Belajar 'BERNEGARA' pada LEE KUAN YEW

Lee Kuan Yew saat merayakan ulang tahun ke 90

Lee Kuan Yew, negarawan terkemuka Asia tutup usia pada 91 tahun beberapa hari lalu. Bukan hanya masyarakat Singapura yang berduka, juga masyarakat Asia dan dunia, termasuk Indonesia. Kepergian ia yang berjasa besar bagi kemajuan peradaban manusia  atau sebuah bangsa adalah sbeuah kehilangan yang sejelas kaca, tak bisa disembunyikan. Lelaki yang dikenal tegas, disiplin dan otoriter itu dikenal dunia telah membawa Singapura sebagai sebuah wilayah pecahan Malaysia menjadi negara maju di Asia sejak ia menjabat sebagai perdana Menteri sejak 1959. 

LKY adalah seorang lelaki ambisius sejak muda dalam memimpin perubahan dalam masyarakat. Meski selama 30 tahun ia dikenal sebagai Perdana Menteri yang otoriter dalam memimpin Singapura, namun hasil kerja kerasnya terbukti membuat dunia terpukau pada negara kecil tersebut menjadi 'macan' di Asia, khsusunya Asia Tenggara. Meski pada tahun 1990 ia mengundurkan diri menjadi PM, namun pengaruhnya yang besar membuatnya diangkat sebagai Menteri Senior dengan posisi sebagai penasehat pada pemerintahan PM Goh Choh Tong. Karena kontribusinya yang besar pada umat manusia, pada 2014, LKY dianugerahi Global Citizen Award sebagai negarawan terkemuka di dunia. 

Sebagai pendiri bangsa, Lee Kuan  Yew mengaku tidak menggunakan resep atau terpaku pada teori bernegara, tetapi pada prinsip bahwa warga sebuah negara harus disiplin untuk bisa maju meski dalam urusan sepele seperti membuang ludah dan sampah. 

Ada banyak kisah heroik dan pembelajaran penting dari sosok LKY dan telah dibahas dalam banyak tulisan. Namun, aku hanya ingin menyuguhkan tentang sudut pandangku mengenai beberapa hal krusial yang bisa kita pelajari dari sosok beliau sebagai seorang negarawan mengenai 'cara bernegara'.

Pertama, LKY memiliki visi yang jelas tentang Singapura mau menjadi negara macam apa. Sebagai negara dengan geografi sangat kecil di Asia Tenggara yang dihimpit raksasa Indonesia dan negara-negara lain, LKY terus menyadarkan warganya untuk mengoptimalkan potensi Sumber Daya Manusia/ Human Capital sebagai satu-satu sumberdaya yang bisa mereka gunakan dalam mencapai tujuan Singapura sebagai negara yang maju, makmur dan berpengaruh di Asia. Kerja keras dan disiplin warganya menjadikan negara itu sebagai 'ruang ramah' bagi investor untuk berbisnis dan melipat gandakan keuntungan uang mereka yang berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Singapura melesat naik meninggalkan Indonesia, tetangganya yang kaya raya. Ia tumbuh laksana mesin uang yang meninggalkan Indonesia. 

Kedua, LKY memimpin Singapura dengan keras dan tegas alias tangan besi. LKY tak peduli dikatakan sebagai otoriter dan melenyapkan demokrasi di negaranya. Sebagai pemimpin negara berkembang menuju negara maju, LKY hanya memiliki satu pandangan bahwa arahan dan teladan yang jelas dari penyelenggara negara adalah prasyarat bagi kemajuan sebuah bangsa, sebelum rakyat diberikan pilihan untuk menentukan pemimpinnya sendiri melakui sistem demokratis yang dianut Indonesia sejak 1998 pasca jatuhnya Soeharto. Baginya, demokrasi tak begitulah penting dalam masyarakat yang belum mampu berdisiplin. Meski demikian Ia tak mengubah dasar-dasar kehidupan bernegara yang telah ada, namun hanya memberikan sentuhan radikal agar negara itu bangkit bang naga raksasa yang bangun dari tidur. 

Ketiga, bersih dari korupsi. Pemerintahan LKY bersih dari korupsi dan lembaga penyelidikan tindak korupsi semacam KPK didirikan yang berada langsung dibawahnya. Semua pejabat, meski mereka yang senior, tak luput dari penyelidikan. Hukuman buat mereka yang korup sangatlah berat. Ia menganggap koruptor ibarat sampah yang harus dibersihkan meski hanya secuil. Itulah yang membuat rakyat Singapura memujanya ditengah hukum yang ketat tanpa demokrasi dan kebebasan berpendapat. LKY bahwa menunjukkan bahwa Singapura yang kaya raya tak otomatis menjadikan keluarganya hidup dalam gelimang harta. Namun, ketika kemudian ketika putra sulungnya menjabat PM singapura dan banyak anggota keluarganya memegang jabatan penting pemerintahan, ia dituding melakukan praktek nepotisme. 

Keempat, ada saatnya pemimpin mengaku salah. LKY mengaku bahwa dirinya bukanlah manusia serba benar karena itu ia juga mengakui bahwa beberapa kebijakannya salah dan terlalu ketat. Ia mengaku pernah memenjarakan koleganya tanpa persidangan, mengekang kebebasan pers, kebebasan berpendapat dan berkumpul yang membuat sebagian rakyat Singapura muak pada prinsip 'Tangan besi'nya. Juga ketika etnis melayu merasa menjadi minoritas dibanding etnis Tionghoa. 


Warisan Lee Kuan Yew buat kita yang selalu haus inspirasi

Belajar pada LKY adalah belajar tentang bagaimana menjadi pemimpin besar yang kepergiannya bukan membuat orang senang, melainkan sedih karena kehilangan. LKY telah menitipkan dunia negara bernama Singapura dengan sistem yang ia bangun selama 30 tahun sebagai PM dan sisanya sebagai Menteri Senior. Ia mewariskan kepada dunia bagaimana seorang warga negara telah berhasil membangkitkan kekuatan negara pulau kecil dengan kerja keras, disiplin dan bersih dari korupsi. Semoga kita bangsa Indonesia bisa meniru sikap tersebut dari aspek terkecil hingga kenegaraan. 

Nyanyikanlah lagu "Gugur Bunga" meski ia bukan melakukan semua itu untuk Indonesia, tapi ia telah menunjukkan kepahlawanan di dunia modern dan mengajarkan kita ibarat guru kehidupan. Namanya akan selalu dikenang dan keberhasilannya akan menjadi inspirasi. Mungkin juga akan menjadi serupa dongeng yang diceritakan orangtua pada anak-anak mereka menjelang tidur. 

Sumber bacaan dan gambar:
http://www.todayonline.com/singapore/parents-should-not-overemphasise-academic-results-lky
http://mustsharenews.com/lee-kuan-yew-life-story/
https://www.pap.org.sg/tags/lee-kuan-yew
https://www.pap.org.sg/news-and-commentaries/news-reports/global-citizen-award-lee-kuan-yew
http://articles.economictimes.indiatimes.com/2014-05-25/news/50083600_1_india-s-singapore-judicial-reforms
http://www.tempo.co/read/news/2015/03/24/118652380/EKSKLUSIF-Tempo-Rahasia-Sukses-Besar-Lee-Kuan-Yew
http://doa-bagirajatega.blogspot.com/2015/03/tajuk-rencana-lee-kuan-yew-dan.html
http://www.tempo.co/read/news/2015/03/24/118652353/Lee-Kuan-Yew-Saya-Akui-Apa-yang-Saya-Lakukan-Tak-Benar

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram