Anak Kandung Indonesia yang tak Pernah Bisa 'PULANG'

Novel 'Pulang'

Sejak peristiwa September 1965, ideologi Komunis dan segala hal yang berhubungan dengannya menjadi 'haram' di Indonesia. Bahkan selama 32 tahun lamanya pemerintahan Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto mencekoki anak bangsa yang sedang tumbuh dengan paham bahwa komunis adalah ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Selama itu pula bangsa Indonesia diberi pagar berkawat, yang secara imajiner menjadi tembok paling tebal untuk ditembus, atas berbagai buku dari luar negeri tak masuk ke kampus-kampus. Begitu besarnya kekhawatiran pemerintah akan Komunisme dibanding Kapitalisme yang kemudian menjadi ideologi yang justru menggusur Pancasila dan UUD 1945 dengan terang-terangan. 

"Hati-hati dengan komunis," begitu kata ayahku ketika aku masih kecil dan setia menonton film G 30/S PKI untuk memenuhi tugas tahunan sekolah. Ya, selama bertahun-tahun dalam benakku tertanam sebuah pernyataan bahwa Komunis itu kejam tanpa ada informasi pembanding yang datang padaku. Sampai kemudian aku keluar dari rumah, merdeka untuk mencari pengetahuan dan menilai ulang makna-makna pengalaman yang tertanam kuat di benakku. Karena itu pula, kini aku suka membaca buku-buku yang menjelaskan semua hal tentang komunisme. 

Dari banyak bahan bacaan yang sedang kukunyah mengenai sejarah masa-masa kelam itu, aku membeli (tak sengaja masuk keranjang, padahal waktu itu aku ingin beli 'Life of Pi') sebuah Novel tulisan Leila S. Chudori. Novel berjudul 'Pulang' ini berkisah tentang kegelisahan batin seorang eksil politik bernama Dimas Suryo dan beberapa orang rekannya yang terpaksa tinggal di Perancis. Mereka tak bisa menembus Indonesia. Mereka terlampau kotor dan berbahaya menurut Orde Baru. Tetapi pulang bisa berarti kisah tentang seorang gadis bernama Lintang Utara yang harus paham akarnya yaitu Indonesia. Sebab, tak satu manusia pun bisa dibersihkan dari akar yang mengalir dalam darahnya meski wajahnya begitu Perancis. Gadis muda memilih terjun pada realitas yang membuatnya paham mengapa manusia tak bisa melupakan akarnya, tak bisa melepasnya. Bahkan ayahnya, merindukan akar itu sampai kematiannya. 

Ketika Dimas Suryo yang dalam pelariannya ke Perancis tak bisa pulang, ia bertemu dengan perempuan Perancis, Vivienne Deveraux, yang juga terlibat dalam gerakan menentang pemerintahan Perancis. Vivienne perempuan yang cantik, cerdas, energik dan mampu menghidupkan semangat Dimas yang melemah kala itu. Meski kemudian mereka menikah, Vivienne menyadari bahwa Dimas tak benar-benar hidup untuknya sebab lelaki itu merindukan tak sekedar Indonesia sebagai negaranya, tapi juga sesuatu yang misterius yang tak pernah Dimas ceritakan pada Vivienne. Meski pernikahan mereka melahirkan seorang gadis cantik yang dinamai Lintang Utara yang sangat Indonesia, pernikahan mereka tak dapat diselamatkan. Vivienne semakin lama semakin tak paham pikiran Dimas dan memilih membebaskan Dimas dengan dirinya dan 'kenangan' tentang 'sesuatu' paling tak terlupakan selain dan di Indonesia. 

Selama hidup dengan Dimas, perempuan itu hanya paham Dimas dan Indonesia sebagai negaranya yang tak mungkin menerimanya kembali berdasarkan surat-surat kakak Dimas di Jakarta yang selalu mengabarkan situasi terbaru tentang Indonesia dan keluarganya. Bagi Indonesia baru pasca Soekarno yang dipimpin oleh Presiden Soeharto, siapa pun yang pernah terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) tak pernah memiliki tempat. Jika mereka di luar negeri maka mereka tak akan pernah bisa masuk kembali ke Indonesia; jika mereka tinggal di Indonesia maka mereka akan dibantai atau dipenjara dan anak keturunan mereka akan sulit mendapatkan pekerjaan, terutama di BUMN dan menjadi pegawai negeri sipil. Bahkan anak keturuan mereka akan sulit untuk menikah jika mereka ketahuan memiliki moyang yang turut mengembangkan komunisme di Indonesia.

Lintang Utara yang kemudian telah menjadi seorang mahasiswi mendapat tugas untuk membuat sebuah penelitian tentang Indonesia. Mengapa Indonesia? karena gadis itu memiliki akar Indonesia dari ayahnya dan itu tak akan pernah bisa dibantah meski ia berwajah sangat Perancis; lahir, tinggal dan berbicara bahasa Perancis. Dalam rangka memahami Indonesia dan ayahnya yang menurutnya semakin hari semakin sakit karena tak bisa pulang ke Indonesia, Lintang pergi ke Indonesia. Ia kemudian tinggal di rumah pamannya. Di Indonesia, Lintang akan melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh besar seperti Pramoedya Ananta Toer untuk penelitiannya. Ia dibantu oleh aktivis sebuah NGO bernama Segara Alam dan teman-temanya. 

Lintang yang merasakan kedekatan khusus dengan Segara Alam ternyata memiliki hubungan tertentu dengan ayahnya. Ibu Segara Alam, Surti Anandari adalah kekasih Dimas Suryo sebelum perempuan itu direbut sahabat Dimas yang menugaskannya ke Tiongkok dan tak bisa pulang ke Indonesia. Lintang melihat cinta pada mata Surti yang juga menjadi salah satu informannya dan gadis itu serta merta bisa melihat ayahnya di mata perempuan itu. Pahamlah lintang tentang sebagian lain isi kepala ayahnya selain Indonesia, yang menyebabkan perceraian dengan ibunya. 

Hal yang paling menyakitkan bagi Lintang kemudian ketika pecahnya Reformasi 1998 dimana ia dan Segara Alam harus berlindung dari kejaran petugas, atau berlari-lari tak tentu arah agar tak kena amuk massa. Lintang Utara begitu ketakutan pada Indonesia yang kini menjadi begitu buas. Ia juga mendengar berita-berita yang sangat tidak mengenakkan tentang etnis Tionghoa yang menjadi korban perkosaan. Indonesia begitu menakutkan bagi Lintang dan ia ingin segera saja pulang ke Perancis. 

Namun, dalam proses memahami Indonesia sebagai akar budayanya, ia mendnegar kabar bahwa ayahnya sakit keras dan tak lama kemudian meninggal dunia. Dua kenyataan pahit menerpa Lintang yang tengah kebingungan. Ia merasa sedih bahwa ayahnya baru bisa diterima pulang ke tanah kelahirannya ketika ia tak lagi bernafas, dan Lintang sendiri belum tahu bagaimana nasibnya dan nasib Indonesia pasca reformasi. 

Novel 'Pulang' ini adalah satu dari banyak bacaan tentang kegelisaan manusia Indonesia tentang identitas dirinya secara personal terkait idealisme yang dianutnya, dan sebagai 'warga' sebuah negara bernama Indonesia yang harus patuh pada konsensus bernegara, yang dikendalikan pejabat-pejabat bodoh dan penuh ketakutan pada uang. Kegelisahan yang tergambar dari tokoh-tokoh dalam novel ini bisa jadi masih ada hingga saat ini atau mungkin terus tumbuh karena ternyata negara bernama Indonesia belum menjadi negara yang benar-benar bisa memenangkan keinginan rakyatnya. Dimana ada kesenjangan dan ketidakadilan, maka akan selalu ada anak-anak bangsa yang mereka dibuang, dikucilkan, ditinggalkan, dan disia-siakan. Meski kini Komunisme menjadi ideologi terlarang dan PKI tak pernah bisa berdiri lagi, nyatanya banyak anak-anak bangsa yang tak bisa kembali. 

Gundah gulana mereka yang ingin pulang ke sini, ke Indonesia, mungkin umpama Dimas Suryo dan Lintang Utara lain yang bertebaran di seantero bumi. Lucunya, mereka tak bisa kembali bukan karena mereka pendukung komunisme, tetapi mereka anak-anak bangsa yang cerdas dengan berbagai keahlian yang justru pertama-tama diakui bukan oleh bangsanya sendiri. Mereka tak bisa kembali karena kecerdasan mereka berbahaya bagi para koruptor dan pejabat-pejabat jahat yang tak menginginkan Indonesia menjadi negara hebat. 

Tetapi sampai kapan mereka tak bisa pulang? 
Apakah mereka hanya bisa pulang ketika tak lagi bernyawa?
Mengapa pulang menjadi begitu sulit dan menyedihkan?


Sumber gambar:
http://geotimes.co.id/ratusan-buku-karya-anak-bangsa-mejeng-di-frankfurt/

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram