LITTLE FOREST: Hidup dan Filosofi Makanan


Assalammu'alaikum

Mulai hari ini aku akan membuka tulisan-tulisanku dengan kalimat yang baik untuk diriku sendiri dan para pembaca blog ini. Hari ini aku akan bercerita tentang sebuah film Jepang yang kutonton tiga bulan lalu dan minggu lalu. Ya, aku sudah dua kali nonton film ini dan tak pernah bosan. Film ini sangat berkaitan erat dengan impian-impianku. Makanan sehat, alam pedesaan yang segar dan indah, dan kontemplasi untuk mengecilkan kesombongan dalam hati manusia. Film ini berjudul Little Forest.

Film Jepang ini berkisah tentang makanan yang terbagi kedalam dua babak yaitu babak Autumn & Summer dan Winter & Spring. Babak-babak tersebut sangat berkaitan erat dengan makanan-makanan yang dibuat dalam film. Disutradarai oleh Junichi Mori, film ini menjadi sangat apik dengan penampilan aktris Ai Hashimoto yang memainkan perannya dengan sangat baik sebagai Ichiko. Ditambah lokasi syuting yang sangat indah, yang membuat penonton ingin datang kesana untuk melakukan meditasi dan penjernihan hati. Dan melakukan apa yang Ichiko lakukan dan membuat makanan-makanan lezat.

Film ini berkisah tentang seorang perempuan muda bernama Ichiko yang kembali dari kota, karena putus dengan pacarnya dan kehidupan kota yang tak bisa dijalaninya dengan baik, ke desa tempat tinggalnya Komori di sebuah pegunungan di wilayah Tohoku, wilayah timur laut Jepang. Ia tinggal sendirian di rumahnya karena ibunya pergi entah kemana 5 tahun lalu dan melakukan semua hal sendirian termasuk menanam padi hingga memanennya, membuat makanan-makanan dari bahan-bahan yang sebelumnya dianggap tak berguna. Ia menikmati apa yang ia lakukan dan belajar banyak hal tentang makanan. Ia berimajinasi tentang rasa: manis, pahit, asam, gurih. 


Sepertinya film ini memiliki motto; Farm, cook, eat, live sebagai pengetahuan dan tindakan dasar manusia yang hidup dalam kerasnya pergantian musim negara dengan empat musim. Komori merupakan desa terpencil yang indah di wilayah pegunungan, dimana tidak ada toko penjual makanan sehingga penduduk desa harus pergi ke wilayah lain untuk berbelanja bahan makanan. Karena penduduk desa tak bisa mengandalkan uang jika mereka lapar, maka Ichiko mulai menghargai betapa kerasnya upaya bertahan hidup di desanya, bahkan untuk makan sekalipun. Bertahun-tahun lalu, ketika ibunya selalu menyiapkan makanan untuknya, Ichiko tak pernah menghargai jerih payah ibunya menyiapkan makanan dan mereka sering bertengkar gara-gara makanan. Karenanya, saat tinggal sendirian dan melakukan segalanya sendirian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Ichiko sadar bahwa segala hal dalam kehidupan memerlukan kerja keras, termasuk dalam hal menyiapkan semangkuk nasi. 

Ichiko yang membuat makanannya sendiri dari bahan-bahan yang ditanamnya atau dikumpulkannya dari hutan di sekitar rumahnya belajar banyak tentang ketergantunagn manusia pada alam. Misalnya, Ichiko mulai belajar menghargai tomat dan ia merasa bahwa hidupnya tidak akan bahagia tanpa tomat. Saat musim panas dan gugur ia bisa menikmati tomat segar saat memanennya sambil memandangi tomat-tomat di kebunnya. Tetapi karena tomat tak mungkin tumbuh saat musim dingin, Ia hanya bisa menikmati tomat yang sudah dibuat pasta. Ichiko juga mencoba meniru cara ibunya memasak sawi dan setelah mampu membuka rahasia resep masakan ibunya melalui ingatan dan rasa di lidahnya, ia baru paham bahwa sebuah masakan membutuhkan sebuah upaya. Masak bukan keperjaan gampangan. 

Suatu hari saat mulai memanen padi, Ichiko menikmati bekal makan siangnya dengan gembira. Ia membuat nasi kepal yang dibuat atas campuran kacang walnut yang ia kumpulkan beberapa hari sebelumnya setiap pulang dari sawah. Sementara beras yang digunakan adalah beras hasil panen tahun lalu. Saat membuatnya, Ichiko merasa sangat bahagia karena ia tengah melakukan semacam pencarian rasa. Ichiko pun berterima kasih pada alam. 


Memonton film ini memberiku semacam kesempatan untuk merasakan ketenangan dan berimajinasi tentang rasa dalam kehidupanku. Aku juga belajar tentang bagaimana mengolah jenis bahan pangan yang orang Jepang dan Indonesia sama-sama miliki: padi, ubi, talas, sawi, ikan lele dan tomat. Terlebih, menghargai anugerah iklim yang stabil sehingga ketersediaan makanan cenderung stabil sepanjang tahun. 

Filosofi makan orang Jepang 
Dulu aku sering bertanya apakah karena Indonesia dijajah Belanda yang Eropa sehingga peralatan makan kita menjadi sendok dan garpu? lalu bagaimana dengan orang China yang melakukan akulturasi dengan perdagangan tak tampak warisan sumpitnya dalam meja makan keluarga Indonesia? pertanyaan itu kubiarkan mengambang sampai sekarang, dan aku mulai menyediakan sumpit pada peralatan makanku.

Filosofi makan orang Jepang ternyata dipengaruhi oleh apa yang disebut "ThePower of Five" sebagai panduan dalam memasak, menyajikan hingga menikmati hidangan: five senses, five colors, the fifth taste, five ways dan five attitudes. Five senses menggunakan panca indra bagaimana makanan dilihat indah, dicium lezat, dirasakan lezat, disentuh menyenangkan dan suasana makan yang khidmat yang mendamaikan pendengaran. Five colors berhubungan dengan warna dasar yaitu hitam, putih, merah, hijau dan kuning yang menjadikan tradisi Budha yang datang dari China sejak abad ke 6. The fifth taste adalah tentang umami yaitu rasa kelima selain asin, manis, asam dan pahit. Umami sangat berkaitan erat dengan paduan rasa pada makanan yang membuatnya sangat lezat. Five ways adalah cara menyediakan makanan: disajikan mentah, disajikan sebagai sup, digoreng, dikukus atau dipanggang. 

Dan yang menjadi inti dari semua itu adalah five attitudes dimana seseorang bersikap terkait makanan. Five attitudes ini juga berkaitan dengan etika seorang Budha terhadap makanan yaitu;

  1. I reflect on the work that brings this food before me; let me see whence this food comes
  2. I reflect on my imperfections, on whether I am deserving of this offering of food
  3. Let me hold my mind free from preferences and greed.
  4.  I take this food as an effective medicine to keep my body in good health.
  5. I accept this food so that I will fulfill my task of enlightenment.
Dalam hal menikmati makanan dan minuman, orang Jepang memiliki etika tersendiri dan harus diperhatikan sebagai pengormatan terhadap makanan dan orang-orang yang menikmati makanan tersebut. Contohnya bisa dilihat di gambar dibawah ini, cara menghidangkan tahu dingin khas Jepang yang nampak biasa saja tapi memiliki makna tersendiri dalam tradisi maan orang Jepang. Ada keindahan dan kesesuaian warna, rasa, kesederhanaan dan tentu saja cara penyajiannya yang unik dari budaya lain.


Film pertama rilis 2014 dan sudah dapat dinikmati di beberapa website yang menyajikan drama dan film dari Asia Timur. Sedangkan, film kedua meski sudah rilis pada Januari 2015 aku belum menemukan di website mana aku bisa tonton. Jadi, aku akan menulis tentang film kedua setelah aku berhasil mendapatkan filmnya dan entah kapan. 

Silakan nikmati filmnya disini:

LITTLE FOREST: Autumn/Summer
LITTLE FOREST: Winter/Spring

Depok, 30 Juli 2015
Bahan bacaan:
http://aramajapan.com/news/music/newrelease/flower-flowers-new-songs-and-pvs-for-little-forest-movie-is-out/6766/
http://www.savoryjapan.com/learn/culture/power.of.five.html
http://bebeloveokazu.com/2012/06/11/hiyayakko-traditional-japanese-cold-tofu/

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. hai mbak, salam kenal sebelumnya,
    interpretasi dan penilaian yang menarik sekali apalagi jg dsertai dg informasi ttg filosofi makanan ala Jepang, kebetulan saya juga tertarik dengan film tersebut, tak terlalu banyak drama, namun menampilkan sisi lain dari kehidupan yang tidak kita sadari, simply amazing & thx for ur sharing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir ke blog ini mba Mufida. Saya memang suka film-film bertema makanan karena saya suka makan hehehe.

      Yang membuat saya tertarik pada film ini adalah bahwa hal-hal terkait filosofinya yang dikedepankan dibanding kebahagiaan menyantap makanan. Saya berandai-andai jikasaja ada film sejenis diproduksi di tanah air pasti seru.

      Salam,

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram