HANAKO to ANNE; Kisah Cinta yang Menggetarkan

The Little Hanako

Sebagian besar orang mengatakan bahwa orang miskin tak perlu mengenal buku. Makanan dan pakaian jauh lebih penting dicari bagi mereka yang lapar dan kedinginan. Karena miskin dan tak berpendidikan, orang miskin juga tak perlu berpolitik. Padahal, politik selalu menjadikan orang miskin alat pengeruk uang. Tetapi, marilah kita belajar mengenai buku, sekolah dan politik dari sebuah drama dari negeri sakura. Drama ini diangkat dari kisah nyata seorang perempuan hebat yang berasal dari keluarga miskin dan tak berpendidikan jauh sebelum Jepang menjadi negara hebat seperti sekarang.

Di sebuah wilayah bernama Kofu, Yamanashi Prefecture, Jepang dimana penduduk desa bisa menikmati indahnya perkebunan anggur dan bagian belakang gunung Fuji, seorang gadis kecil bernama Hanako tumbuh sebagai pelita bagi keluarganya. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Keluarganya hanya petani penggarap miskin yang tak berpendidikan. Hanako kecil harus membagi waktunya antara sekolah, membantu pekerjaan orangtuanya dan mengasuh adik bungsunya, Momo. Oleh teman-temanya ia sering dipanggil "Hana si bodoh" atau "Hana si miskin". Hanako adalah pemimpi dan pekerja keras. ia dikenal sebagai 'Gadis dengan Sayap Terkembang' dimana ia selalu melebarkan sayap imajinasinya untuk menghibur diri sendiri saat ia kesal, marah dan lapar.  Ayahnya yang seorang pedagang keliling melihat cahaya pada diri puterinya. Ia lalu mengenalkan buku pada Hanako kecil, membawanya ke perpustakaan gereja di kampungnya untuk mengenalkan buku dan ingin memberikan jalan pendidikan terbaik baginya. 

Sang ayah yang tidak terlalu bertanggungjawab pada keluarganya memiliki mimpi besar untuk Hanako dan ia keliling Tokyo mencarikan sekolah untuk Hanako kecil karena sekolah di kampungnya dianggap tak mampu memberikan puterinya pendidikan terbaik. Meski ditentang anggota keluarga, karena Hanako dibutuhkan untuk mengurus urusan rumah tangga, dengan bantuan Pendeta Hanako berhasil didaftarkan sebuah sekolah khusus perempuan di Tokyo. Sekolah "Tokyo Eiwa Girl's School" yang dibangun oleh sebuah asosiasi perempuan Kanada menjadi rumah bagi Hanako sejak ia berumur 10 tahun sebagai 'Schoolarship Student'. Ayahnya meyakinkan Hanako bahwa ia bisa bahkan untuk menguasai bahasa Inggris yang digunakan sekolah itu sehari-hari.

Awalnya Hanako frustasi karena ia sama sekali tak mengerti bahasa Inggris, peraturan yang ketat, guru-guru yang galak dan kepala sekolah yang sering menghukumnya. Hanako bahkan kemudian mengenal sebuah kosakata bahasa Inggris 'Homesick' dari guru-gurunya ketika ia ketahuan menangis dan ingin kembali ke kampungnya. Ayahnya, yang selalu melakukan pertemuan rahasia dengan Hanako memberinya semangat bahwa Hanako sudah mulai bisa mengucapkan 'Homesick' selain "Good Morning, good afternoon dan good evening' yang diajarkan ayahnya selama perjalana kereta dari Kofu ke Tokyo. Hanako bangkit lagi dan mulai menyukai bahasa Inggris. Untuk bisa lulus Hanako bahkan pernah mencontek surat salah seorang gurunya, meski kemudian sebuah lagu yang ia tiru dari salah seorang gurunya berhasil menyelamatkannya dari dicabutnya beasiswanya. Sejak itulah, Hanako menjadi sangat suka belajar bahasa Inggris.

Dalam masa 10 tahun pendidikan Hanako di Tokyo, banyak hal terjadi. Ayahnya terlibat dalam penyebaran isu sosialisme dengan beberapa aktivis hingga bersembunyi selama 4 tahun di pegunungan; kakak sulungnya yang merasa didiskirminasikan dan benci jadi petani ingin menjadi tentara; Kayo adiknya terpaksa bekerja di sebuah pabrik tekstil yang membuatnya hampir mati dan harus melarikan diri; adik bungsunya Momo terpaksa harus menikah dengan lelaki pilihan ayahnya dan pindah ke Hokkaido demi mengurangi beban keluarga. Hanako sendiri, memulai karirnya dengen mencoba beberapa pekerjaan di sebuah penerbitan dan kemudian kembali ke Kofu untuk menjadi guru di almamaternya selama 6 tahun. 

Pertemuan antara Hanako dan Renko (aslinya Byakuren Yanagihara) seorang puteri dari keturunan bangsawan (Byakuren Yanagihara, sepupu Kaisar Taiso) mengubah banyak hal termasuk cara pandang masyarakat Jepang terhadap perempuan cantik dari kalangan ningrat kala itu. Hanako yang kemudian menjadi sahabat Renko memberikan Renko semangat untuk melepaskan diri dari kungkungan keluargnya yang menjadikannya hanya sebagai tumbal uang karena kecantikannya dan mendukung Renko untuk menemukan cinta sejatinya dan hidup bahagia, alih-alih menikah karena uang. Hanako dan Renko bahkan pernah saling berjanji untuk membuat buku masing-masing dan membuat nama mereka dikenal di Jepang. Saat Hanako menjalani masa-masa percobaan sebagai guru, Renko sedang berjuang mengubah kebodohan suami kayanya dan menerbitkan kumpulan puisinya yang kemudian membawanya pada cinta sejatinya, seorang aktivis dan calon pengacara. 

Saat Hanako dan Renko berjanji akan membuat buku mereka masing-masing

Hanako yang tak cocok jadi guru selalu membuat masalah di sekolah dan cara mengajarnya yang tidak biasa membuat ia sering dihukum oleh kepala sekolah. Namun, sebuah cerpen yang ditulisnya karena terinspirasi dari muridnya yang terpaksa berhenti sekolah karena miskin membuat hidupnya berubah. Dunia penerjemahan yang telah ditinggalkannya selama 6 tahun membuatnya kembali ke Tokyo, mengejar mimpinya sebagai penulis cerita dan penerjemah. 

Di Tokyo, Hanako memulai karirnya sebagai seorang editor untuk penulis ternama yang sangat tidak menyukainya. Kemudian ia beralih profesi sebagai penerjemah kisah berseri dari buku berjudul "The Prince and The Paufer" hadiah dari seorang teman yang baru kembali dari London. Serial itu menjadikan Hanako dikenal dan perusahaan tempat ia bekerja menerima lebih banyak permintaan untuk cerita-cerita terjemahan. Hanako juga kemudian bertemu dengan Muraoka, calon pewaris tahta Muraoka Printing yang memberinya hadiah kamus bahasa Inggris 6 tahun silam. Kamus itulah denyut nadi Hanako dan yang membuatnya bisa melakukan penerjemahan dengan semangat. Mereka jatuh cinta satu sama lain. 

Meski kisah cinta Hanako dan Muraoka tak mudah, tapi akhirnya mereka menikah dan memiliki seorang putera bernama Ayumu. Bagi Hanako, Ayumu adalah semangat hidupnya bahkan setelah gempa bumi hebat menghancurkan perusahaan tempatnya bekerja dan juga perusahaan suaminya, dan membuat usaha penerbitan dan penerjemahan buku-buku menjadi sulit. Sedihnya, dalam proses membangun semua yang hilang, Ayumu meninggal dunia karena Disentri. 

Dalam kemurungan, Hanako lebih banyak lagi melakukan kegiatan penerjemahan dan menerima order menerjemahkan beberapa buku dengan semangat. Hidup Hanako kemudian mengalami perubahan hebat saat ia menerima tawaran sebagai penyiar radio JOK (Sekarang NHK) untuk program "Children's Newspaper". Kisah-kisah yang dibawakana Hanako tentang dunia binatang dan mimpi-mimpi membuat acaranya menjadi kegemaran anak-anak dan keluarga di seantero Jepang. Namun, setelah berjalan beberapa tahun lamanya perang dunia II membuat mimpi-mimpi itu porak-poranda karena Hanako harus membawakan kisah-kisah tentang patriotisme tentara Jepang di medan perang. Bahkan kisah dunia binatang pun selalu dikaitkan dengan patriotisme mereka dalam membantu tentara di medan perang.

Karena itu pula Hanako harus kehilangan kehangatan dengan sahabatnya, Renko, karena program Hanako di radio JOK menjadi salah satu pencetus bagi anak sulungnya bergabung sebagai tentara Jepang dan meninggal sebelum perang berakhir. Padahal selama ini Renko dan suaminya berusaha sekuat tenaga mengusahakan perdamaian dan melakukan kerja-kerja kemanusiaan melalui jalan damai. Hanako kemudian sadar bahwa perang mengubah banyak hal termasuk hati seseorang. 

Muraoka Hanako dan orang-orang yang mendukung mimpi dan karirnya

Selain menjauhkan orang dari buku, perang juga membuat usaha penerbitan suaminya porak-poranda. Hanako juga tidak lagi bisa melakukan penerjemahhan karena tak ada yang mau melakukan penerbitan. Makanan lebih dibutuhkan dalam perang daripada buku. Karena itu, selama masa perang Hanako dan keluarganya membuka perpustakaan agar buku-buku koleksi keluarga mereka bisa dibaca para tetangga. Meski demikian, Hanako berharap buku-buku akan kembali terbit dan beberapa buku yang telah ia terjemahkan bisa dibaca publik Jepang.

Beberapa tahun setelah perang usai dan Hanako kembali melakukan siaran untuk program "Children's Newspaper", satu-persatu buku-buku yang ia terjemahkan diterbitkan. Salah satu karyanya yang kemudian menjadi best seller di Jepang setelah berakhirnya PD II adalah "Anne of Green Gables" yang di Jepang diterjemahkan sebagai "The Red Haired Anne". Karya Pamungkas Hanako sebagai penerjemah menjadikan namanya abadi dan sekarang telah berusia lebih dari 100 tahun dan memiliki arti khusus bagi publik Jepang dan Kanada.

Sukses tak Berdiri Sendiri  
Drama berjudul "Hanako to Anne" sepanjang 156 episode ini tentu tak terlalu mirip dengan kisah asli Muraoka Hanako (1893–1968). Namun, pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah Hanako adalah tentang hubungan erat antara passion, focus, love, friendship, family dan discipline. Bagi sosok Hanako yang polos tapi pekerja keras dan berkeinginan kuat, peran keluarga sangat penting sebagai obor semangat. Juga sahabat yang senantiasa mendukungnya dan ada untuknya saat dia dalam keadaan senang, susah atau bahkan ketika Hanako melakukan kesalahan tak termaafkan. Peran sahabat dan keluarga yang tak kalah penting adalah memberi dukungan bahwa Hanako dan bahasa Inggris adalah bagai belahan jiwa yang tak terpisahkan. Karena itu, setiap orang meyakinkan bahwa Hanako adalah penerjemah yang hebat dan karya-karyanya mampu membawa perubahan bagi publik Jepang. Dan, Hanako membuktikan semua itu hingga Jepang berterima kasih pada dedikasinya. Hingga saat ini karya-karyanya masih dibaca oleh publik Jepang. 



Di Jepang, Muraoka Hanako memiliki posisi khusus, khususnya bagi para penggemar karya-karyanya. Eri Muraoka, cucu Muraoka Hanako kini yang menjadi penyambung lidah karya-karya neneknya ke publik Jepang dan dunia. Sebagai cucu dang penerjemah legendaris, ia kini bekerjasama dengan cucu dari penulis buku 'Anne of Green Gables', L. M. Montgomery untuk menciptakan tempat khusus bagi publik Jepang menapak tilas masa lalu Muraoka Hanako. Begitulah, kerja keras dan ketekunan bukan saja membuat sebuah kisah menarik tulisan seorang Kanada menjadi begitu dicintai di Jepang. Juga menjadikan terciptanya persahabatan lintas generasi, bangsa, ras dan bahasa. Hanako yang ceria dan baik hati bukan saja dicintai pada masanya, juga kini oeh penggemar Jepang modern dan keturunannya.


Eri Muraoka, cucu Muraoka Hanako dan Kate MacDonald Butler, cucu L. M Montgemery saat meninjau Anne Memorial Room/ Hanako Muraoka Study Room

Drama yang Direkomendasikan  
Drama ini sangat kurekomendasikan untuk ditonton bagi siapa saja: orangtua, guru, murid, pemimpi yang putus asa, anak miskin yang ingin sekolah, orangkaya yang ingin meninggalkan statusnya, inisiator yang tak memiliki pengikut, para penggagas perdamaian, aktivis HAM, pecinta buku dan bahasa Inggris dan terutama mereka yang mencintai kehidupan. 

Drama ini bukan kisah kolokan. Setiap peristiwa memiliki makna dan keterkaitan erat dalam upaya perubahan sosial dimana peran seorang guru, petani, ayah, ibu, tuan tanah, pedagang, jurnalis, penulis, tentara, pelayan toko, orang kaya, ningrat dan orang asing saling berkaitan erat satu sama lain. Karena drama ini mengandung untsur pendidikan sebagai sebuah investasi teragung sebuah keluarga bagi anak-anak mereka dan sebuah masyarakat bagi bangsanya. Pendidikan selalu menjadi pintu bagia setiap pengetahuan dan pengalaman baru, dan kunci-kunci bagi perubahan yang lebih baik dimasa mendatang. Karenanya, membantu diri kita terbuka akan pentingnya pendidikan sama dengan membantu masyarakat kita berjalan menuju masyarakat berpemikiran terbuka.

Sebagian besar orang mengatakan bahwa orang miskin tak perlu mengenal buku. Makanan dan pakaian jauh lebih penting dicari bagi mereka yang lapar dan kedinginan. Karena miskin dan tak berpendidikan, orang miskin juga tak perlu berpolitik. Padahal, politik selalu menjadikan orang miskin alat pengeruk uang. Sejarah seringkali mengabarkan kepada kita bahwa orang-orang miskin yang awalnya kelaparan dan bodoh menjadi seorang reformis dan penggebrak sebuah masyarakat yang bodoh, korup dan tak adil. Muraoka Hanako menjadi contoh bagaimana buku dan pendidikan telah mengubah wajah dan kehidupan anak dari keluarga miskin menjadi begitu perpengaruh dalam dunia literatur Jepang. Hanako yang terdidik tahu bagaimana cara berpolitik melalui buku dan merubah sudut pandang publik Jepang terhadap peran perempuan terdidik.


Sumber gambar:
http://yanie02.livejournal.com/238142.html
https://piecesofeternity.wordpress.com/2014/07/19/fushin-no-tomo/
katzina.net
http://www.nippon.com/en/nipponblog/m00032/



Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram