When Your Best-Friend Get Married

Pernikahan Uni ala adat Lampung Saibatin tahun 2012 silam. 

12 tahun lalu di kampus bagian paling belakang Universitas Lampung kami bertemu. Kami bertiga tiba-tiba merasa cocok satu sama lain dan setelah itu kami menjadi sahabat. Kawan-kawan seangkatan kami menyebut kami "Tiga Bidadari Sosiologi" hahaha, meski terlalu berlebihan sih kesannya. Meski latar belakang keluarga, suku dan asal sekolah kami sangat berbeda, namun kami memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Bahkan umur kami tak berpaut terlalu jauh dan lahir di tahun yang sama. Unjunan yang tertua, aku yang kedua dan Uni yang bungsu. 

Unjunan yang suku Lampung asli, aku yang Pujakesuma (puteri Jawa kelahiran Sumatera) dan Uni yang Minang-Lampung menjalani hari-hari dengan kompak dan penuh dengan keceriaan. Belajar kelompok bersama, makan di kantin bersama-sama, bikin paper bersama-sama, ikut organisasi kemahasiswaan yang sama, dan kadang-kadang memakai jenis pakaian yang sama ke kampus meski sama sekali tidak janjian. Pokoknya kami kompak dan serasi dan layak menerima sebutan Tiga Bidadari Sosiologi (pipi bersemu merah) hehehe...

Dari banyak kisah suka dan duka kami sebagai sahabat, ada satu kisah tentang kami yang ternyata benar-benar terjadi. Suatu hari, aku lupa siang atau sore waktu aku, kami berdiskusi soal calon pasangan kami masing-masing. Saat itu kami bertiga memiliki 'gebetan rahasia' dan berseloroh bahwa Uni akan menikah untuk pertama kali, lalu Unjunan lalu aku. Kami bertiga tahu karena waktu itu Uni yang telah memiliki hubungan yang lebih jelas ketimbang kami berdua yang msih mengawang-ngawang. 

Lalu, di semester terakhir masing-masing kami sibuk dengan skripsi dan kegiatan lain di luar kampus yang menyita perhatian. Unjunan lulus duluan lalu krja di Jakarta, disusul Uni dan terakhir aku pada 2008. Saat aku tengah melanjutkan studi di Universitas Indonesia aku mendapat kabar bahwa Uni akan menikah. Yup, kejadian juga bahwa si bungsu kmi yang tercinta menikah duluan. 

Aku dan Unjunan kemudian sengaja pulang ke Lampung untuk menghadiri pernikahan Uni di Padang Cermin, Pesawaran. Kami bahagia. Akhirnya Uni menemukan belahan jiwanya. Sepulang dari pernikahan uni aku dan Unjunan menyempatkan diri mampir ke pantai Kelapa Rapat dan merenung tentang perasaan kami ketika menghadiri pernikahan Uni. Oh, betapa cepat waktu berlalu. Kami lalu bersenang-senang dengan bermain-main pasir id pantai yang masih alami di Teluk Lampung itu. 

Unjunan tampak bahagia di hari pernikahannya

Lalu, awal tahun 2015 ini Unjunan pun menemukan belahan jiwanya dan menikah. Kegalauan dan penantian mereka berdua telah menemukan pelabuhannya. Hatiku kembali bergetar meski aku tak sempat pulang ke Lampung untuk menghadiri pernikahan Unjunan di Way Kanan karena alasan pekerjaan. Tetapi, karena kisah Unjunan dan aku hampir mirip dan selama dua tahun terakhir kami memiliki kegalauan serupa, aku menjadi sangat bahagia ketika Unjunan menentukan pilihan. 

"Harta dan tahta memang penting untuk hidup, tapi cinta dan kasih sayang untuk elyarga mengalahkan segalanya, I love u say.." status Unjunan dalam sebuah akun sosial medianya membuatku paham bahwa perempuan baja itu telah memilih lelaki yang tepat untuk menemaninya menggenapi mimpi-mimpinya. Alhamdulillah...

Aku? nah, itu dia masalahnya sekarag, hehehe. Bukan soal aku yang masih sendiri atau belum menentukan pilihan, tetapi melalui tulisan ini aku ingin mengenang tentang betapa hal-hal konyol serupa selorohan diantara kami ternyata dikabulkan Tuhan. Dua sahabatku tersayang telah berbahagia sebagaimana doa kami bertiga bertahun-tahun silam. 

Momen ketika aku dan Unjunan menghabiskan waktu bersama disela-sela kesibukan kami

Aku berharap, meski kini masing-masing kami sibuk dengan kehidupan kami, kami tetap bersahabat dan kelak suami-suami dan anak-anak kami akan bersahabat dan kami menjadi keluarga yang bersahabat hingga maut memisahkan, amin...

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram