SENYUM MANIS SENJA KALA


Ilustrasi (Sumber; www.nyalip.com)

Februari 2014
Hujan. Aku sedang duduk menunggu komuter ke Jakarta saat melihatnya untuk pertama kali. Aku baru saja mengalihkan perhatian dari sepatu high heels baruku ke pintu komuter Bogor-Sudirman-Jatinegara yang baru tiba dan membuka pintu otomatisnya. Aku melihatnya. Sepasang mata lembut yang menatapku. Aku menatapnya tanpa berkedip dan tak peduli saat beberapa helai rambutku menutupi sebagian wajahku saat angin bertiup tiba-tiba. Lalu sejumlah orang naik dengan terburu-buru, menyeret lelaki itu ke tengah. Pintu tertutup. Komuter melaju. Aku memandanginya sampai ia hilang dari pandanganku. 

Dia serupa seseorang? siapa?
Aku mengernyitkan kening dan merapikan rambutku. Keretaku tiba. Aku naik dengan terburu-buru, berebut tempat kosong dengan manusia-manusia yang sama terburu-burunya sepertiku. Kami menuju Jakarta. Siapa? aku memikirkan lelaki itu. Bahkan hingga di kantor dan saat aku kembali ke rumah. Sepasang matanya telah mengikatku. Sepanjang malam aku terjaga. Langit-langit kamarku penuh olehnya. 

Maret 2014
Stasiun Tebet. Hujan. Aku hampir terjatuh saat lelaki itu berjalan terburu-buru menuju pintu dimana aku turun. Aku berbalik seketika dan melihatnya berdiri memandangku. Aku menatapnya tanpa berkedip diantara lalu-lalang manusia-manusia sibuk yang hendak berburu pintu keluar stasiun. Sesaat sebelum pintu tertutup, kulihat ia tersenyum. Manis. Senyum yang manis. Kembali aku menatap kereta yang melaju itu hingga menghilang. 

Dia sangat serupa? siapa? 

April 2014
Malam yang ajaib. Gerimis. 
Aku pulang malam selepas bertemu teman lamaku dan berbincang dengannya sepulang dari kantor. Kereta lumayan kosong dan aku berharap tempat duduk. Aku sangat lelah dan mengantuk. Yup, aku dapat kursi. Ajaib, didepanku duduk lelaki itu. Sepasang matanya menatapku. Keningnya berkerut. Bibirnya tersenyum tipis. Senyum tertahan. Senyum dengan tanda tanya yang ditujukan padaku.  

Oh, mungkin karena aku mengenakan hijab sekarang. Aku menatapnya. Menikmati sepasang matanya yang kupikir mirip milik seseorang. Aku jadi penasaran, apa mungkin suaranya juga mirip? mungkin hobinya, atau makanan kesukaannya? atau merek pakaian dan sepatu? atau genre film dan musik? atau mungkin semuanya? atau tidak semuanya?

Dia mengernyitkan kening, mungkin bertanya. Ia tersenyum.
Oh, hijabku acak-acakan ya? aku ingin mengatakan padanya bahwa baru seminggu lalu aku mulai berhijab jadi masih latihan. Lalu aku merapikan hijabku dan tersenyum padanya. Dan di sepanjang sisa perjalanan itu kami hanya saling menatap. Para penumpang memperhatikan kami dengan geli. 

Mei 2014
Hari ulang tahunku. Hujan. Aku mendapat dua kue tart cantik dan beberapa kado dari rekan kerjaku di kantor. Ada beberapa pashmina, novel, tiket bioskop sampai voucher belanja. Aku membeli ponsel baru dan beberapa sepatu baru. 

Aku tidak pernah melihatnya sepanjang bulan ini. Tak sekalipun di komuter atau di stasiun saat transit. Atau saat hujan turun atau saat kereta mengalami gangguan sinyal. 

Juni 2014
Minggu pagi, gerbong 5. Aku janji akan merayakan hari jadi persahabatan dengan dua orang sahabatku yang sengaja datang dari Makassar dan Bali hanya untuk menghabiskan waktu kami bertiga di Kota Tua, lalu makan enak dan nonton film terbaru sampai malam tiba. Pagi-pagi aku ke Jakarta dengan komuter yang kekurangan penumpang. Aku duduk dengan gembira dan berkhayal andai kereta pagi selengang ini tentu perjalanan pergi dan pulang kerja tak akan melelahkan. 

Didepanku, seorang lelaki sedang membaca novel terbaru Haruki Murakami. Sepertinya ia sangat serius. Ia meletakkan buku itu di depan wajahnya. Memegangnya dengan erat seperti seorang bocah memegangi komik yang disukainya agar tidak dimabli orang lain. Hm, aku juga suka Murakami dan baru akan membeli novel terbarunya bulan depan karena harganya lumayan mahal. 

Kereta berhenti di Cikini. Lelaki itu menurunkan novelnya dan ya, dialah orangnya. Aku terpana. Lelaki itu lagi. Dia tersenyum padaku lalu bangkit dan berjalan keluar. Ingin aku mengejarnya, bertanya namanya dan mungkin aku memang mengenalnya. 

Juli 2014
"Kamu nggak photo dia?" Riana berteriak histeris saat aku akhirnya bercerita tentang lelaki di komuter itu. Ah Riana lucu. Mana sempat photo lelaki itu saat aku sendiri terpana dengan pemikiranku bahwa lelaki misterius itu mirip seseorang. 
"Gila! dia ganteng banget! bener-bener ganteng!" ujarku tak kalah histeris. 
"Umurnya? dia masih muda kan? hm, mungkin lain kali kamu harus berani bertanya. Eh, siapa tahu dia memang seseorang yang kamu kenal. Mungkin teman SD, teman SMP atau mungkin teman waktu TK, hehehe..."
"Aku malu kenalan duluan," aku mesem-mesem. 
"Ya bilang aja kalau kamu kira dia teman SD arau SMP kamu gitu. Siapa tahu memang teman masa kecil kan?"
"Hm, iya juga ya..."

Agustus 2014
Tidak sekalipun aku berjumpa dengannya. Aku jadi sering pulang larut. Aku menunggu kesempatan bertemu dengannya. Aku mulai konyol. Aku mulai merindukannya.

September 2014
Beberapa kali bertemu. Pertama, saat ia terburu-buru masuk kedalam kereta, lalu teseret arus manusia-manusia yang takut tertinggal kereta super padat. Kedua, saat ia duduk didepanku bersama rekan kerjanya, seorang perempuan cantik. Mereka asyik mengobrol, entah tentang apa. Kami hanya sama-sama bertukar senyum, tanpa pernah berani saling menyapa. Entah mengapa. Ketiga, saat aku baru duduk dan melihatnya memberikan tempat duduknya pada seorang perempuan bercadar dengan sepasang mata yang sangat cantik. Aku tersenyum. Ia lelaki baik rupanya. Lalu ia turun tanpa menoleh ke arahku. Terakhir, saat ia sedang menerima telpon. Suaranya renyah. Dan aku hanya memandanginya sampai ia turun di Cikini. 

Oktober 2014
Aku tidak sekalipun bertemu dengannya. 

November 2014
Aku ingin melihatnya. Hanya melihatnya saja. 

Desember 2014
Hujan. Aku mendapat telpon dari Mama. 
Mama bilang anak salah seorang tetangga kami bertahun-tahun lalu menjadi korban sebuah kecelakaan pesawat. Lalu mama mengirimkan photonya. Aku nyaris pingsan. Lelaki itu. Lelaki itu yang kutunggu-tunggu, mama. 

Aku harus bagaimana? 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram