Refleksi ke 30; Betapa Berharganya Hidup

Di Kampus CIFOR, Bogor saat umurku 29.
"Kamu itu pembangkang, lho. Kenapa sih kamu?" suatu kali seorang perempuan berkata demikian dengan suara keras. DARR! aku kemudian sadar bahwa aku lupa telah menjadi anak pembangkang sepanjang 25 tahun. Aku nyaris lupa bahwa dengan menjadi anak keras kepala, keras kemauan dan pembangkang telah mengantarkanku pada hal-hal yang tak mungkin kuraih jika aku jadi anak pendiam dan penurut. 

Sejak kecil, sebagai anak yang tumbuh dari orangtua yang bercerai, aku beranggapan bahwa aku berhak menjadi pembangkang demi masa depanku. Tinggal bersama keluarga paman -dengan bibiku yang cerewet dan sepupuku yang semuanya pemalas- menuntutku untuk menentukan jalanku sendiri, membuat pilihan sendiri, menjalaninya sendiri -terkadang menangisi atau menertawainya sendiri- untuk bisa selamat dari semua masalah yang menimpa keluarga besarku. Sungguh, aku sangat waras dan kedua mataku terbuka lebar untuk menyaksikan sekian kegagalan, keputuasaan, rendah diri dan rasa tidak percaya diri untuk berubah. Dan aku tak mau merusak masa depanku sendiri. Dan pembangkanganku sebagai anak perempuan telah membawaku pada hari dimana pada saat umurku tepat 30 tahun pada bulan ini, tak seorangpun menuntutku untuk segera membawa calon suami ke rumah -tanggal 30 Mei nanti aku akan menjadi satu-satunya jomblo diantara teman-teman SDku saat seorang teman menikah- Arghhhhh

Well, aku telah meraih beberapa mimpiku yang kubangun sejak kecil: sekolah tinggi, berkunjung ke berbagai tempat, bertemu teman-teman keren, punya pekerjaan bagus, menjadi perempuan baik-baik (ini karena ada banyak perempuan seusiaku yang tergoda menjadi perempuan 'nakal'), ke luar negeri (meski cuma sebentar) dan sebagainya. Tinggal beberapa hal tertinggal yang akan segera kugenapi perlahan-lahan. 

Aku beritahu padamu resiko sebagai anak dari keluarga bercerai (sudah 25 tahun), kau mungkin dilupakan orangtuamu sendiri. Atau mungkin karena aku mandiri sejak kecil jadi kedua orangtuaku tak terlalu pusing memikirkan kelakuan anaknya -mereka yakin aku baik-baik saja, karen memang sepanjang 25 tahun ini aku baik-baik saja-. Dan aku berterima kasih kepada diriku sendiri dimana otakku masih waras untuk tetap menjadi anak baik-baik dan tidak melarikan diri pada berbagai kesenangan merugikan diri sendiri. Aku bersyukur Tuhan melindungiku dan menggengam tanganku erat untuk tidak merusak diri sendiri karena perkara keluarga. Jadi, aku hanya menangis. Ya, menangis sepanjang 25 tahun (karena itu aku tak suka merayakan hari ulang tahunku sendiri dan menerima dengan dingin semua ucapan selamat dari teman-temanku). Pahamilah aku, please! sebab rasanya sakit sekali menahan semua kemarahan yang ingin kumuntahkan, tetapi aku memilih menghargai pilihan orangtuaku dan memilih bertanya pada Tuhan apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan hidupku yang penuh amarah ini, agar aku sampai ke tempat abadi yang Tuhan janjikan untuk anak-anak perempuan saleha. 

Bayangkan, adikku sudah menikah dan punya seorang anak.
Dan yah sampailah aku pada usia 30. Rasanya? Hm, aku merasa baru memasuki usia 25. Aku merasa masih muda, belum ingin menikah, masih ingin mengujungi berbagai tempat di negeri ini, masih ingin melakukan hal-hal konyol, dan masih ingin tinggal sendirian di kosan, hehehe. Jika tetangga satu kampungku mungkin bertanya mengapa aku belum juga menikah padahal aku sudah tua (ukuran kampung ya), ya, kupikir aku bisa berbohong bahwa pacarku sedang sekolah di luar negeri jadi belum bisa kubawa ke rumah, hehehehe. Jadi, aku bersiap menyambut semua keajaiban di usiaku ini; menjadi perempuan tangguh, inspiratif, bebas berkarya dan berkemungkinan melanjutkan sekolah lagi. Hidup ini sangat berharga sebagai ladang kebaikan untuk pulang pada keabadian yang indah.

Bagiku, tahun ini adalah refleksi paling serius yang kulakukan dari tahun-tahun sebelumnya. Dimana aku merasa telah sampai pada setengah jatah untuk hidup. Mungkin Tuhan beteriak padaku "Hey kamu, Ika, berhati-hatilah di setengah hidupmu selanjutnya! Kamu harus pulang ke Surga-Ku dengan selamat. Mengerti?!" Dan well, diriku, selamat melanjutkan hidup...

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram