AKIYAMA TOKUZO, the Japanese Emperor's Cook


Akiyama Tokuzo, the Emperor's Chef

Sebuah drama terbaru di Jepang berjudul "Tenno no Ryoriban" atau "Emperor's Cook" adalah berkisah tentang juru masak dua kaisar Jepang yaitu Kaisar Taiso dan Kaisar Showa. Drama sepanjang 12 episode ini mengambil lokasi syuring di Jepang dan Perancis dengan dukungan khusus dari beberapa perusahaan Jepang seperti Ajinomoto, Kao, Sunctory dan sebagainya. Drama dikemas begitu apik dan kadang-kadang bikin penonton tertawa geli. Juga, banyak keindahan terselip dimasa lampau Jepang yang sederhana. 

***

Akiyama Tokuzo adalah anak kedua dari sebuah keluarga lumayan berada di sebuah pedesaan di Jepang. Tokuzo adalah pemuda yang tidak konsisten dengan cita-citanya dan membuat pusing keluarganya. Ia bahkan sempat berkeinginan menjadi seorang biksu namun menyerah dalam waktu tiga bulan pelatihan karena bosan. Ya, ia seorang pembosan. Nah, untuk membuat Tokuzo muda berubah menjadi pemuda bertanggungjawab, ayahnya kemudian menjodohkannya dengan seorang gadis dari keluarga pedagang. Tokuzo kemudian menikah dengan Toshiko, gadis lembut hati yang menjadi motor penggerak kesuksesan Tokuzo. 

Karena kelak ia akan memikul tanggungjawab keluarga mengurus kelangsungan bisnis mertuanya, maka pertama-tama setelah berumah tangga ia ditugasi mengantar bahan makanan berupa rumput laut kering ke sebuah barak tentara. Disana ia bertemu dengan seorang chef yang memasak makanan barat yang belum pernah ia makan sebelumnya, yaitu cutlet daging sapi, kari sampai menu dari bekicot. Tokuzo menganggap makanan-makanan itu hebat dan ia ingin bisa memasak makanan itu. Berhari-hari kemudian ia belajar bersama si Chef dan bercita-cita menjadi seorang chef. 

Meski keinginanya ditertawakan keluarga dan mertuanya, bahkan seisi desa, Tokuzo berangkat ke Tokyo untuk belajar di sebuah resto. Ia didukung kakaknya yang sedang sekolah hukum dan istrinya, Toshiko yang tengah hamil anak pertama mereka. Kesibukan Tokuzo belajar masak di dua restoran barat di Tokyo membuat lupa pada Toshiko, hingga Toshiko keguguran dan keluarga mertuanya memaksa mereka bercerai. Meski keadaan memaksa Tokuzo untuk berfikir ulang tentang cita-citanya, Toshiko meyakinkan bahwa ia mendukung sepenuhnya cita-cita Tokuzo dan kakaknya yang sakit mampu membuat Tokuzo bercita-cita menjadi juru masak kaisar Jepang. 

Untuk mewujudkan impiannya, ia pergi ke Perancis. Ia dilatih langsung oleh chef Auguste Escoffier di the Ritz Hotel. Meski pada awalnya ia mendapatkan perlakuan tak manusiawi berbau SARA dari para chef Perancis selama pelatihan, Ia bersabar dan memilih tekun belajar menjadi chef handal sebelum kembali ke Jepang. Pihak kedutaan Jepang selalu menjadi pendukungnya, termasuk seorang gadis Perancis yang membantunya belajar bahasa dan budaya Perancis. Setelah lima tahun belajar, ia dipanggil pulang dan diminta menjadi kepala chef di dapur kerajaan. Tokuzo muda yang tak memiliki pengalaman memimpin, harus kembali belajar. Sebab apa yang ia pelajari di dapur di Perancis sangat jauh berbeda dengan dapur kerajaan. Ia yang temperamental dan bersuara keras juga harus bisa melakukan penyesuaian sebagai bentuk penghormatan pada kaisar. 

Kazoku-kaikan, Tokyo adalah dapur pertama  Akiyama Tokuzo belajar menjadi seorang chef selain di British Legation, dan mendapat guru pertamanya yang hebat, Usami-san

Saat itulah ia kembali bertemu Toshiko yang ternyata tinggal di Tokyo dan menjadi seorang bidan. Mereka kemudian menikah lagi dan memiliki tiga orang anak. Menjadi juru masak kaisar Jepang membuat kepercayaan keluarga dan keluarga mertuanya terbangun kembali, meski penghasilannya tak besar. Ia bahkan harus merahasiakan kepada anak-anaknya profesinya agar tak ada orang-orang yang berusaha menyuapnya agar bisa bekerja di kementerian. Toshiko yang lembut dan baik hati, selalu memberinya dukungan bahwa Tokuzo memiliki pekerjaan yang hebat meski tak menjadikan mereka kaya.

Sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas makanan dan kesehatan kaisar dan keluarga kerajaan, Tokuzo belajar lebih banyak hal lagi selama bertahun-tahun kemudian. Misalnya ketika ia belajar bagaimana seorang kaisar Jepang begitu merakyat ketika sebuah gempa hebat melanda Jepang dan rakyat kelaparan, juga ketika terjadi perang dunia II dimana bahan pangan menjadi sangat langka. Ia belajar arti kepemimpinan ketika sebagai chef Kaisar ia tak bisa menyajikan makanan sebagaimana biasanya untuk Kaisar, selain ikan kering dengan sebutir kentang rebus dan sejumput bayam rebus. Sementara itu, Kaisar mengizinkan para petinggi tentara menikmati makanan sehat dan bergizi, bahkan minum wine yang sangat mahal ketika itu untuk meningkatkan moral prajurit agar Jepang memenangkan peperangan.

Ketika Jepang kemudian kalah perang dan nasib Jepang ada ditangan sekutu, Tokuzo sebagai chef juga memiliki tanggungjawab menyelamatkan leher Kaisar dengan masakannya untuk para tentara asing yang tengah mengontrol kinerja kekaisaran Jepang. Ia memberi penghormatan khusus kepada tentara asing dan memasak untuk mereka makanan yang baik dan sehat, serta menunjukkan keramah tamahan Jepang meski kadangkala ia menerima berbagai hinaan dan cemoohan dari tentara asing.

Chef Akiyama Tokuzo dan keluarga kecilnya yang sederhana
Dengan kerja keras, kecintaan yang kuat pada Jepang, ketulusan hati dan dukungan keluarganya, Tokuzo berhasil menjadi chef terbaik yang melayani dua kaisar Jepang dalam berbagai situasi. Ia menjadi chef di kekaisaran Jepang selama 58 tahun dan melayani dua orang kaisar, Kaisar Taisho (1879-1926) dan penerusnya Kaisar Showa/Hirohito (1901-1989). Sebagai warga negara Jepang, ia bangga telah mampu mendedikasikan dirinya kepada Kaisar selaku pemimpin Jepang dan memperkenalkan kuliner Jepang kepada negara-negara tetangga dalam berbagai macam jamuan kerajaan selama itu. 

Pada tahun 1923, Akiyama Tokuzo mempublikasikan sebuah buku panduan kuliner Perancis setebal 1.600 halaman. Buku itu menjadi sejarah tersendiri baginya sebagai Chef Kaisar Jepang dan bagi dunia kuliner Perancis di Jepang. Dokumen asli buku tersebut kini disimpan di Ajinomoto Foundation for Dietary Culture Library. 

Menu yang disajikan Chef Akiyama Tokuzo dalam jamuan untuk keluarga kerajaan Jerman pada September 1912

Masakan dan Kejujuran Hati
Dimasa lampau, sebagaimana diceritakan dalam drama ini, ada masa bahwa profesi seorang chef tidaklah dianggap sebagai profesi mulia. Ya ampun, apa bagusnya jadi chef? ya ampun, apa hebatnya jadi tukang masak? 

Sebuah adegan mengharukan dalam drama ini adalah ketika anak sulung Akiyama Tokuzo menghina profesinya sebagai chef, sebelum ia tahu bahwa ayahnya adalah chef khusus Kaisar Jepang yang memasak di dapur kerajaan. Anak itu mencemooh bahwa memasak bukanlah pekerjaan hebat. Karena itulah Tokuzo menghukumnya dengan tidak memberinya makan. Seharian anak itu kelaparan dan kemudian Toshiko memintanya membersihkan ikan dengan upah dua sen. Dengan dua sen itu anak itu lalu membeli makan semangkuk nasi putih. Setelah itu ia baru sadar bahwa profesi ayahnya yang ia hina ternyata yang menghidupi keluarganya, yang membuat keluarganya bisa memiliki rumah, makan makanan sehat dan ia bisa bersekolah. Ia kemudian paham betapa berharganya makanan dan kemampuan seseorang dalam mengolah makanan menjadi masakan yang lezat. Kebanggaan itu bertambah ketika gempa hebat melanda Jepang dan orang-orang kelaparan, ia melihat ayahnya tengah melayani lautan pengungsi dengan makanan dari dapur kerajaan yang dibuat dalam komandonya. Saat itulah ia tahu bahwa pekerjaan sebagai chef adalah sebuah pekerjaan hebat. 

Dalam drama tersebut juga banyak pelajaran penting yang menghubungkan antara masakan dan kejujuran hati seorang Chef. Misalnya ketika guru Tokuzo setiap malam mengasah pisaunya dengan hati-hati agar bisa digunakan keesokan harinya. Sebab bagi seorang chef, pisau adalah senjata khusus yang tidak hanya berfungsi mengiris dan membelah, tetapi bagaimana sang Chef akan mengiris dan membelah daging atau ikan dengan ketajaman khusus sehingga bentuk dan rasa makanan seimbang. Serta keharusan mencuci alat-alat masak sebanyak dua kali, yaitu setiap malam setelah setelah dapur berhenti berkegiatan dan pagi-pagi sekali sebelum kegiatan memasak dimulai. Dimana pada awalnya Tokuzo merasa kegiatan itu buang-buang waktu dan melelahkan, namun kemudian ia menyadari bahwa bau pada alat-alat masak akan berpengaruh pada kualitas masakan.

Emosi seorang chef juga harus diperhatikan. Saat seorang chef sedang marah atau sedih, maka sikapnya akan berpengaruh buruk pada makanan dan pertama-tama pada bentuk irisan dan rasa masakan. Karena itu, seorang chef harus memasak dengan hati yang bersih dan jujur. Bagaimanapun, sebuah masakah adalah citra dari pikiran dan hati seorang chef. Jadi, terdapat keterkaitan yang sangat erat antara bahan masakan, alat memasak dan cehf sebagai juru masak untuk menghasilkan menu yang lezat dan tak terlupakan.

Dan sebagaimana profesi lain, untuk menjadi seorang chef dibutuhkan kerja keras, disiplin tinggi, ketekukan dan dukungan keluarga dan sahabat. Sukses tak pernah berdiri sendiri, sebagaimana sebuah menu lezat selalu terdiri dari berbagai macam bahan, warna dan rasa.


Sumber gambar:
http://ilarizky.blogspot.com/2015/05/review-j-drama-tenno-no-ryoriban.html
http://forums.soompi.com/en/topic/348073-current-japanese-drama-2015-the-emperors-cooktenno-no-ryoriban-
http://blogs.wsj.com/japanrealtime/2015/03/17/imperial-palace-chefs-family-donates-banquet-menus/

Happy cooking everyone

Wijatnika Ika

3 comments:

  1. Memang film yg sangat bagus dan layak utk ditonton..👍😊

    ReplyDelete
  2. Betul sekali.
    Terima kasih sudah mampir ke blog ini.

    Salam,

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram