Manisnya Hidup di Tepi Sungai Sebayang

Seorang warga sedang menepikan perahu sampan si tepi sungai Sebayang

Sungai Sebayang, ya, salah satu Daerah Aliran Sungai besar di Kabupaten Kampar, Riau. Sungai ini tidak saja merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat di puluhan desa yang tersebar disekitarnya, juga menjadi sarana transportasi yang masih ampuh hingga saat ini. Dimasa lampau, sungai ini sangat populer bagi masyarakat yang hendak hilir mudik antara desa satu dan lainnya. Mereka bahkan membangun perkampungan, kebun, dan pasar ditepi sungai ini. 

Sungainya jernih, belum banyak terkontaminasi oleh sampah dan limbah manusia. Diwilayah tertentu diantara hulu dan hilir sungai ada sebuah lokasi bernama 'lubuk larangan' dimana ikan-ikan berkumpul dan tumbuh besar. Mereka hanya boleh ditangkap sekali setahun oleh masyarakat secara bersama-sama. Siapa yang melanggar aturan tersebut dan bersikap jahil dengan mengambil ikan diluar hari yang ditentukan, maka perut yang memakan ikan itu akan kembung. Hm, aturan yang cukup ampuh dalam melindungi alam. 

video

"Nah, inilah lokasi lubuk larangan di kampung kami," ujar Kasmono, salah seorang pemuda desa. Saat kami bertolak ke lokasi, ia membawa sebungkus makanan ringan untuk diberikan pada ikan-ikan didalam sungai. Serta-merta ikan-ikan dalam jumlah yang banyak berkumpul untuk berebut makanan pabrik yang dilemparkan Kasmono dan orang lain. Ya, benar, ada banyak sekali ikan mulai dari ukuran yang paling kecil hingga yang terbesar berkecipak berebut makanan.

"Ikan-ikan suka disini. Airnya tenang. Kami memanen mereka setelah tetua adat membacakan surat Yasin waktu air surut, biasanya akhir september setiap tahunnya. Itu batas dihulu dan itu batas dihilir. Cuma beberapa kilo saja. Tapi tahun ini air tak surut, kami tak panen ikan bersama." Ujar Rafik, salah seorang tokoh masyarakat yang pada usia 25 telah menjadi Kepala Desa Padang Sawah sambil menunjukkan batas antara lubuk larangan dan wilayah sungai yang sehari-hari bisa diakses masyarakat untuk menangkap ikan.  

video

Menjaring ikan

Sehari-hari, masyarakat bisa menangkap ikan di sungai untuk keperluan keluarga sendiri atau untuk dijual. Saat tuan rumah tempat aku menginap membeli ikan dari seorang ibu yang menjajakan dua ember ikan, istrinya memasak ikan itu dengan dibakar, disambal balado dan digulai ala orang Minang. Hm, sedap sekali. rasanya benar-benar alami dan membuatku teringat pada masa lalu dimana sekitar 20 tahun lalu, saat di pekarangan rumah terdapat beberapa kolam ikan aku bisa makan olahan ikan sepuasnya karena kakekku seorang peternak ikan. Lidahku sangat tahu dan mampu mengenai mana ikan dengan rasa alami dan mana ikan tambak yang diberi makanan entah berantah. 

Oh ya, dulu, sekitar 30an tahun lalu, wilayah bantaran sungai Sebayang ini penuh dengan kebun jeruk. Tapi pada suatu masa, virus (katanya sih akibat kebanyakan pakai pukuk cair kimia buatan luar negeri) menyerang seluruh tanaman dan masyarakat mau tak mau berganti komoditas ke karet dan sawit. Meski demikian, sekitar 10 an tahun silam ada saja masyarakat yang mencoba peruntungan dengan menanam kembali jeruk, salah satunya pak Rafik. "Saya coba lah tanam jeruk sudah delapan tahun. Lumayan hasilnya untuk percobaan. Di seberang sungai ada yang ikutan tanam lagi, tapi baru tiga tahun dan belum buah" ujarnya saat kami bertandang ke kebun jeruknya setelah melewati sungai Sebayang dengan sampan kecil. 

Seorang petani perempuan baru selesai membakar sampah di kebun
Petani sedang menyemprot pohon jeruk dengan pestisida

Kebun itu dirawat oleh salah seorang saudaranya. Ada juga ibunya yang masih saja rajin bekerja dan giat menanam sayuran seperti cabai, terong dan berbagai rempah di lokasi kosong lahan jeruk yang berbatasan dengan kebun karet. Perempuan yang sudah uzur itu tampak sangat bersemangat menyiangi rumput lalu membakarnya. Asap mengepul mengabarkan kehidupan tepi sungai. Daud-daun karet gemerisik oleh ulah monyet-monyet kecil yang melompat antar dahan. Sesekali aku berjalan diantara pohon-pohon jeruk dan memetik beberapa buah yang matang dan menikmatinya. Ya, benar-benar beda antara jeruk yang baru dipetik dengan yang sudah tersedia di pusat perbelajaan atau pasar. "Jeruk itu memang bagus ditanam dekat sungai, dingin dia," ujar Nurhayati yang tak lain istri dari Rafik saat kami pulang dari mencuci piring di sungai. 

Aku membayangkan betapa manis hidup disini, dimana setiap hari aku bisa menikmati keindahan alam dengan rasa gembira. Memancing atau menjaring ikan, dan mengolahnya menjadi hidangan lezat dan memakannya bersama-sama dengan anggota keluarga. Atau hanya sekedar mengarungi sungai dengan bersampan ria untuk memetik buah-buahan hutan di tepi sungai dan membelalakkan mata sata melihat seekor burung cantik terbang melintasi sungai dan kerbau-kerbau pemalas yang sedang menggeliat di padang rumput. Atau, bisa tamasnya di padang rumput tepi sungai sampil membaca novel kesayangan. Ah, andai saja...

Seorang perempuan dan anaknya sedang mencuci pakaian ditepi sungai Sebayang

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram