Meresapi Perjalanan ke Kawah Putih

Remaja ini sibuk memotret dirinya sendiri saat teman-temannya berphoto bersama. Ia berkali-kali mematut-matutkan wajahnya sendiri, sambil tersenyum lebar, pada ponsel yang ia angkat tinggi-tinggi. Remaja ini hanyalah satu dari puluhan pengunjung yang 'selfie' untuk mengabadikan perjalanan mereka di lokasi wisata unik dan misterius yang populer ini. 

Kantor libur karena bertepatan dengan Libur Thanksgiving di Amerika sana. Jadi, aku dan beberapa rekan kerja memutuskan jalan-jalan ke Bandung. Yah, sedikit melemaskan otot-otot dan kepenatan akibat kerja melulu.

Kemarin, meski langit mendung sejak pagi, perjalananku ke Bandung bersama beberapa rekan kerjaku terbilang menyenangkan. Rencana awalnya kami akan mengunjungi objek wisata Kawah Putih di Ciwidey, lalu berpuas-puas di kebun stroberi dan wisata kuliner di pusat kota. Sayangnya, macet yang menyebalkan umpama jalan-jalan di Jakarta membuat rencana manis itu sedikit berantakan. Perjalanan menuju ketinggian dimana sang kawah berada diselimuti mendung. Langit kelabu dan dingin menggigit. Meksi demikian, aku bersyukur bisa sejenak terlepas dari hiruk pikuk Jakarta yang membosankan.

Perjalanan ini, sebagaimana perjalanan-perjalanan lain yang pernah kulakukan, selalu menjadi gerbang bagi keajaiban-keajaiban yang kadangkala datangnya tak terduga. Satu sama lain saling berkaitan, seperti puzzle yang harus ditempatkan ke posisi yang benar agar ia menjadi kehidupan yang utuh. Dalam perjalanan ini ada banyak hal menarik, tetapi tulisan kali ini ingin kufokuskan pada beberapa hal saja yang menurutku menyimpan misteri.

Untuk memasuki kawasan Kawah Putih, kami harus turun di lokasi yang nampak seperti terminal. Telah menunggu 'Ontang-Anting' alias angkutan khas wilayah ini berwarna orange yang siapa menunggu calon penumpang dari lokasi pembelian tiket. Kami harus menempuh perjalanan kearah Gunung Patuha sejauh 4 km. Meski pemandangan hutan di sepanjang perjalanan nampak segar dan cantik, namun cara sopir mengemudikan kendaraannya dengan sangat cepat membuat kami takut mengalami kecelakaan, dan tak sempat menikmati pemandangan. Belum lagi kami duduk berdesak-desakan dan sesekali kepala terantuk langit-langit kendaraan.


Tukang potret yang sepi order


Teman-temanku sibuk saling memotret diri satu sama lain. Aku yang tidak mood dan hanya ingin menikmati keadaan sekitar terpaku pada sosok seorang lelaki. Entah siapa nama lelaki itu dan aku tak tertarik untuk menyapa, menarik perhatianku saat kakiku melangkah turun dan masuk ke pusat kawah. Dengan setia, sepasang matanya memandangi rombonganku dan tak sedetikpun melepaskan pandangannya dari kami, yang tak peduli pada dirinya. Ia bersandar pada pagar pembatas tangga masuk dan keluar kawah sambil memegangi album contoh karyanya untuk memikat pengunjung agar menyewa jasanya. "Photo bersama, sepuluh ribu saja. Untuk kenang-kenangan...." ujarnya beberapa kali menawarkan jasanya pada rombonganku yang tak memedulikan 'jualannya'. Bahkan, saat kami melangkah ke lokasi lain untuk mendapatkan view sempurna untuk photo-photo kami, lelaki ini mengikuti kami dengan setia. Seakan-akan ada sebuah perjanjian diantara para tukang potret lainnya bahwa setiap orang harus menjaga mangsanya masing-masing.
 
Seperti kucing yang tak sudi melepaskan tikus untuk makan siangnya, lelaki ini setia menunggu rombongan kami merespon tawarannya untuk berphoto bersama. Dan kami, sibuk dengan ponsel canggih kami tanpa sekalipun mengatakan sebuah penolakan atau sekedar tersenyum padanya. 
Sayangnya, lelaki ini mungkin lupa bahwa sekarang orang-orang lebih suka mengandalkan ponsel canggih untuk mengabadikan kegiatan wisata mereka. Lelaki ini pastilah tahu, dan mungkin ia punya ponsel canggih sebagaimana yang kami miliki. Tapi, mengapa ia tetap setia pada pekerjaannya? Adakah sesuatu yang istimewa dari pekerjaannya yang mulai tak dihiraukan orang?  

Hutan Cantigi
Saat menuruni tangga batu, aku melihat sebuah plang bertuliskan 'Hutan Cantigi' yang mengarahkan pengunjung menuju sebuah jalan berpagar ke arah ini. Hutan ini menarik minatku, tetapi aku tak mungkin masuk sendirian, sementara teman-temanku hanya ingin bersenang-senang di kawah. Hutan ini berupa hutan dengan pepohonan seragam yang cantik. Dalam bayanganku, jika pepohonan itu bisa mencapai tinggi sampai 30 meter, mungkin akan menjadi lokasi syuting film hantu yang misterius.

Jalan masuk ke Hutan Cantigi
Kabarnya, selain tanaman Cantigi, ada juga tanaman Lemo yang berbau harum seperti minyak lawang dan dapat mengusir ular berbisa. Semakin ke puncak, ada juga tanaman Edelweis. Sayangnya, aku tak sempat masuk ke hutan apalagi mendaki ke puncak. Hm, jika aku punya kesempatan berkunjung lagi ke lokasi ini, aku akan masuk ke hutan dan menikmati keindahannya. 

Selain itu, kawasan ini pada mulanya merupakan kawan yang dianggap angker oleh masyarakat dan dianggap membawa malapetaka sehingga tak berani mereka kunjungi. Nah, sejak seorang Belanda mencoba menelusuri wilayah yang disebut-sebut sebagai tempat tinggal para leluhur orang Sunda ini lah kawasan ini mulai dibuka dan dijadikan lokasi wisata. Meski air kawah mengandung racun dan mematikan, tetapi sungguh magis sehingga banyak pasangan dan para model melakukan pemotretan di lokasi ini. Oh ya, kalau tak salah lokasi ini juga dijadikan lokasi syuting beberapa film. Tetapi yang membuatku penasaran? dengan kepulan asap dari parut bumi, apakah masih ada magma yang mungkin menyembur keluar seperti pada dahulu kala Gunung Patuha ini meledak dan mewariskan kawah cantik nan luas?

Jalan masuk ke pusat kawah dan penjual produk belarang

Waktu yang terbatas membuatku tak dapat menyempatkan waktu ngobrol dengan orang-orang yang mengadu nasib di kawasan wisata ini, sebut saja si juru potret, penjual produk belerang, penjual masker hingga sopir 'Ontang-Anting' angkot khusus di kawasan ini. Padahal, sebuah perjalanan tak akan lengkap tanpa kisah-kisah inspiratif dari penduduk lokal yang pasti memiliki banyak cerita dan informasi. Apalagi tempat yang indah ini telah menyihir manusia dari segala penjuru untuk menyaksikan sendiri keajaiban alam dan kembali belajar tentang makna kehidupan. Ya, mungkin di lain kesempatan aku akan melakukan pencarian khusus saat mengunjungi lokasi ini, entah kapan...
Aku tak tahu kolam misterus apa ini, tapi aku merasa ada sesuatu dibalik keberadaannya.
Mungkinkan mata air ajaib? Terletak tak jauh dari gerbang masuk

Perjalanan kali ini sesungguhnya ingin sekali menjadi perjalanan yang penuh kenangan, dengan menikmati pemandangan sekitar dan mengobrol tentang hal-hal tak penting dengan teman-temanku. Tapi harapanku kandas karena teman-temanku memang narsis dan sangat suka berphoto, alih-alih menikmati pemandangan kawah yang magis dan membius. Karena aku sedang tak berselera untuk berpose sendirian layaknya model, maka aku berkeliling sendirian dan bergabung dengan mereka sesekali saja. Aku sedang suka meresapi perjalanan dengan memotret orang lain. 
Aku dan teman-temanku (Dokumentasi Toni)
(Gaya sungguh gaya. Dokumentasi Widya)
(Lompatan yang nanggung dan lucu. Dokumentasi Widya)
Apa yang kuinginkan tidak kesampaian dalam perjalanan kali ini, terutama sekali karena lokasi sangat ramai oleh wisatawan. Mungkin memang sulit mendapati tempat ini sesepi dalam film "Heart" yang sangat melankolis. Tapi mungkin aku bisa kembali ke tempat ini lain kali, dan melakukan perjalanan yang sesungguhnya, demi menikmati sekitar kawah yang eksotis dan membius.

Depok, 28 November 2014

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram