian

Bersama kita wujudkan Indonesia yang damai

Saat pertama kali membaca berita tentang terbakarnya sebuah Mushalla atau Masjid di Tolikara, Papua pada jam pelaksanaan shalat Idul Fitri, hati setiap Muslim pasti terbakar. Bayangkan, hari itu adalah hari yang sakral setelah sebulan lamanya berpuasa di musim kemarau yang panas dan krisis akibat melemahnya rupiah terhadap dollar AS. Hari dimana sujud syukur diatas bumi dilakukan dengan penuh rasa haru, tiba-tiba berubah menjadi bencana. Ya, dalam sekejap, berbagai pemberitaan yang berseliweran di dunia maya membuat banyak Muslim marah. 

Berhari-hari setelahnya, kemarahan demi kemarahan bermunculan di sosial media. Inti dari kemarahan itu adalah tentang ketidakadilan penanganan oleh negara dan pemberitaan oleh media. Jika Muslim pelaku sebuah kekacauan, maka dunia akan menghukumnya sebagai Teroris dan sebaliknya jika muslim sebagai korban maka dunia diam, bahkan aktivis HAM entah dimana rimbanya. Marah, sebagian besar Muslim pasti marah meski kebenaran peristiwa itu belum terungkap. 

Tetapi ada yang lain dari peristiwa ini. Kemarin aku membuka situs sebuah lembaga crowdfunding kitabisa.com dan terkejut melihat sebuah proyek pembangunan kembali masjid di Tolikara. Hari ini, target proyek sudah tercapai 145% dengan dana terkumpul mencapai Rp. Rp. 289.471.263 dari target dana Rp. 200.000.000. Dana tersebut terkumpul dalam waktu kurang dari 3 hari dengan sebanyak 1.075 pendukung dan 22 penggalang dana. Besaran dukungan mulai dari Rp. 50.000 sampai jutaan. Padahal, dalam banyak proyek dana baru bisa terkumpul sepenuhnya lebih dari 30 hari. Ajaib!

Dalam keterangannya, pembuat proyek bernama Padji Pragiwaksono akan menyalurkan dana proyek tersebut melalui Bula Sabit Merah Indonesia (BSMI) cabang Jayawijaya Papua untuk membantu proses pembangunan kembali Masjid di Tolikara. 


Menang. Ya, kata-kata itu adalah pesan pamungkas Pandji kepada kita semua baik Muslim atau non-Muslim yang tersulut amarah dengan sejuta alasan atas tragedi Tolikara. Menanglah perdamaian. Sebab terkumpulnya dana ini bukan semata-mata untuk membangun Masjid di Tolikara secara fisik. Melainkan membangun kembali perdamaian yang sempat terkoyak oleh peristiwa memalukan yang mengkambing hitamkan agama. 

Gerakan lain juga dilakukan Maimon Herawati dengan membuat petisi untuk Presiden RI melalui situs change.org dimana beliau mengajak kita bangsa Indonesia untuk meminta negara mengusut tuntas pelaku sesungguhnya dari tragedi yang secara kasat mata membenturkan umat Islam dan Kristen di Indonesia, khususnya Papua. 


Petisi terkait tragedi Tolikara di change.org
Mari libatkan diri dalam membangun kembali perdamaian yang sempat terkoyak di negeri kita tercinta. Mari kita lihat tragedi ini sebagai sebuah titik tolak untuk menjadikan Papua sebagai simbol perdamaian dan agar kita tak mudah terpancing isu SARA. Ingat, selalu ada yang memancing di air keruh. Jangan sampai tragedi ini membuat pihak ketiga berkesempatan menguras habis kekayaan Papua dengan tersenyum.

Salam damai Idul Fitri,


Senyum Papua


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram