MENJAGA HUTAN ALA Masyarakat Sebadak Raya

Salah satu sudut Desa Sebadak Raya

Diantara sekian kesedihan yang terkadang tak tertanggungkan dan hanya dibahasakan oleh deraian airmata. Atau, ketika derita hidup tak lagi terkatakan karena teramat sulit untuk dihadapi, dan bahkan untuk sekedar dimengerti, manusia harus bisa menemukan titik dimana ia bisa berjalan tegak dalam kurun ujian itu berlangsung. Ya, manusia, si makhluk istimewa yang menanggung beban untuk memakmurkan bumi dan bukan membuatnya menjadi neraka nan panas umpama danau penuh dengan lava mendidih atau gurun pasir yang selama ratusan tahun tak pernah diberi hujan oleh langit. Ya, si manusia harus tegak. Tegak setegak-tegaknya. Tak boleh sekalipun goyah. 

Aku belajar dari manusia-manusia semacam itu untuk kesekian kalinya saat berkunjung ke sebuah daerah terpencil bernama Sebadak Raya di Kalimantan Barat. Sebuah desa kecil yang letaknya disisi hutan belantara itu pada musim hujan hanya bisa diakses via sungai dari kota Ketapang yang modern dan makmur. Dan berlayarlah kami diatas sungai Pawan. Sungai yang bukan saja menjadi arus bagi kehidupan alam dari wilayah hulu dan bermuara ke laut, juga tentang manusia-manusia yang membangun desa-desa mereka di sekitar sungai. Mereka yang melanjutkan hidup dan menyambut modernitas. Rumah-rumah panggung yang ditopang kayu-kayu kebanggan masyarakat Borneo itu ditepi sungai, seakan-akan sungai adalah sahabat yang tak akan melahap mereka dan membawa puing-puingnya ke laut. 

Seorang nenek yang menggendong cucunya menuju rumah mereka di seberang sungai
(Doc. Farrah Mardiati, 2014)
Pertama kalinya bagiku melintasi sungai dengan waktu yang cukup lama, diatas perahu yang kecil dan nyaris terbalik karena menabrak punggung buaya tua yang mungkin sedang jahil. Aku terpesona bukan saja pada hidup yang terbangun kokoh di pinggiran sungai, juga pada mereka yang gigih memperjuangkan hidup dengan bergantung pada sungai. Ada yang menjadi pengusaha boat, pencari ikan, penjual makanan dan sebagainya. Hidup mereka terlihat damai, menyatu dengan alam, sederhana dan begitu dikasihi Tuhan. Meskipun, sisi sederhana dan terkesan diam itu sebenarnya sedang memperlihatkan keresahan dan kekhawatiran yang tak terkatakan tentang status sebagai warga negara. 

Pemandangan perbukitan yang hijau dari perahu yang melaju diatas sungai Pawan, Ketapang, Kalimantan Barat. Jalur sungai menuju desa Sebadak Raya (Doc. Farrah Mardiati, 2014)
Jarak tempuh yang jauh dari kota terdekat, dengan hamparan alam yang sebagiannya masih perawan dan sebagiannya rusak membuatku meresa sedang menempuh semacam 'ujian mengingat' nikmat Tuhan bahwa aku harus belajar dari masyarakat baru yang kutemui. Perjalanan ini membuatku mengingat bau tanah yang masih perawan, langit yang biru cemerlang, dan kesederhanaan hidup masyarakat yang sangat berbeda dengan Jakarta.

Aku tidak terkejut dengan kemiskinan, keterbelakangan dan keterpencilan sebuah desa dimana masyarakat tiggal, sebab semua desa berawal dari kondisi demikian sampai kemudian desa-desa berkembang menjadi kota-kota besar semacam Jakarta. Tapi, yang menjadi kekhawatiranku serupa dengan kekhawatiran masyarakat tentang jauhnya jarak antara negara dan rakyat. Bagaimana demikian? bukankah kita sudah merdeka? bukankah kita punya Pancasila dan UUD 1945 yang mengatur tata kehidupan berbangsa dan bernegara? 

"Kami ajukan areal untuk Hutan Desa itu 14.000 hektar. Tapi yang dikasih menteri cuma 2000an hektar. Lokasinya jauh dari desa. Aneh kan? Sisanya, yang 12.000an hektar katanya sudah ada izin. Kami nggak dikasih tahu izinnya dikasih ke siapa. Padahal kan itu hutan adat kami sejak turun temurun..." Ujar ibu R, salah seorang perempuan desa yang gigih menolak menyerahkan tanahnya kepada sebuah perusahaan asal Malaysia yang hendak membeli tanahnya untuk perkebunan sawit. "Saya ini kan nggak tahu hukum. Nggak sekolah. Nggak ada juga pemerintah yang ajari kami hukum itu. Tapi, orang adat sini kan punya hukum juga. Kami patuhnya ke hukum adat. Siapa yang langgar kami hukumlah mereka. Makanya pas perusahaan itu memaksa kami serahkan lahan, kami hukumah mereka..." ujarnya lagi sambil tertawa lepas seakan-akan ia telah memuntahkan beban yang teramat berat dari dalam hatinya. 

Sebuah rumah warga yang sangat sederhana sekali 
Masyarakat desa Sebadak Raya yang ditinggalkan secara struktural oleh negara atas pembangunan, sendirian berjuang melawan aksi rakus perusahaan sawit asal Malaysia untuk merampas hak masyarakat dengan metode 'adu domba'. Bagai ular, mereka merasuki kehidupan masyarakat agar mereka yang ratusan tahun hidup ala 'ladang berpindah' menjadi buruh perkebunan sawit. Mereka menawarkan konsep plasma. Mereka merayu agar masyarakat tidak menjadi tuan atas tanah yang diwariskan oleh nenek moyangnya. 

Tak hanya Ibu R, banyak warga desa yang menolak menyerahkan tanah mereka, meski beberapa diantara mereka telah kalah hati dan mentalnya. Mereka melepas tanah warisan itu dengan harga sangat murah. Pohon-pohon tinggi, tebal dan berharga ditebang begitu saja. Bibit sawit mulai ditanam, dan tanpa lelah pihak perusahaan merayu masyarakat agar kalah. Lalu, kalau sudah kalah bagaimana masyarakat hidup? 

"Kami ini berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Mana pernah masyarakat mendukung kami, listrik pun kami belum dikasih oleh PLN.." ujar R, salah seorang warga desa. "Dan, sampai titik darah penghabisan, kami akan terus mempertahankan tanah kami.." ujar ibu R tersenyum getir. Tetapi sepasang matanya memancarkan harapan. 

Ya, desa terpencil yang masih menjalankan adat Dayak dengan setia itu tergusur dari hak mereka sebagai warga negara dan tercerabut dari akar mereka sebagai pewaris tanah ulayat dari leluhur mereka. Bagaimana masyarakat hidup tanpa tanah? 

"Meski miskin, kami tak mau jual tanah kami. Kami mau anak-anak kami sekolah tinggi agar bisa membantu perjuangan kami. Tak ada satupun anak-anak kami yang saat ini sekolah di perguruan tinggi. Kami sangat miskin"  Ujar Demong, kepala adat dengan sungguh-sungguh. Aku terhenyak dan terharu. Kata-kata Demong mengajarkanku tentang perjuangan. Bukan hanya soal mempertahankan sumber pendapatan agar dapur selalu ngepul, juga tentang menjaga warisan nenek moyang dan alam ciptaan Tuhan. 

Aku kembali ke Jakarta dengan tanda tanya besar: Apa yang dilakukan negara sih? sudah nyaris 70 tahun merdeka tapi masih ada desa yang belum dialiri listrik, direbut tanahnya dan tidak dilindungi dari perampasan tanah oleh perusahaan asing. Dan ketika kulihat kembali hutan beton Jakarta dari kantorku, aku merasa sesak. Apakah para penghisap itu tinggal di kota kaya ini? Ah, hidup sungguh paradox...


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram