Surga Bernama Negeri Seribu Bukit

Kehidupan yang damai dalam pelukan alam yang indah di Gayo Lues, Aceh

Ya ampun! ternyata lebih dari sebulan aku nggak nulis disini. Pertama-tama, selain sibuk dengan pekerjaan baru yang benar-benar menyita waktu, juga karena dalam tiga minggu belakangan aku telat melakukan pembayaran untuk pembaruan domain blog ini. Dan, sekarang saatnya mulai menulis lagi, berbagi lagi. 

Entah kapan mulanya, tetapi kuhitung sejak aku lelah lahir batin dengan pekerjaan lamaku dan aku mulai mengirimkan surat lamaran kerja ke sekitar 20 lembaga non pemerintah sejak April 2014. Dan satu diantaranya menjadi takdirku sejak awal Agustus lalu. Takdir itulah yang kemudian membawaku ke sebuah tempat yang dijuluki Negeri Seribu Bukit karena keindahan alam yang luar biasa. Dimanakah negeri itu? 

Ya, negeri itu bernama Gayo Lues, sebuah kabupaten di Aceh wilayah Tenggara. Gayo Lues merupakan landscape yang bergelombang dimana penduduk berkumpul membangun desa-desa dan kota mereka dalam pelukan bukit-bukit dengan hutan pinus yang indah. Pemandangan yang hijau, indah dan segar sebagai hamparan alam yang perawan, langit biru cemerlang, udara segar dan dingin menjadi ciri khas wilayah ini. Tak heran, orang-orang Gayo suka sekali minum kopi. Suasananya pas. 

Saat memasuki wilayah ini untuk pertama kalinya aku terkesima. Indah sekali. Benar-benar sebuah surga. Dan, tak perlu berpanjang lebar, aku akan menyajikan beberapa photo tentang surga itu: 

Mirip suasana di luar negeri?  tempat indah ini terletak di desa Kala Pinang, tempat wisata masyarakat kota Blangakejeren, Gayo Lues, Aceh
Masih di Kala Pinang, sebuah sungai yang menggoda untuk tubuhku menceburkan diri kedalamnya. Airnya sejuk dan dingin. Tak lupa banyak ikan didalamnya. 
Hutan pinus yang maunya tumbuh sendiri tanpa campur tangan manusia...
Ya, beberapa photo ini hanya sedikit dari gambaran pemandangan Gayo Lues yang indah. Sayangnya cuaca mendung yang seringkali menyelimuti wilayah ini membuat beberapa photo terkesan muram, jadi tak kutampilkan. Mungkin untuk tulisan lain saat aku pulang dari wilayah ini awal bulan depan. 

Namun, ada satu hal yang sangat disayangkan. Sampah. Ya sampah. Aku sampai heran, sejak kapan masyarakat Gayo Lues ini ketularan masyarakat kota yang suka buang sampah sembarangan? sampah yang dibuang sembarangan didesa-desa, di sungai dan di berbagai tempat umum seperti 'tongkrongan' dan pasar sungguh kontras dengan keindahan alam yang sudah Allah hadiahkan. Semoga, masyarakat Gayo segera bahu membahu 'membersihkan' sampah-sampah itu dan menjadikan rumah mereka yang indah sebagai tempat yang memang pas disebut Surga bernama Negeri Seribu Bukit.

Aku dan rekan kerjaku saat melintasi sebuah jembatan di Desa Seneren, Gayo Lues
(dok. Rully, 2014)

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram