Belajar Menulis pada YUSRAN DARMAWAN



Yusran Darmawan dan puterinya, Ara


Aku benar-benar berterima kasih pada beasiswa IFP-FF yang salah satunya telah membuatku mengenal sosok rendah hati dari wilayah timur Indonesia bernama Yusran Darmawan. Pada kurun waktu 6 bulan pertemuan kami sebagai sesama penerima beasiswa IFP yang belajar bahasa Inggris di LBI UI, Salemba, Jakarta aku tak terlalu peduli pada sosoknya. Dia bukan tipe orang yang mudah dibaca, meski ia ramah dan rendah hati. Satu-satunya yang sejak saat itu aku tertarik padanya adalah tulisan-tulisnanya di Kompasiana dan blog miliknya di www.timur-angin.com yang fenomenal. Diam-diam aku menjadi penggemar tulisan-tulisannya. 

Lelaki satu ini bukan saja pecinta buku dan photografi, tetapi penulis yang menulis dengan hati. Meski lulus dari sebuah kampus ternama di Amerika Serikat dan menulis beberapa buku, ia bukan tipe yang besar kepala. Terbaru, untuk mengatasi dahaganya akan ilmu ia mendaftarkan dirinya menjadi calon mahasisa doktoral di Universitas Indonesia. Membayangkan seorang Yusran Darmawan menjadi mahasiswa S3 di almamaterku membuatmu berimajinasi tentang tulisan-tulisan terbarunya sebagai blogger, mahasiswa S3, peneliti, seorang suami dan ayah, sekaligus sebagai anggota masyarakat yang setia mengamai fenomena sosial dan mendiskusikannya dengan kepala dingin melalui tulisan-tulisannya. 

Pertama kali aku mulai membuat blog sendiri secara otodidak pada tahun 2008 dan menulis hal-hal konyol tentang keseharian. Saat itu aku tak terlalu peduli bahwa tulisan-tulisan di blog bisa berpengaruh pada pembaca dan mungkin menjadi api pemicu gerakan sosial seperti tumbuhnya komunitas-komunitas diskusi. Setelah mengenal tulisan-tulisan Yusran Darmawan 2 tahun kemudian, perlahan-lahan aku mengubah caraku menulis dengan pertama-tama tentu saja menentukan tujuan mengapa aku menulis tentang sesuatu. Dan ya, aku menemukan kesenangan tersendiri dalam menulis, dan terutama setelah menikmati karya-karya Yusran Darmawan yang selalu renyah, rendah hati dan berbenih kebaikan. 

Tulisan-tulisan Yusran Darmawan sering menjadi Headline di Kompasiana. Tulisan tentang para pengemis di Amerika menjadi salah satu tulisan menggembrak menurutku sebab ia menyajikan cerita tentang kesedihan kelompok miskin di negara adidaya Amerika.

Beberapa kali aku juga berkonsultasi tentang ABCD dalam menjadi seorang blogger. Misalnya tentang mengubah kode-kode untuk menjadikan tampilan blog sesuai yang diinginkan. Ia senantiasa mengarahkanku pada kunci-kunci dan kemudian aku melakukan eksplorasi dengan senang hati. Tetapi sebenarnya, aku lebih banyak belajar darinya dengan membaca tulisan-tulisannya di Kompasiana dan blog pribadinya. 

Sebagai penulis dan peneliti dengan latar belakang Antropologi dan Komunikasi, cara menulis Yusran Darmawan benar-benar berbeda dan memikat. Tulisannya yang sederhana sekalipun selalu memikat. Misalnya tentang puterinya yang juga memiliki penggemar sendiri. Dan diam-diam pula aku berimajinasi tentang Ara yang kelak akan menjadi penulis hebat karena memiliki ayah dan ibu yang penulis dan pecinta buku. Untuk menunjukkan sesuatu sebagai ide yang besar, Yusran Darmawan selalu menjadikan hal-hal kecil dan sederhana sebagai contoh. Ia menjadikan sesosok manusia sebagai kehidupan dalam tulisannya, dan sebagian kecil sosok yang ia ceritakan dalam tulisan cukup kukenal. 

Baginya menulis adalah meditasi, tak peduli saat sepi atau riuh prosesnya dilakukan.

Lelaki sederhana dan bertangan dingin ini menurutku akan melahirkan lebih banyak buku dimasa depan. Beberapa buku telah lahir dari tulisan-tulisannya di blog, meski belum satupun aku memiliki buku-buku tersebut. Cara beliau menulis dan menyampaikan gagasan sungguh berbeda dengan banyak penulis dan blogger yang kukenal. Kesederhanaan pribadinya selalu tercermin dalam tulisan-tulisannya dan umpama siput ia menyembunyikan dirinya dalam cangkang yang dikagumi orang-orang. 

Kelak, aku sangat ingin mendengar lelaki ini lulus dan bertitel Dr. didepan namanya dan buku-bukunya bertebaran di toko- toko buku sebagai bestseller. Berpuluh tahun kemudian, aku akan meceritakan kepada keturunanku bahwa tulisan-tulisan lelaki baik ini selalu menjadi inspirasiku dalam menulis, meski ya sampai saat ini belum ada bukuku yang terbit, hahahaha. 

Sumber gambar:
http://www.timur-angin.com/

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram