The BLACK ART of ANDREAS ISWINARTO

Lukisan berjudul Tanah air darah, tanah air api oleh Andreas Iswinarto ini salah satu yang paling memukau menurutku. Lukisan ini menampilkan citra tentang perlawanan untuk menyelamatkan kehidupan kaum lemah bangsa ini, sekaligus yang memberi makan seisi bangsa. Saat petani melakukan perlawanan, pertanda bangsa ini dalam keadaan darurat.

Hitam seringkali dikaitkan dengan kesedihan, kemurungan, kehilangan, kejatuhan dan kematian. Tetapi hitam bagi seorang perupa dan aktivis Andreas Iswinarto adalah kencana kebangkitan. Aku seperti sehati dengan beliau terkait hitam sebab aku juga penyuka hitam. Aku hitam sebab aku menyukai ketabahan, keberanian, kebangkitan sejak masih kecil. Pun dibesarkan dari mengagumi batu-batu hitam di dasar-dasar sungai hingga benteng-benteng batu di perbukitan. Hitam sebagai kebangkitan kupahami sebagai sebuah jalan berduri yang menyakitkan agar cepat berlari menuju air dan udara yang lembut untuk sebuah kesembuhan dan kedamaian. 

Sang perupa tak saja mengabadikan karya-karyanya dalam galeri maya bernama Galeri Lentera Pembebasan, juga menjadikan karya-karyanya senjata untuk melawan kelaliman penguasa melalui berbagai pameran dan dalam bentuk lainnya. Ia juga konsisten membuat kuasnya menari untuk bercerita dalam babak-babak duka, perjuangan dan kebangkitan akum lemah di negeri ini. Aku memahami makna dari sebagian besar karyanya, meski nggak  'ngeh' untuk sebagian lainnya. 

Belakangan, karya para perupa otodidak juga menjadi bagian dari galerinya. Beliau giat mengajak para perupa muda untuk turut melawan menggunakan kuas, umpama para penulis menggunakan pena mereka. Keinginan yang wajar, sebab pada era ini kaum muda berduit cenderung menghabiskan uangnya untuk foya-foya. Maka harapan yang dibangkitkan oleh api kecemburuan harus terus dipompa oleh kaum miskin yang bergerak bukan karena uang, tapi karena kepala, hati, mata dan seluruh bagian tubuhnya. Lukisan, yang dibuat otodidak oleh seniman yang tidak memiliki guru dan galeri untuk memajangnya untuk orang-orang kaya atau turis asing, memang layak bertempat digaleri yang dibangun untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan mental.

Rupa dibawah ini misalnya. Paduan warna hitam dan biru yang menghalangi rembulan dan kehidupan nampak menyakitkan dan begitu sedih. Tapi, lukisan berjudul Darurat Peradaban (ekologi) koleksi Andriana S Adiati merupakan salah satu karya yang membangkitkanku. Karya ini seperti diriku, yang tercekat dalam biru dan hitam, yang berusaha bangkit melawan semua yang menghancurkanku.


Darurat Peradaban (ekologi) buatan perupa Andriana S Adiati
Karya berjudul "Kibarkan Celana dan Rok Merahmu! Seberangi Sungaimu, Ayo Sekolah!" ini misalnya adalah sebuah tamparan kepada kita semua seisi bangsa Indonesia terkait nasib anak-anak sekolah yang bertarung nyawa untuk meraih pendidikan. Pemerintah begitu kejam terhadap mereka! dan lukisan ini harusnya diperbanyak, diberikan ke sekolah-sekolah supaya anak-anak bangsa ingat bahwa pendidikan adalah hak setiap anak dan negara wajib memfasilitasi mereka, bukan melalui jalan kematian, melainkan jalan penuh tawa dan kebahagiaan.

Kibarkan rok dan celanamu, koleksi Sonny Mumbunan
Lukisan berikut ini adalah yang teranyar, yang melukiskan perjuangan para perempuan petani asal Rembang, Jawa Tengah yang melawan perkawinan hegemoni negara dan pengusaha atas tanah yang menghidupi mereka dengan air dan padi. Yang khas dari lukisan ini, yang menurutku indah adalah perpaduan antara tanah yang hitam-subur dengan petani-petani bertopi dari bambu yang mereka besarkan dan buat sendiri. Sungguh menyentuh.


Sketsa perempuan-perempuan Rembang melawan

Karya-karya serba hitam dan tangguh Andreas Isinarto menjadi warna tersendiri dalam gerakan aktivis di Indonesia. Oleh The Jakarta Post, ia bahkan digelari Master of a Dark Art. 

Potongan artikel tentang Andreas Iswinarto
Nikmati karya-karya hitam dan tangguh ini di Galeri Rupa Pembebasan

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram