SEPASANG MATA MELLY


Ilustrasi

Aku melihat amarah bertumpuk-tumpuk dimatamu. Sepasang matamu yang lelah, sakit dan penuh amarah itu seolah mengatakan bahwa kamu sangat ingin mati. Tetapi, saat setiap pagi aku melihatmu membuka pintu dan menuju meja kerjamu, aku bersyukur. Setidaknya kamu masih memiliki daya tahan untuk melanjutkan hidup. Aku senang melihatmu bekerja begitu keras, meski entah untuk apa, dan mengetahui bahwa kamu masih hidup.  


Kamu bekerja, bekerja dan bekerja. Entah kamu terlalu suka bekerja umpama bayi terlalu suka permen yang membuat gigi mereka rusak. Atau memang hanya dengan bekerja kamu bisa menikmati dirimu sendiri. Aku, yang belum lama mengenalmu sebagai rekan kerja, hanya ingin tahu kapan amarah yang bertumpuk-tumpuk itu akan menipis dan hilang bersama waktu. Aku ingin membantumu, tapi aku tak tahu cara membantumu. Aku tak mengenalmu, tak memahamimu. 

Melly, aku ingin sekali mengajakmu ke suatu tempat, lalu duduk-duduk santai menikmati pemandangan di malam hari. Mungkin ada satu milyar bintang yang bertaburan yang bisa kamu pandangi dengan sepasang matamu yang penuh amarah itu. Atau sekedar mengobrol sambil menikmati secangkir kopi Lampung yang sedap itu. Aku ingin sekali duduk berdua saja denganmu, memperhatikan sepasang matamu yang bergerak-gerak sewaktu kau berceloteh. Juga perubahan warna mukamu saat kau bercerita tentang sesuatu. Aku sangat ingin tahu apakah saat itu amarah masih bertumpuk dimatamu...

Pagi tadi, sudah lima belas menit kamu terlambat. Aku cemas saat melihat meja kerjamu masih kosong. Aku cemas tak bisa melihat punggungmu. Tak mendengar alunan musik dari laptopmu. Tak mendengar kau menggerakkan kursi, membuka halaman buku, menerima telpon dan tertawa renyah pada seseorang yang kau telpon. 

Pagi tadi, aku duduk di meja kerjaku dengan cemas. cemas secemas cemasnya. Entah mengapa aku begitu rindu padamu. Aku ingin melihatmu membuka pintu dan menikmati wajahmu yang tersneyum tipis. Dan sepasang matamu yang penuh amarah. Aku ingin mendengar suaramu, dan tawamu yang renyah. Aku ingin melihatmu. 

15 menit kemudian. 
Melly, kau muncul di pintu. Wajahmu pucat dan sepasang matamu masih penuh amarah. Saat kau berjalan lunglai ke meja kerjamu, aku hanya bisa memandangimu cemas. Aku merasa lega. Aku bisa melihat punggungmu, mendengar suara-suara dari mejamu dan suara renyahmu saat menelpon seseorang entah dimana. 

3 jam kemudian
Aku sedang begitu sibuk dengan pekerjaanku dan lupa memperhatikanmu, punggungmu. Saat kudengar suara orang-orang menjerit. Kau ambruk Melly! kau ambruk di kantor ini, di depan matamu! hidungmu mengaluarkan darah dan sepasang matamu terpejam begitu kuat. Aku cemas secemas-cemasnya, Melly. Aku tak ingin kehilanganmu. 

Kami beramai-ramai membawamu ke rumah sakit terdekat. Hingga saat ini, saat langit telah begitu gelap dan udara di luar begitu panas dan kotor sepasang matamu masih tertutup. Aku menungguimu dengan cemas, Melly. Bangunlah. 

12 jam kemudian
Melly, sepasang matamu tak akan pernah lagi milikku. Kau menutupnya untuk selamanya. 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram