ISTANBUL, Memoar of a Lovely City

lovely Istanbul at night
Assalammu'alaikum,

ORHAN PAMUK mencintai Istanbul begitu rupa. Kota unik dan misterius tempat ia lahir, tumbuh, jatuh cinta, dan yang membuatnya selalu ingin menikmati keindahan selat Bosporus. Seakan-akan Bosporus adalah dewi laut yang jelita dan tak pernah tua. Pamuk lahir di tahun-tahun kemurungan bangsa Turki pasca kekalahan Kesultanan Usmani pada Perang Dunia II oleh pasukan Sekutu. Masa kecilnya dipenuhi pemandangan kota yang murung, miskin, kumuh, rumah-rumah yang lapuk, kebakaran, jalan-jalan yang rusak, kendaraan tua rusak dan asap hitam yang mengepul dari cerobong kapal-kapal internasional yang melintas di Selat Bosporus. Ia juga mengalami semacam kebingungan ketika sebagian masyarakat Turki, termasuk keluarga besarnya yang cenderung memuja Barat/ Eropa dan meniru gaya hidup Eropa, sementara yang lain tetap mempertahankan gaya lama mereka sebagai orang Turki, khususnya kaum Muslim miskin dan anggota keluarga kerajaan yang tercerai-berai.

Pamuk adalah bungsu dari dua bersaudara dari keluarga kaya raya. Ayahnya mewarisi kekayaan kakeknya yang meninggal dengan harta melimpah. Mereka tinggal di Apartemen Pamuk yang dibangun oleh kakeknya di tanah keluarga mereka. Sesekali ia dan keluarganya juga tinggal di apartemen lain pada musim panas untuk menikmati Bosporus. Hidupnya berkecukupan, penuh kasih sayang, berlimpah makanan dan uang jajan dari neneknya yang sangat kaya. Ia adalah anak rumahan pemalas yang sering merasa aneh dengan hidupnya dan tentang keluarganya yang tidak religius.Tuhan tak perlu hadir bagi mereka yang punya kekayaan melimpah dan pengetahuan paling modern saat itu, kebudayaan Eropa yang mereka puja.

Dalam memoar ‘Istanbul: Kenangan Sebuah Kota’ Pamuk dengan santai dan gamblang menceritakan bagaimana ia memandang Istanbul, manusia-manusianya, bangunan-bangunannya, jalan-jalannya, pasar-pasarnya, masjid dan gerejanya, dan dirinya sendiri dimulai dari kehidupan keluarganya. Nyaris seluruh buku berkisah tentang masa-masa Pamuk kecil hingga saat ia menjadi seorang mahasiwa arsitektur patah hati dan pemalas. Ia begitu menikmati kemurungan dan kesedihan komunal dimana ia merasa bahwa Turki telah sangat jauh tertinggal dari Eropa dan Amerika sehingga ‘Tuhan’ tak lagi dibutuhkan karena masyarakat membutuhkan reformasi. Namun demikian, ia juga mencintai kemegahan tradisional yang mulai terkelupas dari kehidupan Istanbul. Ia begitu mengagumi Hagia Sophia, Masjid Ismail, reruntuhan Istana dan puri-puri para Pasha dan keindahan Bosporus. Ia merasa bingung dengan kenyataan di sekitarnya. 

Orhan Pamuk sang Pencinta Istanbul
Sejak SD ia sangat suka membolos sekolah. Pertama-tama karena ia hanya ingin tinggal di rumah dan bosan dengan pelajarannya, dan saat remaja ia membolos untuk menikmati pemandangan kota sembari berjalan tanpa tujuan di tengah kota. Lalu ia mulai menekuni proses belajarnya untuk menjadi pelukis – Pamuk terinspirasi dari pelukis-pelukis Eropa yang banyak bercerita tentang Istanbul- dan mulai tidak masuk kelas dan tak ingin lagi jadi arsitek. Lukisan juga membawanya pada seorang gadis cantik yang menjadi cinta pertamanya yang kemudian kandas karena ayah si gadis tak mau puterinya menjadi istri pelukis -yang masa depannya dipastikan tidak kaya- yang membuat Pamuk sangat patah hati. Nasehat ibunyalah yang kemudian mengubah jalan Pamuk dari pelukis menjadi seorang penulis.

ISTANBUL
Orhan Pamuk menceritakan Istanbul dan perkembangannya begitu erat dengan kehidupan pribadinya, kakaknya, orangtuanya, neneknya, paman bibinya, sopirnya, tukang masaknya, cinta pertamanya, teman-teman sekolahnya, guru yang dibencinya dan penulis-penulis dan seniman terkenal pada zamannya yang telah mati. Ia bukan hanya mempelajari apa yang disaksikan dan dirasakannya sebagai penduduk Istanbul, tetapi juga dari Koran-koran dan jurnal yang dibeli orangtuanya, buku-buku yang memuat lukisan-lukisan tentang Istanbul. Ia mencoba memberi apresiasi sekaligus memberi kritik pada kelana-kelana Barat yang bercerita tentang Istanbul secara berlebihan atau dari sudut pandang seorang Eropa –yang tidak mengalami apa yang dialami penduduk Istanbul- dalam masa kemurungan. 

Pamuk dan seekor kucing di Istanbul
Ia juga dengan gamblang berkisah tentang ‘kebanggaan’ sebagai kalangan kaya yang memiliki kesempatan menghadiri pesta-pesta orang kaya, dimana kedua orangtuanya merasa mereka berada dalam lingkungan yang tepat. Sebab mereka tak paham pikiran orang-orang yang memuja Tuhan tapi tetap miskin dan membuat kemurungan kota semakin menjadi-jadi. Pamuk dan Istanbul serta segala isi dan dinamikanya umpama sepiring makanan yang antara satu jenis lauk dan lainnya yang saling melengkapi, meski keganjilan dan kebingungan begitu erat terasa. Pamuk, dengan kata-katanya melukis Istanbul dengan cinta, sebagaimana Ia mengenang cinta pertamanya dalam kepalanya dan hatinya. Perasaan dan sudut pandang yang ia bagi pada dunia agar merasakan sensasi serupa terhadap Istanbul.

Beautiful view of  Istanbul
Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca dan dijadikan hadiah kepada mereka yang suka membaca. Buku ini setidaknya menjadi pegangan yang mudah dicerna bagi mereka yang ingin mengunjungi Istanbul dan mengalami sendiri berbagai keindahan yang tersohor ke seantero dunia. Atau bagi mereka yang mungkin mengalami keganjilan setelah mengunjungi Istanbul modern dan ingin kembali ke masa lampau, Istanbul pasca kehancuran Ottoman.


Sumber Gambar
http://www.balkantravellers.com/en/read/article/48
http://www.lonelyplanet.com/turkey/activities/shows-performances/istanbul-night-turkish-dinner-show
http://www.hurriyetdailynews.com/nobel-laureate-writer-orhan-pamuk-slams-climate-of-fear-in-turkey.aspx?pageID=238&nID=75289&NewsCatID=386

Wijatnika Ika

4 comments:

  1. Kotanya sangat cantik dan indah, jadi pengen liburan kesana,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mmapir Creamanisa

      Iya, saya berharap suatu saat bisa berkunjung ke Istanbul

      Salam

      Delete
  2. Kece banget,,, ayo kesana rame-rame, hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir Frutablend, dan yuk ke Turki...

      Salam,

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram