Menikmati Misteri SUNGAI PAWAN

Perahu boat "Mulia Express" satu-satunya perahu boat yang memiliki rute Ketapang-Pelabuhan Sendai, kota kecil yang menjadi persinggahan sebelum menuju Sebadak Raya. 


Pada akhirnya aku berkesempatan untuk menggunakan moda transportasi sungai saat berkegiatan di Kaliamantan beberapa hari yang lalu. Aku dan beberapa kawan dari kantorku harus menuju sebuah desa terpencil bernama Sebadak Raya, di kecamatan Nanga Tayap. Untuk mencapai lokasi tersebut, ada dua opsi perjalanan. Pertama menggunakan jalur darat sekitar 6 jam, dan jalur sungia sekitar 5.5 jam. Akhirnya, untuk coba-coba dan untuk melihat perbedaan antara kedua opsi tersebut, kami menjajal jalur sungai. Jalur sungai ditempuh dengan menggunakan perahu boat berkapasitas 20 orang dengan harga tiket Rp. 200.000 per orang. 



Boat itu ternyata bukan hanya berisi para penumpang, juga oleh barang-barang hingga kelebihan kapasitas. Tanpa berprasangka buruk pada apa yang terjadi sepanjang perjalanan, aku menyingkirkan bau amis air sungai yang mulai tercemar sampah rumah tangga dan sekardus udang milik salah seorang penumpang, aku mencoba mensyukuri kesempatan ini. Aku dan temanku saling terdiam selama perjalanan, demi menikmati pemandangan disekitarnya, sambil sesekali menggoda anak-anak kecil yang sejak keberangkatan memperhatikan kami. 



Tipe rumah-rumah yang berada disepanjang sungai Pawan.

Sungai pawan yang lebar dan panjangnya meliuk-liuk membuatku bukan saja asyik menikmati pemandangan hutan alam yang indah, rumah-rumah panggung beraneka bentuk, rumah walet yang tinggi, perahu-perahu kayu yang lalu lalang, dan kayu-kayu yang mengabang di permukaan. Juga mempertanyakan kehidupan semacam apakah yang sedang berjalan di dasar sungai? apakah menarik atau menyeramkan seperti halnya dalam film-film yang berkisah tentang ular Anaconda dan ikan Piranha di pedalaman Brazil. Dari sisi tertentu bahkan kami bisa menikmati rangkaian pengunungan biru yang serasi dengan langit yang cerah. 


Pemandangan hutan alam disepanjang sungai Pawan. Indahhhhhhh

Dan, kami hampir saja menjadi korban sebuah tragedi di atas sungai Pawan ini saat boat yang kami tumpangi menabrak seekor buaya, yang kata nahkodanya sih batu. Saat boat miring ke kanan dan semua penumpang menjerit histeris, dan aku hampir saja terjebur dan mati dimakan buaya andai saja nahkoda tak segera mengusai boat. Kulihat nahkoda berusaha tenang meski wajahnya pias. 



Pada zaman dahulu, konon sungai ini menjadi sebuah wilayah penting yang fungsinya tidak saja sebagai 'jalan' tapi juga bagian dari cikal bakal masyarakat di Kalimantan Barat yang diawali oleh kerajaan-kerajaan kecil seperti Kerajaan Matan dan kerajaan lain di Kayong Utara. Kebudayaan yang nyaris punah itu membentang sejak dari Ketapang hingga Sukadana di Kayong Utara. Istana-istana yang terbuat dari kayu itu kini tinggal cerita. Istana-istana kerajaan dari kebudayaan sungai itu kini tak berbekas, seperti halnya kayu-kayu kokoh yang paluk dimakan zaman lantas melarut bersama bumi menjadi pupuk bagi kehidupan baru. Beberapa peninggalan berupa pedang dan benda-benda lain yang terbuat selain dari kayu hanya dipelihara keluarga kerajaan yang masih tersisa. Sayang sekali ya, padahal sejarah seharusnya diwariskan dengan pengelolaan peninggalan kehidupan kerajaan-kerajaan masa lampau agar menjadi semacam pembelajaran bagi generasi mendatang tentang sala usul mereka dan kota-kota modern yang sekarang mereka nikmati. 


Boat yang kami tumpangi (doc. Farrah)

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram