API RIAU: Membakar Hingga Singapura

Yang tersisa dari api
Sejujurnya, tulisan ini sangat telat. Setelat kunjunganku ke lokasi yang hendak kuceritakan dalam tulisan kali ini. Kupikir, masyarakat Riau tak akan lupa bagaimana mereka dicaci masyarakat negara tetangga gara-gara asap kebakaran hutan yang menyeberang ke langit mereka, juga kabut asap yang meracuni paru-paru mereka pada awal tahun ini. Peristiwa kebakaran hebat yang membuat Presiden SBY meminta maaf kepada Singapura, padahal kebun-kebun sawit yang ada di wilayah Riau kebanyakan milik pengusaha Malaysia dan Singapura. Ironis memang, korban kok minta maaf sama pelaku kejahatan. 



Dak ketika aku berksempatan mengunjungi tanah yang sempat terbakar itu, hatiku bergetar. Inilah tanah kaya raya yang membawa berkah sekaligus perpecahan dan bencana. Tanah yang subur dan empuk, yang diperebutkan oleh banyak orang. 

Puing dari hutan gambut yang terbakar
Penampakan hutan paska kebakaran hebat awal 2014
Kanal ditengah sisa hutan gambut yang terbakar

Lalu apa? kata-kata tak lagi cukup untuk menggambarkan tentang keteledoran negara dalam hal ini. Negara yang selalu bermuka masam pada rakyatnya tapi bermuka manis dan sopan pada asing. Hutan yang terbakar itu, berapa lama bisa dikembalikan pada kondisi semula? jika lokasi itu milik masyarakat maka berapa keurgian negara? bukan saja kerugian yang dihitung berdasarkan hilangnya modal masyarakat, juga tekanan negara asing agar Indonesia terus-terusan membiayai upaya pengurangan dampak perubahan iklim akibat kerusakan hutan?

Ah, panasnya udara lahan gambut mungkin tak sepanas hati masyarakat yang terus-menerus diburu oleh stigma sebagai perusak hutan, tanpa proses hukum terhadap pihak-pihak yang selama ini dicurigai masyarakat sebagai pelaku pembakaran hutan. Logisnya, buat apa masyarakat membakar tanah mereka sendiri sedangkan mereka banting tulang mengumpulkan uang demi menanami lahan itu dengan tanaman sawit?

Tetapi mungkin, rakyat Singapura atau Malaysia tak perlu merasa peduli dengan keadaan yang dialami masyarakat Riau, sebab mereka hidup berkecukupan dan dilindungi negara masing-masing. Bahkan mereka mungkin bisa tinggi hati dan besar kepala ketika pemerintah Indonesia melalui presiden SBY meminta maaf. Bah, minta maaf?! tapi apa mau dikata, tingkat kesopanan kepala negara bermasalah ini terlampau besar pada asing ketimbang pada rakyatnya sendiri. Dan mungkin api itu masih membara dalam jiwa-jiwa rakyat kecil yang disingkirkan dari keadilan...

video

Dan hujan, membuat sisa-sisa kebakaran itu lenyap. Hitam arang kembali jadi padang ilalang yang hijau. Hidup kembali berjalan dengan sisa-sisa asap yang masih menggantung di udara. Cericit burung menghiasi langit yang kelabu...

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram