Kisah Perempuan REMBANG vs DOLLY



Dalam kontestasi Capres-Cawapres yang makin panas di musim kemarau yang panas tahun ini, dunia politik kita makin membara oleh kisah perlawanan yang dilakukan para perempuan pada negara. Pertama, adalah kisah para perempuan di Rembang, yang menolak diintimidasi oleh perusahaan pabrik semen dan negara dengan alasan mempertahankan hidup dengan terus memelihara gunung Kendeng. Kedua, kisah para PSK Dolly yang menolak dirubah hidupnya oleh perempuan bernama Tri Rishamaharini dengan alasan berjuang untuk hidup sebagai penjaja cinta. Kedua kelompok yang digawangi kaum perempuan ini sama-sama menolak intimidasi negara untuk kehidupan mereka. Bedanya, perempuan Rembang berjuang untuk tanah dan perempuan Dolly untuk kesinambungan rantai pelacuran. 

Jika aku diminta berpihak, maka jelas aku akan memilih membela perempuan Rembang. Sebab mereka berjuang bukan untuk perut mereka sendiri atau keluarga dibelakang mereka, melainkan tentang menjaga Pancasila yang berbicara tentang keadilan sosial. Sedangkan Dolly adalah ironi lain yang membuatku ingin bersuara mewakili para perempuan yang terpaksa bertahan hidup dengan berjualan produk lewat alat kelamin. Jika benar bahwa pelacuran di kawasan itu yang terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, maka suara para PSK bukan sekedar suara mereka sendiri, melainkan rantau yang berbelit yang mungkin juga berhubungan erat dengan konsumen mereka. Kisah para perempuan Dolly pun berkaitan erat dengan Pancasila tentunya, sebab mereka yang meyakini Tuhan apakah mungkin sampai melakukan transaksi yang melanggar perintah Tuhan? Adakah perzinahan mendapat pemakluman di mata Tuhan? 


Kisah para perempuan Rembang adalah kisah heroik rakyat kecil yang hanya punya tanah untuk bertahan hidup dan menghidupi anak cucu sembari memuja alam. Aksi solidaritas mereka pun hanya tergambar dengan senjata berupa caping, pacul, arit dan do'a. Ya, itulah senjata petani di negeri ini. Sebab, saat tanah hilang hilanglah pondasi untuk hidup dan hilanglah harga diri sebagai anak sebuah bangsa. Sedangkan Dolly, para perempuan penjaja seks disana punya pilihan sebab sejak awal mereka tak berjuang untuk tanah. Kampanye mereka yang belakangan diketahui membawa-bawa Tuhan dan 'jihad' menjadi cibiran banyak kalangan sebab seperti meminjam Tuhan untuk berbuat melawan Tuhan. Jika mereka telah punya cukup modal, mereka bisa pergi membuka usaha baru dan legowo dibantu negara untuk menjadi orang baik-baik. 


Hal yang menarik dari kedua kasus ini adalah tentang bagaimana posisi perempuan didalamnya dan bagaimana para pembelanya memposisikan perempuan. Meski kedua kasus mungkin menggunakan tutur perempuan dalam konsep kampanye, tetapi keduanya jelas berbeda. Dalam poster diatas misalnya, perempuan Rembang yang memang petani digambarkan sebagai sosok pejuang yang tegas, gagah, berani dan memiliki percampuan karakter maskulin-feminim. Gambar itu saja sudah bisa membuat kita terlempar pada ribuan bentuk perjuangan serupa dimasa lampau dari berbagai negara dan berbadai era. Seorang perempuan yang berjuang untuk tanahnya adalah perempuan hebat dan cukup maskulin. 

Dan untuk kasus Dolly, dimana para pembelanya tak lain adalah (mungkin) para konsumen, tukang ojek, pemilik warung, laundry dan rumah kos-kosan seakan tak sebanding dengan heroisme kasus Rembang. Padahal, kalau ditilik dari sudut politis kedua isu ini sama-sama besar meski ranahnya bebeda dan 'nilai'nya berbeda di mata para aktivis pembela Hak Asasi Manusia. Kasus Rembang yang berawal dari sebuah investasi untuk pembongkaran gunung Kendeng, dalam waktu singkat menjadi booming karena dikawal para aktivis yang memiliki kans dan media sendiri dalam berkampanye hingga tingkat internasional. Sedangkan Dolly, hanya dikawal sedikit aktivis (mungkin juga tidak) yang mempertanyakan bagaimana nasib para PSK kelak dalam berpenghasilan dan melanjutkan hidup. Memang nampak tak ada hubungannya dengan aktivisme dan heroisme sebuah perjuangan. Banyak pihak pun nyinyir dan ingin para PSK tersebut tobat dengan menerima kompensasi dari negara. 



Tetapi Dolly adalah sebab-akibat dari sebuah rantai yang panjang, dan bisa jadi didalamnya ada praktek perdagangan orang, yang berlangsung sejak puluhan tahun. Dolly menjadi tempat hidup bagi banyak orang, yang tidak hanya berkaitan dengan bisnis alat kelamin.tetapi hal-hal disekitar Dolly adalah lingkaran yang saling berjejaring dan harus diurai dengan paksa untuk bisa benar-benar lepas dan bersih sesuai dengan harapan banyak pihak. Karena banyak pihak yang bergantung dari bisnis haram Dolly inilah sehingga muncul hal-hal mengejutkan tentang bagaimana kemanusiaan menjadi terluka dan 'jihad' menjadi sebuah pilihan dalam berkampanye. Anehnya, dalam banyak pemberitaan di media, yang hendak berjihad dan membela sampai mati agar Dolly tetap hidup adalah laki-laki, bukan si PSK yang katanya sedang bertahan hidup. Benar-benar menarik. 



Dua kasus ini bukan saja membuat mata kita terbuka tentang besarnya jurang dalam mengakses sumber daya alam antara masyarakat dan pengusaha, juga tentang rantai panjang bisnis yang melibatkan perempuan sebagai objek. Pada kasus Rembang, posisi kaum perempuan menjadi begitu terhormat dan sebaliknya untuk Dolly. Tetapi, dibalik keduanya kita tentu menunggu peran negara. Sebab kita hidup dalam sebuah masyarakat yang telah mengikrarkan diri dengan ikatan Pancasila, bukan masyarakat yang tanpa hukum yang dapat berbuat semaunya. Sebab setiap tindakan tak hanya berpengaruh pada diri sendiri, tetapi juga pada banyak pihak yang bisa terkena dampak positif atau negatif.

Bandar Lampung, Juni 2014

Sumber gambar:



Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram