Perlindungan Hukum untuk Perlindungan Satwa

Para peserta saat melihat barang bukti hewan yang diawetkan di kantor BKSDA Bali 

Ketika berhadapan dengan satwa, misalnya gajah atau orang utan dan manusia memilih membunuhnya atau dengan serumpun bambu dan manusia memilih menebangnya, kita kemudian bertanya: siapa sih yang harus dipentingkan, hewan apa manusia? pohon apa manusia? Pertanyaan ini tak serupa dengan pertanyaan klasik dan membingungkan tentang mana yang terlebih dahulu diciptakan antara telur dan induk ayam. Jika kita merujuk pada sejarah penciptaan manusia, bumi dan seisinya, maka manusia adalah makhluk terakhir yang mendiami bumi setelah hewan dan tumbuhan yang memang disediakan untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti makan dan minum. Tetapi kemudian manusia ingkar dan merasa dirinya menjadi korban, sementara dirina menjadi makhluk terjahat yang rencana penciptaannya sempat dipertanyakan oleh para malaikat....

Ke kantor BKSDA Bali:
Minggu pertama kerja di **** aku mengikuti sebuah training di Bali, jadi panitia sih hehehe. Training ini begitu spesial karena pertama kalinya aku bertemu dengan para hakim dan jaksa dari beberapa wilayah di Riau, Kalimantan Barat dan Bali dalam rangka belajar bersama mengenai penanganan perkara pidana dan perdata terkiat keanekaragaman hayati. Para hakim dan jaksa tersebut telah mendapatkan banyak pelatihan terkait penanganan perkara penjualan hewan dilindungi secara ilegal, pembalakan liar, kebakaran hutan dan kasus lingkungan liannya. Hari itu, aku seakna menjadi peserta karena hal ini termasuk baru bagiku dan informasi yang diperoleh sangat menantang


Saat para hakim dan jaksa serius mendengarkan keterangan kepala BKSDA Bali sekaligus memperhatikan tengkorak buaya dan seekor penyu yang telah diawetkan

Kepala BKSDA menyatakan bahwa dilapangan banyak seklai oknum yang terlibat dan perdagangan satwa secara illegal dan mereka suka sekali memalsukan dokumen agar bisa lolos pemeriksaan di bandara maupun pelabuhan. Belum lagi tindakan yang kejam dalam proses pengawetan setiap satwa. Misalnya saja Trenggiling. Hewan ini merupakan salah satu satwa liar dilindungi yang menjadi favorit para pelaku kejahatan terhadap satwa untuk dikirim ke China sebagai bahan dasar Traditional Chinese Medicine (TCM). Bayangkanlah bagaimana misalnya seekor Trenggiling sampai di sebuah rumah orang kaya sebagai hiasan sedangkan isi perutnya sudah kosong? apa yang orang-orang lakukan terhadap hewan malang ini? 

Trenggiling yang diawetkan, kasihan...
Para peserta yang antusias memprihatikan dokumen dan para satwa yang diawetkan

Pusat Penyelamatan Satwa (PPS, Bali)
Perjalanan pasca ke BKSDA adalah ke pusat penyelamatan satwa (PPS) Bali yang merupakan sebuah NGO yang banyak dibantu oleh relawan, ketimbang pemerintah. Disana, kami bertemu dengan para relawan PPS dan kami berdiskusi mengenai betapa kejamnya manusia memperlakukan satwa. Bayangkan, jika manusia berteriak HAM atas hal-hal yang merugikan dirinya, maka seharusnya manusia juga mengerti bahwa satwa memiliki hak mereka sendiri sebagaimana tujuan penciptaannya oleh Tuhan. 

Burung Kakatua jambul kuning yang 'cool' banget saat digoda pengunjung. 
Seekor elang yang kehilangan energi dan kebuasannya
Seekor elang yang dilatih untuk menjadi buas sebagaimana sifatnya agar bisa dilepasliarkan ke habitatnya
Seekor burung cantik yang kakinya cacat dan malas berkomunikasi dengan pengunjung
16 ekor buaya yang berhasil diselamatkan dari penyelundupan di penangkaran BKSDA Bali
Surat keterangan isin penjualan satwa resmi
Burung merak jantan di penangkaran yang tak seindah bulu-bulunya
Pada akhirnya, semua terserah pada keputusan manusia sebagai pemilik posisi tertinggi rantai makanan di bumi ini. Manusia memang super kreatif seklaigus jahat terhadap penduduk bumi yang lain. Manusia merasa dirinya superior dan berhak mengatur kehidupan makhluk lain. Tapi, manusia lupa bahwa hidupnya di bumi ini bergantung pada makhluk lain, bahkan seekor belatung yang menjijikan sekalipun. 

Dari training dan kunjungan lapangan ini aku belajar mengenai posisi manusia sebagai bagian dari masyarakat bumi yang semarak dan beragam. Ya, manusia memang cerdas dan dapat melakukan apa saja. Tapi manusia tanpa semua seisi bumu apalah arti manusia? Kita tak lagi bisa mempertanyakan mana yang yang harus dipentingkan terlebih dahulu antara hewan, tumbuhan dan manusia. Sebab, tanpa hewan dan tumbuhan bisa apa kita? 

Tantangan: sebutkan nama-nama hewan dan tumbuhan yang lingkungan rumah dan apa fungsi mereka? selanjutnya kita akan mempertanyakan secara filosofis pada Tuhan: mengapa Tuhan menciptakan mereka. Misalnya, mengapa Tuhan menciptakan kecoa, belatung, kepik, lalat dan tumbuhan bau seperti bunga bangkai? 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram