Pengalaman Bekerja Bersama Masyarakat

Saat menjadi fasilitator dalam lokakarya perencanaan desa di desa Sumur Kumbang, kabupaten Lampung Selatan, Februari 2014. 

Suatu kali aku melamar pekerjaan untuk sebuah posisi yang berkaitan erat dengan masyarakat/komunitas. Dan saat wawancara tatap muka berlangsung, aku merasa terkejut akan diriku sendiri saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari empat pewawancara. Aku merasa begitu optimis bahwa aku bisa meski sebenarnya pengalamanku jauh dari cukup. Tetapi, beragam tantangan harus dihadapi sebab aku harus terus meningkatkan kualitas diri, menambah tabungan pengalaman dan bertemu & belajar dengan sebanyak mungkin orang yang kutemui dalam setiap perjalanan. 

Saat berdiri berdesakan dalam commuter line menuju Depok, aku terus memikirkan tentang pertanyaan-pertanyaan yang diberikan para pewawancara dan jawabanku sendiri. Jika diterima, maka aku akan bekerja di beberapa tempat baru, bertemu orang-orang baru dengan budaya dan kebiasaan yang mungkin baru kuketahui, konsep-konsep baru dan tentu saja petualangan baru. Yang paling kupikirkan tentang itu semua adalah sebuah pertanyaan yang muncul dari dalam kepalaku sendiri: seperti apakah sebenarnya bekerja bersama masyarakat? mengapa semua hal selalu berkaitan dengan masyarakat?

Ya, masyarakat. Selalu saja menjadi objek atas banyak hal mulai dari proyek pengentasan kemiskinan, pemberantasan buta huruf dan penyakit menular, pendidikan hukum dan hak asasi manusia, demokrasi dan kebebasan, kesetaraan gender, seni dan budaya, hingga tentang pendidikan kritis berbasis politik praktis. Masyarakat yang dimaksud dalam proyek-proyek tersebut tentu saja golongan yang disebut-sebut sebagai yang berpenghasilan kurang dari/dan sekitar 2 dollar sehari alias cuma Rp. 10.000-20.000. Celakanya, masyarakat dengan kategori demikian tersebar di seluruh Indonesia mulai dari wilayah pegunungan, desa, pulau-pulau kecil hingga daerah pinggiran kota. Miris memang, sebab sebagian besar sumberdaya alam berasal dari wilayah-wilayah yang penduduknya justru miskin. 

Add caption
Bersama seorang rekan aktivis dan jurnalis saat memenangkan lomba penulisan investigasi tata kelola kehutanan di Lampung, April 2014.

Bonus dari bekerja bersama masyarakat yang paling kusukai adalah pengalaman dan cerita-cerita seru yang kemudian menjadi bahan tulisan. Salah satu tulisan yang kuhasilkan setelah mengikuti training selama 2 hari dan observasi selama 48 jam berhasil menjadi juara 3 dalam sebuah lomba yang diadakan oleh AJI Lampung yang bekerja sama dengan beberapa lembaga lainnya. Sementara tulisan lain untuk lokasi riset yang sama sedang dalam proses penyelesaian dalam bentuk e-book bersama tulisan-tulisan kawan-kawanku yang lain. Ya, itulah bonus yang menyenangkan dan membuatku semakin semangat untuk bekerja bersama masyarakat. 

Lalu kemudian aku bekerja. Ya, bekerja di satu lembaga yang menginginkanku bekerja bersama mereka, sementara lembaga yang lain menolah surat lamaran kerjaku. Dan ya, kembali bersama masyarakat dan pekerjaanya kembali yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Inilah kesempatan bagiku untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan pengalamanku, yang menurutku jauh lebih kaya, dinamis dan jujur dari hal-hal yang kupeorleh di bangku kuliah. Aku akan sampai di tempat-tempat ajaib yang selama ini tak terbayangkan. 


Rekan kerja baru di lapangan
Bersama mereka lah kelak aku akan bekerja. Semoga hidup senantiasa mengantarkanku ke tempat-tempat ajaib, yang memenuhi dahagaku akan keajaiban, petualangan dan nilai-nilai yang terpendam oleh tebalkan polusi era yang modern dan memabukkan ini. 


Aku akan ke beberapa tempat ajaib dalam peta ini

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram