Tell Me that You Love Me



Dia ingin bertemu. Tentu saja aku senang. Dia sedang menyiram suplir saat aku tiba. Dia tersenyum dan mempersilakanku duduk. Sepasang kursi antik dari rotan dan sebuah meja kayu. Beranda yang sejuk. Halaman penuh bunga dan sebuah lampu taman. 

"Mau kopi?" Dia berjalan ke arahku. Dia berhenti satu meter didepanku untuk menyiram bunga berdaun merah di sebuah pot kecil. Aku tak tahu itu bunga apa. Dia berdiri sejenak, memandang halaman. 
"Oh ya, Kopi?" tanyanya lagi. Dia memegang ember kecil dan sebuah gayung. Dia memakai kaos biru bertuliskan "Happy is Happy" berwarna kuning dan rok jeans selutut. Juga sepasang sandal jepit berwarna pink bermotif Hello Kitty. 
"Ya." Tentu saja aku ingin berlama-lama dengannya sambil menikmati kopi. 
"Hm, oke, Aku buatkan dulu ya." Aku mengangguk. Dia masuk ke dalam melalui sebuah pintu yang dibuka setengah. Terdengar suara beberapa perempuan tertawa dari dalam. Oh, mungkin mereka sedang nonton kartun. 
Setiap datang ke rumah kosan ini dan duduk di kursi antik yang sama aku merasa tenang. Halaman yang penuh bunga, yang kadang-kadang bisa kucium wanginya membuatku betah. Dan terutama karena Dia tinggal disini. Sudah 3 tahun dia tinggal disini. Dia suka sekali merawat taman dan setia berbicara pada bunga-bunga menjelang mekar. Aku jadi tersenyum mengingat momen-momen itu. 

Tak lama Dia datang. Dua cangkir kopi. Aromanya begitu manis. Cocok dengan langit yang dingin dan kelabu. Juga sepiring singkong goreng yang telah direbus sebelumnya. Camilan yang selalu kusukai sejak kecil.  
"Kamu dari kantor?" tanyanya. suaranya renyah. 
Aku sedang menikmati singkong goreng. Aku tersenyum. 
"Ya." Kataku. Lalu aku menyesap kopiku. Pahit, manis dan gurih bergumul di ujung lidah. 
"Kamu ngapain aja hari ini?"
"Hm, aku? beres-beres." Katanya sambil tersenyum kecil. Aku suka pipinya saat Dia tersenyum. Manis sekali. 
"Hm, kamu pernah dengar kata-kata ini? hm, begini kira-kira 'a goal is a dream with a deadline'?" Dia memandangku. Tepatnya menatapku. 
"Ya. Itu kata-kata Napoleon Hill yang suka digunakan banyak orang sebagai penyemangat kalau mereka sedang down." Aku menyeruput kopiku. Nikmat sekali. Tubuhku jadi hangat. Dan berbau kopi.
"Oh." katanya.
"Mengapa memerlukan deadline?"
"Supaya kita fokus menggapai tujuan. Hidup kan bukan main-main."
"Oke. Apakah semua orang sukses begitu?"
"Hm, tidak juga?"
"Contohnya siapa?"
"Cinta Laura?"
"Dia tak punya limit. Dia sempurna. Dia punya segalanya."
"Dia bersusah payah. Sama seperti yang lainnya."
"Sama dengan Merry Riana?"
Dia menyukai Merry Riana. Dia menyebut perempuan penyuka warna merah itu pemberani. 
"Tentu saja tidak. Tentu saja mereka berbeda."
Ya, siapa yang tak iri dengan keberuntungan Cinta Laura? 
"Oh.."
"Tapi, keduanya punya deadline dan berdisiplin tinggi."
Ya, Cinta Laura baru saja lulus cum laude dari kampus canggih di Amerika. Siapa yang tak iri? kaya, cantik, cerdas, terkenal, baik hati dan entahlah...
"Ya, aku tahu. Oh, kopimu dingin. Mau kubuatkan lagi?"
"Tidak usah."
"Oh." Dia memainkan kuku-kukunya sambil memandangi lantai. 

Beberapa saat, Dia diam. Dia memandangi halaman dengan mata yang resah. Aku jadi memandanginya. Ingin memandanginya terus. Dia manis meski saat ini sedang resah. Sepasang matanya bergerak-gerak gelisah. 
"Kamu kenapa?" Aku bertanya penasaran.
Dia masih saja diam. 
"Apakah dalam tubuh kita semua hidup 99 ruh Tuhan dan satu ruh Iblis?"
Aku terkejut. Pertanyaan macam apa itu?
"Apakah Tuhan ada 99?" Aku balik bertanya
"Hm, tentu saja tidak. Apakah kamu bercanda? Jika Tuhan ada 99 mereka akan berperang."
"Ya tentu saja begitu." Kataku. Kami tersenyum dan saling menatap. Aku merindukannya. 
"Ya. Dan Tuhan akan mencincang dirinya untuk tujuh milyar manusia agar bisa melawan 1 iblis. Ya, Tuhan tidak mungkin demikian, hm..." Katanya
"Tuhan tidak melawan Iblis." Kataku.
Dia menatapku, terkejut dan tersenyum. Sepasang matanya menjadi garis hitam. Dia manis.
"Oh ya, aku lupa." Katanya. 

Dia diam lagi. Matanya bergerak resah. 
"Hm, apa yang paling kamu sukai di negeri ini?" Tanyanya. 
Aku cukup terkejut dan diam cukup lama karena heran. Aku suka banyak hal di negeri ini, tentu saja. Kenapa Dia bertanya begitu?
"Semua. Semua aku suka." Kataku bersemangat.
"Oh. Yang konyol dan bodoh juga?" Keningnya berkerut.
"Hm, tidak. Aku suka yang bagus-bagus saja. Yang konyol bisa dimaklumi kok."
Dia mengangguk. Tersenyum kecil lagi. 
"Kalau aku bagaimana?"
Kenapa pertanyaan Dia semua aneh sih hari ini?
"Kamu?" Sekarang keningku berkerut.
"Ya? apa yang kamu suka dariku?"
"Ya. Apa yang aku suka darimu ya? menurutmu apa selama lima tahun ini?"
"Kamu tahan ya lima tahun sama aku?"
"Cinta. Karena cinta."
"Cinta sekuat itu ya?"
Dia kenapa sih?
"Sedalam apa?"
Oh God!
"Kamu kenapa sih?" aku mencondongkan tubuhku kearahnya. Dia menatapku. Wajahnya manis. Dia cantik. Apakah karena itu aku bertahan bersamanya lima tahun ini?
"Kenapa kamu mencintaiku?"
Ya ampun!
"Kamu kenapa sih? memangnya perlu alasan untuk mencintai kamu? kamu sudah tahu alasanku selama lima tahun ini." Aku mulai tak sabar.
"Hm, banyak orang bilang kadang mencintai tak perlu alasan, tak perlu waktu lama. Tapi banyak orang bilang juga ada banyak, hm, bahkan sampai seribu alasan untuk berhenti mencintai..."
Aku diam. Menatapnya. Tak ada kata-kata.

"Hm, besok aku berangkat ke Meksiko."
Aku diam. Aku begitu terkejut. 
"Kamu ya..."
Dia diam saja.
"Aku diterima kerja di PBB, aku lulus wawancara sebulan lalu. Semua dokumen sudah selesai dan besok malam aku berangkat."
Aku diam. Betapa tak mengertinya aku dengan semua ini. Betapa cepatnya Dia meninggalkanku. Betapa dia tak menganggapku. 
"Tadi siang, aku sudah mengirim semua barang-barangku ke sebuah panti asuhan."
"Panti asuhan?"
"Ya. Hm, kamu tahu kan selama ini aku terlalu suka mengumpulkan banyak barang dan tak sadar bahwa aku tak punya rumah. Jadi, ketika aku pergi, aku harus memberikan barang-barang itu ke orang lain." Dia tersenyum kecil. Senyum yang hambar dan sedih. Aku ingin memeluknya. 
"Kamu kan punya paman."
"Rumah mereka sempit."
Ya, baginya sebuah a house belum tentu adalah a home
"Buku-bukumu?"
Dia bisa menitipkannya padaku. Rumahku akan menjadi rumahnya. 
"Oh, itu kudonasikan semuanya ke sebuah taman baca. Sebagiannya, koleksi langka kujual kepada teman-teman dekat." Dia tersenyum kecil. Senyum yang ganjil. 
Suasana hening. Langit mulai gelap. Lampu taman menyala. Juga lampu di beranda. Aku bisa melihat wajahnya yang sedih. 
"Meksiko..."
Hening.
"Dan kamu akan bertemu dengan Jaz."
"Jaz sudah menikah."
"Jadi kenapa ke Meksiko?"
"Entahlah.."
Aku menghela nafas. Bau kopi. Dia menyeruput kopinya yang dingin. Jadi aku ini apa?

"Aku mau kita putus." Katanya. Tiba-tiba. Intonasi suaranya begitu datar. Langit semakin gelap. Gerimis. 
"Ke Meksiko untuk melarikan diri?" aku tak habis pikir dengan gadis ini. 
"Bekerja, tentu saja.."
Udara perlahan dingin. Uap kopi sudah lama hilang. Aromanya memudar. 
"Atau untuk bertemu Jaz dan kalian balikan lagi?"
"Dia sudah menikah. Dia pindah ke Spanyol. Nggak ada hubunganya antara kerjaan baruku dengan dia."
Aku benar-benar bingung sekarang.
"Kamu.."
"Ya, aku kejam."
Aku hanya bisa diam karena aku marah.
"Kamu terlalu baik. Aku tidak bisa menerima semua kebaikanmu."
Bukankah semua orang suka orang baik?
"Bahkan hari ini kamu nggak marah padaku" Katanya. 
Aku marah! aku marah! aku marah!
"Seberapa besar kamu mencintai dia?"
Dia hanya diam. Menunduk. Memandangi lantai.
"Seberapa besar kamu mencintai Jaz?"
Dia masih diam. 
"Oke, jadi selama ini kamu anggap aku apa?" tanyaku pelan. 
Aku heran dengan suaraku sendiri. Aku tak bisa marah pada gadis ini.
"Jadi ini alasan kamu nggak pernah mau kenalin aku ke keluargamu?"
Dia masih diam. Dia mengunci bukan saja mulutnya, juga hatinya.
"Lima tahun! apakah selama lima tahun ini kita cuma sedang main-main?"
Dia masih diam. Aku berkacak pinggang. Aku marah! Tapi tidak padanya. 

"Kamu kenapa?"
Aku berlutut di depannya. Kulihat sepasang matanya yang berair. Aku tahu Dia tak ingin bicara karena takut menangis. Aku tahu dia tak bisa bicara kalau sudah menangis. Jadi, aku mengenggam tangannya yang gemetar. Seluruh tubuhnya gemetar.
"Meksiko itu jauh. Sangat jauh. Kenapa kamu harus pergi sejauh itu?" Aku melap air matanya dengan tisu. Dia masih mengunci rapat mulutnya. Dia terisak.
"Tak perlu pergi sejauh itu kalau memang kita harus berakhir. Aku nggak maksa kamu." Aku melihat airmata menderas dan memabasahi pipinya yang memerah. 
"Aku merasa aneh dengan hidupku sendiri..."
Dia terisak. 
"Oh. Selalu begitu kan sejak dulu. Hidup memang aneh. Memangnya siapa yang mengerti hidup? Kita hanya berjalan pulang kan? itulah hidup ini. Jangan terlalu serius, ya.."
Dia masih terisak. 
"Tapi, mengatasi keganjilan yang kita rasakan bukan harus dengan melarikan diri kan?"
Dia masih terisak. 
"Aku lelah.."
Ya, aku tahu Dia lelah dengan hidupnya. Mungkin juga denganku. 
"Kamu punya aku. Kamu tahu siapa aku dan betapa aku mencintai kamu. Aku ingin hidup dengan kamu. Kamu tahu itu."
Dia masih terisak.
"Nggak. Nggak bisa. Aku nggak bisa masuk ke duniamu. Kamu terlalu sempurna. Terlalu baik. Aku akan semakin kesepian dengan sikapmu yang demikian..."
"Lalu? Cinta misalnya? kenapa kamu nggak pernah bilang cinta sama aku?"
Dia diam. Wajahnya kini sembab.
"Tidakkah ada cinta yang tersisa untukku? lima tahun aku menunggumu. Katakan sesuatu,  kamu cinta aku kan? please!"
"Aku mau pergi."
Ya, Meksiko. Sebuah dunia yang jauh. 
"Berapa lama?"
Alasan konyol untuk menjauh.
"Entahlah..."
"Tuh kan.."

Aku tidak tahu Dia mencintai atau tidak, tetapi aku sangat mencintainya. Sangat mencintainya. Perempuan ini, yang merasa harus pergi ke Meksiko, yang kucintai selama 5 tahun ini, meninggalkanku. Aku ditolak karena dimatanya aku terlalu baik. Penolakan macam apa itu? Dan saat aku menikmati kopi disela waktu istirahatku, dan kebisingan di luar sana masuk ke telingaku secara perlahan-lahan, Dia sedang diatas Pasifik. Aku rindu padanya...

Bandar Lampung, Juni 2014

Sumber gambar:


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram