SEJUMLAH PESAN KEMATIAN

Kematian umpama daun yang gugur

Bagiku, kematian adalah keganjilan. Tak pernah mampu kata-kata menjelaskannya. Teorinya aku tentu saja paham sebab telah banyak kusaksian kematian. Namun, saat kematian mendekat, dan semakin dekat kepadaku aku menjadi semakin kuat bertanya-tanya. Kata-kata 'mati' atau 'kematian' sering membangunkanku secara tiba-tiba ditengah tidur yang lelap, atau membuatku termenung begitu panjang dihari hujan. Tetiba, dalam banyak keadaan yang tak terduga aku sering menyangkan diriku akan mati 10 tahun lagi, 100 hari lagi, malam ini atau 100 tahun kemudian saat aku tak ingat apa-apa lagi.

Suatu hari aku ingin pulang ke kampung halamanku untuk membuat E-KTP dan bermain-main dengan keponakanku. Mumpung aku belum dapat kerjaan baru jadi bisa liburan lumayan panjang. Sehari aku pulang, aku menjenguk pamanku yang sedang sakit parah dan esoknya hendak berangkat ke rumah sakit untuk menjalani operasi. Seminggu kemudian aku mendapat kabar bahwa pamanku telah dipulangkan dari rumah sakit dalam keadaan tidak sadar. Selama itu aku terlalu sibuk bermain dengan keponakanku yang sejak lahir belum kujenguk. 

Saat aku tiba di rumah pamanku setengah jam sebelum azan Maghrib, orang-orang sudah berkumpul mengelilingi beliau yang berbaring lemah dengan nafasnya yang turun naik. Sekarat. Ya, pamanku sedang sekarat. Aku langsung duduk disampingnya bersama sepupu tertuaku membantunya mentalqin pamanku. Aku melihat kulitnya yang keriput, matanya yang terpejam tanpa daya untuk melihat orang-orang yang mengelilinginya, dan ia bernafas dengan berat seakan-akan sedang berada didalam ruangan penuh asap. 

Kami keluarga besar, tetangga dan teman-teman paman menunggu apa yang akan terjadi. Rumah penuh dengan orang-orang yang berdoa untuk kesembuhan pamanku atau untuk kematian yang mudah dan tidak menyakitkan. Seorang ustadz duduk di samping kiri paman dan memperhatikan perkembangan paman. Salah seorang adik ipar paman terus membasahi bibir dan kelopak mata paman yang kering, sedangkan aku terus membaca kalimat-kalimat ilahiah sambil tak kuasa menahan tangis. Semua orang berwajah tegang, harap-harap cemas. Anggota keluarga yang lebih kecil bahkan terdiam dari kerewelan mereka. Malaikat maut berdiri disekitar kami, atau diatas kepala paman atau didekatku atau didekat salah seorang diantara kami yang tengah menunggu. Aku bertanya-tanya dimana malaikat maut duduk atau menyerupai siapa ia diantara kerumunan yang menunggu...

Sebulan sebelumnya, paman menelponku dan meminta bantuanku. Tapi saat itu aku sedang tak bisa membantunya. Sungguh aku merasa menyesal saat itu. Aku merasa tak bisa memberikan apa-apa saat ia membutuhkan pertolonganku. Dua puluh menit kemudian, sang ustadz melarang kami menyentuh anggota tubuh paman. Ia sedang memberi tanda bahwa ruh paman akan pergi. Selepas Maghrib, paman mengembuskan nafas terakhirnya dan aku menyaksikannya dengan kedua mataku. Beliau berhenti bernafas. Kehidupan meninggalkannya. Sepi. 

Sepi yang ganjil. Jantungku berdebar tanpa bisa kujelaskan. Buru-buru aku menghubungi anggota keluargaku yang lain dan murid-murid paman untuk meminta maaf mereka atas segala kesalahan paman selama hidupnya. Satu anggota keluarga berkurang dan dinamika hidup berubah. Ada sepi yang menyeruak pada kehidupan yang semakin tua. 

Tetapi aku tak pernah membayangkan tentang terbang. Ya, tentang diriku yang terbang dari tubuhku sendiri. Tentang jiwa pamanku yang terbang, tak tahu ke arah mana. Sebab kematian dikabarkan sebagai sebuah proses penjemputan. Jiwa yang dipanggil, dijemput, diangkat dan dibawa ke suatu tempat. Jiwa yang....

Dan mungkin pesan kematian tak terhingga, tak bisa dihitung. Karena setiap jiwa harus siap, setiap waktu. Dan aku, masih meraba-raba.... 

Segalanya datang dari Allah dan akan kembali kepadaNya. 

20 hari kemudian aku tinggal di rumah. Kehilangan membuat segalanya berbeda dan aku ingin melakukan banyak hal di kampung halamanku bersama keluargaku. Setidaknya aku atau mereka akan memiliki kenangan berarti tentang masing-masing kami sebagai anggota keluarga. 

Sumber gambar:
http://www.kompasiana.com/windflowers/filosofi-daun_552831d06ea834a15d8b4661

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram